
Napas keduanya terengah engah diakhir permainan. Leo mencabut miliknya dari bella hingga Ia mende sah lagi untuk yang kesekian kalinya. Leo menjatuhkan diri telungkup disebelag tubuh Bella dan memeluk perutnya yang rata.
"Aku ngga suka begini, Le. Aku suka kamu yang seperti biasanya, lembut dan sellalu membuat hati aku berbunga-bunga."
"Kamu tahu jawabannya, Bell. Jadi, jangan lagi beitu banyak bertanya. Ucapanku tak terbantahkan, terima apa yang telah kita sepakati." balas Leo yang menolehkan wajahnya pada Bella.
Tampak gadisnya disana masih sulit menormalkan irama napasnya kembali, dahi dahn tubuhnya penuh peluh yang mebasahi dan wajahnya masih amat merah apalagi bibirnya terlihat sedikit bengkak karenanya.
Bella merasakan semuanya, perih, linu dan lemas dibuat Leo padanya. Hingga Ia bahkan tak bisa bergerak meski hanya meraih selimut yang ada. Ia pasrah jika memang harus tidur polos diranjangnya, karena untuk berdiri sendiri rasanya nyeri dibawah sana.
Keduanya tidur bersama dan seling berpelukan erat hingga pagi datang. Bella bangun terlebih dulu bersiap untuk mempersiapkan sarapam untuk keduanya pagi, namun untuk bergerak saja rasanya. Rintiihannya membangunkan Leo, yang langsung sigap membuka matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Leo sedikit cemas, meski Ia tak lupa jika telah mmebuat bella seperti itu.
"Pengen mandi," lirih Bella. Leo langsung beranjak dari ranjang mereka dan membopong tubuh mungil bella kekamar mandi. Bella menolak dan ingin mandi sendiri, tapi leo bergeming dan tetap santai memandikan kesayangannya itu hingga bersih tanpa melakukan hal lain diantara mereka.
Jika menuruti naluri kelelakiannya, mana bisa Leo menolak dengan segala hal indah yang ada didepnan mata. Yang polos dan begitu sempurna. Tapi Ia sadar, Bella saat ini tengah kesakitan karenanya, yang bisa berdiri namun kesulitan untuk menggerakkan setiap bagian tubuhnya.
Bella mengalungkan lengannya dileher Leo saat Leo menyabuni bagian bawah ketiaknya. Saat itu Ia menatap leo yang tampak begitu telaten mengurusinya.
"Kenapa?" tanya Leo dan cukup mengagetkan Bella.
"Masih marah?"
"Masih, kalau kamu masih suka memncing kemarahanku. Lain kali jangan lagi," Bella hanya berdehem dan mengangguk pdanya, lalu berjinjit sedikit mengecup lagi bibir Leo yang ada didepan mata. Namun Ia langsung tertunduk ketika Leo balik menatapnya, mungkin takut jika leo akan kembali memintanya.
__ADS_1
Handuk dililitkan ditubuh indah itu, meski hanya sebagian yang menutupinya. Leo membopong bella kembali kekamar dan mebawanya duduk diranjang, ia lantas beranjak meraih sebuah kaos oblong besar dan sebuah celana pendek dan memakaikannya untuk Bella. Tak memakai B*a, karena Leo tahu jika masih perih didaerah sana karenanya.
"Le, lapar." ucap Bella yang kehabisan tenaga. Bahkan jika bisa memilih, Ia memilih tidur daripada makan, namun rasanya sudah amat tak tahan dan kelaparan.
Leo hanya mengedipkan mata dan mengangguk pelan tanpa sepatah kata. Ia yang hanya kembali berdiri lalu mengenakan celana panjangnya kemudian keluar dari kamar, tampak menuju ke dapur mereka beberapa saat. Kemudian kembali lagi membawa makanan didalam piringnya.
Bella ingin mandiri, berusaha bergerak dan duduk bersandar di tepi ranjangnya "Aahhssst!" rintihnya, yang sepertinya memang amat perih ia rasa. Leo seketika menaruh makanan itu dan membantu bella duduk dan menyuapinya makan malam ini.
Sepanjang suapan yang diberikan, Leo hanya diam dan bahkan tanpa menatap Bella sama sekali. Wajahnyapun datar tanpa ekpresi, membuat Bella semakin tak enak hati.
