
"Jam kerja kamu gimana? Aku tahu, kalau itu dunia malam yang tak kenal waktu." Bella mengusap kepala Leo yang masih bersandar di dadanya saat ini.
"Ya... Mengenai itu, mungkin aku akan jadi kelelawar setelah ini. Malam bekerja, dan siang akan dirumah untuk tidur. Tapi waktunya fleksible, karena juga harus siap dipanggil kapan saja oleh mereka."
Bella hanya bisa menarik napasnya sejenak karena itu sudah keputusan calon suaminya itu. Ia hanya bisa mendukungnya sembari memberi kepercayaan pada Leo untuk bekerja sesuai dengan bidangnya saat ini. Berusaha agar tak banyak menuntut apalagi masalah waktu yang pasti akan sulit untuk mereka bersama.
Dan seperti yang baru saja dikatakan, jika leo harus siap dipanggil kapan saja. Kini, sebuah panggilan datang padanya untuk kembali ketempat kerja secepatnya.
"Kau lihat?" Chio memamerkan sebuah panggilan dari bosnya pada bella.
"Iya," Bella yang pasrah akhirnya turun dari pangkuan Leo dan duduk kembali dengan santai di sofanya. Ia pergi mengambilkan kemeja leo yang lain, yang lebih bersih agar ia lebih nyaman untuk bekerja.
__ADS_1
Bella bahkan melayani Leo dengan sebaik-baiknya untuk memakaikan semua dengan rapi. Hingga Leo siap bekerja, dan Ia sempat mengecup kening Bella hingga waktunya berangkat.
"Kunci saja pintunya, aku bawa kunci cadangan." ucap Leo yang langsung dibalas anggukan Bella.
Gadis itu menuruti maunya Leo, mengunci pintu dan segera masuk kedalam kamarnya. Mereka belum sepakat, mana kamar Leo dan mana kamar bella. Tapi bagi mereka sama saja, dan mungkin akan lebih sering tidur bersama setelah ini.
Bella berbaring dengan perasaan yang begitu bahagia. Ia sejenak menutup seluruh tubuh hingga kepalanya, dan Ia buka lagi sembari tertawa renyah mengingat ucapan Leo padanya. Sangking gemasnya, Ia bahkan berguling-guling tak karuan diatas ranjangnya.
Harapan untuk masa depannya semakin mendebarkan. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali merasakan sebahagia ini, yang bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya rekahan senyum yang tergambar dari wajah dan binaran dari matanya.
Rasanya Ia ingin berteriak sekuat tenaga mengekspresikan semua rasa yang ada. Ia bahkan salah tingkah, menggeliatkan tubuhnya terus hingga menggelepar bagai ikan yang keluar dari airnya.
__ADS_1
"Aaaaaaaa... Malah ngga bisa tidur," geram Bella. Biasanya jika orang bahagia, maka ia akan tidur dengan pulas dengan mimpi yang indah.
Tapi tidak bagi Bella, yang saat ini justru dihantui terus oleh wajah dan ucapan Leo padanya.
"Apa aku ikut kerja? Jadi pelayan gitu? Iya, biar duitnya makin cepet kumpul, terus makin cepet nikahnya."
Bella seperti orang gila rasanya. Bertanya sendiri, hingga pada akhirnya ia jawab sendiri.. Tapi nanti yang akhirnya adalah jawaban dari Leo, yang akan jadi penentu semuanya.
Leo sudah berusaha menjadi sosok kepala keluarga yang baik dan sempurna, yang begitu bertanggung jawab pada calon isrinya. Memenuhi segala kebutuhan Bella, yang bahkan sudah tampak sejak sebelum mereka memutuskan hidup bersama.
Ya, calon istri. Karena status mereka sudah dipertegas barusan. Meski tanpa sebuah embel-embel kata cinta, tapi semua nyata adanya.
__ADS_1
"Meski aku ingin mendengarnya, tapi aku tak terlalu berharap, Le. Semua rencanamu sudah cukup mewakili semuanya tanpa banyak aba-aba."