Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Le... Pulang, Le...


__ADS_3

Leo berbaring disebuah kamar yang telah dipersiapkan untuknya menunggu. Sementara para wanita itu disana mulai berpesta bersama para penyewa yang adan. Dan bahkan bukan hanya dari hotel dan club tempatnya bekerja, melainkan dari beberapa tempat yang berbeda dan saling bekerja sama. Mungkin selera mereka berbeda-beda, dan atau bahkan sudah memiliki wanitanya sendiri hingga begitu sulit untuk berpaling pada kenikmatan yang lainnya.


"Le, Leo..." panggil Ane dengan beberapa makana ditangannya. Ia takut leo bosan atau bahkan kelaparan, hingga dengan begitu perhatian memberikan makanan nikmat yang ada didepan sana untuk sahabatnya. 


Ya, Ane mengira mungkin leo tak pernah memakan makanan itu selama hidupnya hingga Ia menyisihkan untuknya.


Leo yang mendengar suara itu langsung menegakkan tubuhnya. Matanya langsung teerpejam sejenak saat kaget melihat ane yang nyaris tanpa busana hanya dengan kaca mata dan segitiga minim yang menutupi inti tubuhnya.


"Gila Loe," sergah Leo padanya. Tapi Ane cuek saja, toh Leo juga sudah sering melihat milik calon istrinya yang kurang lebih sama dengannya.


" Ngga sempet pake handuk gua. Nih, makanan enak buat loe. Mumpung sempet gua ambilin tadi dari depan. Kasihan boring sendirian," ledek ane padanya. 


Leo menerimanya, duduk dan mulai menikmati semua pemberian ane tanpa rasa curiga. Memang nikmat, karena ia cukup lama tak memakan makanan mahal itu demi Bella dan kehidupan mereka


"Ne?" panggil Leo disela santapannya.


"Ada apa?" 


"Ada lowongan kerja pelayan ngga, dihotel?"


"Buat siapa? Bella?"


"Sebenarnya gue ngga mau bella kerja, apalagi ditempat kita. Tapi, ada alasan membuat gue ngga tenang tinggalin bella sendirian dirumah." jawab Leo dengan alasannya. Ia hanya tak ingin pak hadi nekat menemui bella atau membawa gadis itu pergi darinya. 


"Sangking sayangnya ama dia, ampe ngga boleh kemana-mana?" tanya ane. Ia meraih sebuah kain yang ada untuk menutup sedikit bagian tubuhnya.


Leo menceritakan mengenai bella pada ane, yang nyaris saja mengalami nasib sepertinya dijual oleh ayahnya sendiri hingga menjadi miliknya. Ane memasang wajah sedihnya disana, ikut sedih dengan apa yang bella alami meski masih lebih beruntung dari dirinya karena mendapat leo sebagai gantinya.

__ADS_1


"Gua bisa bantu cariin sih. Apalagi kan, memang sudah berpengalaman jadi waiters diresto. Tapi Lu maunya diresto hotel, apa ditempat kita? Kalau ditempat kita, Gue bisa bantu awasin selagi Lu pergi. Gimana?"


Bukan tanpa alasan, karena melihat ketulusan yang Leo berikan maka ane juga memberi bantuan. Ane tahu rasanya dikejar dengan sesuatu yang tak pernah ia inginkan, tapi ketika telah terjerumus ia sama sekali tak bisa lepas dari sana. 


"Pelayan kan? Gue ngga akan  biarin Bella tersentuh orang lain." tatap serius Leo yang cukup membuat dada Ane bergetar. Seram, dan juga amat serius baginya yang sering mengajak leo bercanda mencairkan suasana.


"Ane! Lu dicari Pak Bara!" panggil rika padanya. Dan lagi-lagi ia dibuat kaget atas keakraban mereka berdua yang begitu sulit ia dapat dari leo untuknya.


"Ngapain Lu nyamperin Leo? Pake bikini pula?" tatapnya sinis.


"Ngga papa, kenapa?" Ane balik bertanya dan membuat Rika sedikit kesal. Tapi bukan ane namanya jika ia tak santai  menghadapi Rika, dan justru malah membuatnya semakin panas melihat mereka.


"Nanti gue kabarin. Loe tenang aja," ujar ane yang berdiri meninggalkan mereka.