"Leo... Tatap aku," rengek Bella yang kesal padanya. Tapi Leo tetap diam dan tanpa suara hingga makanan itu selesai dan Leo menyingkirkan piringnya.
Bella melihat bekas gigitannya ditubuh Leo. Separah itu, dan bahkan masih ada titik darah disana. Bella menyekanya, menarik dekat tubuh Leo agar dapat meniup dan meredakan sedikit rasa sakitnya.
"Kamu ngga kerja? Apa karena ini sakit?" tanya Bella yang mengecup luka bekas gigitanya.
Bella terenyuh mendengar itu semua, yang semakin memperkuat rasa bersalahnya pada Leo. Ia menggigit bibir bawahnya, tapi seketika terpekik karena masih perih rupanya. Leo dengan lebut mengusap dan meniupnya, tapi itu justru membuat Bella mendekap tubuhnya dengan erat.
Bella meminta maaf atas semua tindakan cerobohya kemarin, yang hanya karena cemas dan termakan api cemburu Ia nyaris mengorbankan hubungan keduanya. Apalagi saat Leo berkata jika mereka masih saja mencari bella dengan berbagai cara.
"Aku ngga akan ulangi lagi, aku janji." ucap bella setulus hati. Leo mulai menunjukkan senyumnya, lalu meraih dan mengusap rambut bella sesekali mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Ia juga tak segan membisikkan kata maaf ditelinga bella yang langsung membuatnya berbunga-bunga.
"Leo kalau mau berangkat kerja ngga papa, Aku dirumah aja. Kalau perlu kunci aja pintunya dari luar." ujar bella. Tapi Leo juga tak sesadis itu mengurung dan menguncinya dari luar seperti seorang tahanan. Ia akan tetap membiarkannya sepert biasa, namun tetap menekankan kepercayaan itu untuk bella.
Leo menggeleng. Ia berjalan lagi melaksanakan tugas bella pagi ini, membersihkan rumah dan yang lainnya karena bella masih terkapar disana. Semua rasa syukur bella bertambah melihat pria itu dengan segala kegiatannya. Calon suami yang amat bisa ia banggakan meski hanya untuk dirinya saat ini.
__ADS_1
Usai dengan pekerjaan itu, Bella beranjak dari tempat tidur dan perlahan menghampirinya meski sulit. Ia meraih alat pel yang Leo bawa dan memintanya, agar Leo istirhat disofa mereka yang mungil itu.
"Aku bisa berangkat bekerja jika kamu sudah sembuh,"
"Kan daritadi aku suruh berangkat," balas bella.
"Baiklah... Panggil aku jika ada sesuatu,"
"Iya," Bella meraih tangan Leo lalu mengecupnya bolak balik beberapa kali. Leo yang gemas hanya mencubit pipinya tapi pelan, ia tak mau menambah sakit atau perih dari tubuh calon istrinya.
Jaket telah Leo ambil, dan ia pakai setelah pakaiannya rapi. Ia sedikit santai hanya dengan kemeja pendek hari ini. Namun, sesantai dan sesederhana apapun dari Leo, ketampanan itu tetap kentak ada diwajahnya.
Leo berjalan keluar sembari mengecup pipi bella yang tepat didekat bibirnya. Ia berlalu menutup pintu dan keluar menuju tempat kerjanya.
Motor Ia panasnkan, lalu meraih Hp untuk ia mainkan sejenak menunggu motornya siap. Samar-samar mendengar suara langkah kaki yang ada dibelakangnya, datang dan mendekati dirinya tanpa suara. Langkah demi langkah semakin dekat dan Leo mulai menegapkan tubuhnya.
"Sudah sampai kesini rupanya?" ujar Leo dengan suara tegasnya. Berubah mode ketika ia bersama bella.
Ia juga tak akan bertanya pria itu tahu dari siapa, karena yang jelas ia sudah ada didepan mata. Dengusan napasnya terdengar amat jelas, Ia juga tengah memperhatikan leo dari tempatnya berdiri saat ini.
"Gadis itu yang membuatmu betah seperti ini?" Bahkan Pria itu mempertanyakan Bellanya, dan itu langsung membuat leo membulatkan matanya.
**
Promi karya Kak Samudra Lee. Monggo mmapir😍
__ADS_1