
Malam ini club kedua yang Leo datangi. Semua yang ada disana seperti sudah ancang-ancang dengan kedatangan pria itu, dan berbaris membuat sebuah benteng pertahanan yang kuat bersama para anggota mereka.
Leo bukan hanya asal serang, tapi Ia juga mencari info pemilik dari club itu dan kesesuaian pemiliknya dengan club yang lain. Ketika mereka dalam satu agensi, maka Leo akan segera datang menghampiri untuk mengorek semua info menganai pemiliknya, bahkan meski hanya pemegang saham sekalipun.
"Aku tahu kau anak Respati. Bukankah kau terlalu brutal kali ini? Apa kau tak takut jika kau akan kembali dipenjara?" tanya seseorang yang kenal dia disana.
"Penjara itu bukan apa-apa, karena aku masih hidup disana."
"Hanya demi seorang gadis? Lucu melihat mafia bucin sepertimu," ledeknya dengan wajah yang amat datar dan tanpa ekspresi.
Leo hanya menelengkan kepala melengkungkan senyum devilnya. Pria yang ada didepan sana tampaknya tersinggung, langsung memasang aba-aba untuk menyerang leo dengan para anak buahnya. Ia geram, akibat kemarahan Leo yang membabi buta itu club terpaksa diliburkan hingga Ia tak memiliki penghasilan.
Pria itu terlebih dulu menyerang dan menujukan arahnya para leo, dan kemudian anak buahnya yang lain ikut menyerang dibelakang. Pertarungan sengit tak terelakkan, hingga suara adu senjata dan pukulan itu mulai terdengar menggema diseluruh bangunan yang ada.
__ADS_1
Pria itu bertubuh lebih besar dari leo, beberapa kali bangga dengan otot itu dan mencoba melayangkan bogem beberapa kali diwajah Leo dengan begitu antusias. Tapi bentuk tubuh memang tak menjamin kekuatan, Leo menangkis tangan itu dan menggenggamnya kuat hingga hingga si pria mengerang kesakitan.
""Katakan dimana pemilik Club ini."
"Aku... Aku pemilik clubnya! Aku!!!" jawab Pria itu dengan wajah yang mulai pias.
"Siapa saja pemilik sahamnya! Apa kau juga ikut dalam perdagangan gadis-gadis?"
"Dia_..." Leo memperlihatkan foto Tama pada pria itu. Sayangnya foto tama sudah mati dan sedikit hancur, hingga pria itu langsung mual dan ingin muntah melihatnya.
"Kau takut? Mau ku buat seperti ini?" tatap sadis Leo menyusuri setiap lekuk tubuh pria itu, apalagi dibeberapa bagian vitalnya. Yang mungkin, sekali sentuh saja ia bisa langsung terkapar dan tak bernyawa.
"Dia... Aku hanya pernah lihat dia saat kemari ingin bertemu seseorang disini. Sudah lama, dan Ia menawarkan anak gadisnya. Itu saja," ucapnya dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
Sepertinya pergerakan maniak perawan itu memang sangat halus hingga sulit untuk ditembus. Pelindungnya juga begitu setia dimana-mana, bahkan rela berkorban nyawa. Entah apa jaminan mereka hingga seperti itu, padahal hanya tinggal menjawab saja maka Leo akan bisa melepaskannya.
Disana saat ini begitu banyak orang tergeletak, tapi mereka masih memiliki nyawa. Leo tak tak meminta anak buahnya menghabisi mereka, karena merea sebenarnya tak tahu apa-apa. Tapi pria itu, masih tetap jadi sasaran utama Leo dengan sejuta pertanyaan yang ada.
"Aku hanya tahu itu. Jika kau ingin lihat siapa saja pemilik saham disini, maka lepaskan dulu dan akan ku perlihatkan semuanya." pinta Pria itu. Leo menatapnya dengan begitu datar, lalu perlahan Ia lepas cengkraman itu darinya. Bahwa sekali saja berusaha kabur, leo tak akan pernah mengampuninya.
Keduanya berjalan dan pria itu ada didepan menuju ruangan miliknya. Ia benar-benar mencari semua dokumen club miliknya, disana tertulis siapa saja pemilik saham. Tapi memang disana semua dirahasiakan dan disamarkan namanya, yang jelas mereka adalah pengusaha kelas kakap.
"Mr. J..."
"Aku dengar dia pemilik sebuah perusahaan ekspedisi. Tapi hanya itu, dan selebihnya aku tak tahu. Kami jarang bertemu," ujarnya.
Leo hanya diam, Ia meraih sebuah pisau yang sejak tadi ada ditangannya, lalu Ia menggoreskannya ke leher pria itu tanpa aba-aba. Goresan kecil namun benar-benar tepat dibagian vital tubuhnya hingga ia langsung terkapar disana.
__ADS_1