 Rika datang dengan tasnya, bahwa pekerjaan telah selesai untuk ronde ini dan meminta Leo kembali mengantarnya. Sedikit gembira saat mendapat waktu dengan Leo untuk bersama meski hanya saat perjalanan.


"Iya, Ane anter barusan. Pengertian sekali gue kelaperan," puji leo didepan rika secara terang-terangan. Rika dengan setia menggunya hingga selesai, bahkan mengambilkan minuman untuknya. Seperti itu hingga leo siap untuk mengantarnya.


Rika masuk kedalam mobil didepan tepat disebelah leo menyetir, "Disini, bolehkan?" tanya nya agak canggung. Tapi ia amat berharap jika Leo membiarkannya disana. Baginya itu adalah sebuah moment langkah dan bahkan indah baginya.


"Siahkan saja," balas leo datar. Ia meraih sabuk pengaman dan memasangnya, dan bersiap untuk kembali kehotel mereka untuk bekerja.


Perjalanan keduanya terasa senyap. Leo amat tenang ketika bersama Rika, tak seperti saat Ia bersama Ane dan memang jauh berbeda. Ia ingin leo memperlakukan Ia seperti memperlakukan Ane sahabatnya.


"Apa yang berbeda, Le?" tanya Rika yang mulai membuka kata.


"Beda apanya?"

__ADS_1


"Perlakuan, antara aku dan Ane. Apa bedanya kami? Aku hanya ingin kau memperlakukan kami sama, Le. Aku juga pengen akrab sama kamu," Rika berusaha mencurahkan isi hatinya.


"Kau ingin dekat denganku sebagai apa?"


Tak menjawab. Justru Rika mengulurkan tangannya pada tangan Leo yang menganggur. Meski dengan gemetar, tapi keduanya perlahan begitu dekat dan saling bersentuhan erat.


"Le... Aku_..."


"Ingin ku turunkan dijalanan? Jika tak pernah ku respon, setidaknya jangan kau perlihatkan keagresifanmu padaku." ucap leo dengan begitu dingin, menusuk amat dalam ke inti hati Rika.


Dengan tatapan Leo seperti itu membuat Rika hanya menundukkan kepala. Ia tak mampu berbicara lagi, menggigit bibir dan hanya membuang muka darinya. Leo pun membalas diamnya dan terus fokus pada jalanan yang ada didepan mata. Jalanan yang cukup lengang, menandakan jika haripun sudah mulai gelap penuh ketenangan.


Sementara itu dirumah susun yang tenang dan nyaman. Si cantik nan lugu Bella tengah menunggu calon suaminya untuk pulang, yang tadi berjanji menyisihkan waktu untuknya disore hari untuk sekedar menonton bersama. Tapi Bella sejak awal tak ingin terlalu berharap, Ia mengerti jika leo tengah sibuk disana dan sudah pamit dengan dirinya.


Bella berjalan masih tertatih, berusaha kekamar mandi dan membersihkan diri untuk menyambut kepulangan Leo untuknya meski tak akan bisa memberi jatahnya malam ini karena segaka nyeri yang masih mendera.


Tok... Tok... Tokkk!


Pintu rumahnya diketuk beberapa kali. Bella sudah antusias untuk membukakan pintu, karena Ia kira leo yang telah pulang secepat ini. Ia sudah ada didepan pintu, hingga akhirnya menahan tangannya sendiri memutar handle yang sudah didepan mata.


"Leo ketuk pintu?" tanyanya dalam hati, yang sempat lupa jika Leo memiliki kuncinya sendiri dan tak akan meminta Bella membukakan pintu untuknya. Apalagi Bella yang ia tahu tak bisa berdiri sejak pagi yaitu karena ulahnya sendiri.


"Ngga... Itu bukan Leo," tolaknya, menjauhkan dari pintu yang ada. 


Bella memundurkan tubuhnya, menjauh dari pintu apalagi saat ketukan semakin kuat dan dalam ritme yang lebih sering terdengar. Kakinya gemetar, akralnya dingin karena ketakutan. Bella seketia teringat ucapan leo padanya, dan kini Ia berharap agar leo benar-benar segera pulang untuknya.


"Le... Pulang, Le..." rintihnya. 

__ADS_1


__ADS_2