Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Ayah sakit, Tuan.


__ADS_3

"Uluuuh, Sayangnya aku rajin banget." goda dan puji Bella pada leo yang tekah mengurus jemuran mereka. Bella telah bersih dan wangi, dan rambutnya basah menambah segar penampakan dirinya. 


"Aku bawa mobil," ucap leo padanya. Bella seketika membulatkan mata seakan tak percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Mobil hotel?"


"Ya iyalah, masa mobil aku. Kapan belinya?" tukas Leo, yang lalu mengajaknya jalan-jalan sore ini untuk melepas penat bersama.


Bella yang kala itu memakai daster andalannya, langsung berlari semangat mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi dan pantas.Ia meraih sebuah kemeja dan celana jeans miliknya, Ia pakai hingga menemukan sebuah keanehan ditubuhnya.


"Le... Leo, sini deh." panggilnya pada Leo yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu segera menghampiri, dan menatap Bella dengan  penuh tanya.


"Lihat, kemejaku sempit disininya." tunjuk Bella di bagian dada, yang memang kancing kemejanya sedikit terbuka. Bukannya menjawab, leo malah terus memperhatikannya tanpa mengedipkan mata.


"Leo!!" panggil bella dengan rengekannya. Ia menunjukkan jika kemejanya mengecil, tapi Leo justru memperhatikan yang lainnya.


"Apa karena jarang dipake, jadinya menyempit?" Pertanyaan itu seketika membuat leo menggelenglan kepalanya. Ia lalu mengangkat kedua telapak tangannya, lalu menggerak-gerakannya seolah tengan memainkan benda kenyal disana.


"Emang bisa bikin gede?" tanya bella dengan polosnya, dan leo hanya menganggukkan kepala.


"Haissshhh... Gara-gara kamu rupanya," tatap sinis Bella padanya. Leo yang saat itu hanya mengenakan handuk sebatas pinggang lalu menarik tangan bella dan memeluknya dengan erat, seolah tak akan pernah bosan untuk terus dekat.


 Dikecupnya bertubi-tubi, kening, pipi dan bibirnya yang tak luput dari sasaran. Bella melepasnya paksa kali ini, lalu meminta pertanggung jawaban karena pakaiannya banyak tak muat hari ini. Dan Leo lupa, memberikan uang tips dari ane untuknya berupa dollar waktu itu. Ia mengambilnya dan memberikan uang itu pada bella.


"Ini berapa?" tanya bella yang tak paham kurs dollar ditangannya.

__ADS_1


"Satu juta lebih jika dirupiahkan. Kita tukar saja ke jasa penukaran, terus kita belanjakan." Padahal Leo bisa saja mendapat layanan khusus dari bank dengan keistimewaan yang Ia miliki. Tapi tidak, karena Ia belum ingin bella mengetahui semuanya.


Keduanya keluar dari rumah, menghampiri mobil yang terparkir dilantai bawah dan segera menaikinya berdua. Leo memanjakan bella lagi hari ini dengan uang yang ada, dan semuanya hanya untuk Bella tanpa ia sentuh sama sekali. Meski awalnya Bella menolak jika uang itu habis dalam sekejap, tapi Leo meyakinkan jika itu memang untuk dirinya.


Leo membawa Bella ke mall, disana bella belanja sesuka hatinya. Ya, walau bukan barang mahal dan menyesuaikan isi kantong mereka. Leo menatap bahagia pada kesayangannya yang begitu ceria hari ini dengan apa yang ia beri.


Usai belanja mereka makan bersama, tetap tenang meski leo tahu ada yang mengawasinya dari pojok sana tepat dibelakang bella. Sesekali leo mencuri pandang kearahnya dan memberi kode untuk pergo dari sana.


"Aku kekamar mandi sebentar," pamit Leo padanya. Bella mengangguk, meski sedikit cemas dengan yang ada disekitarnya. Takut, jika mendadak ada yang menepuk bahu atau justru membawanya.


Langkah kaki leo perlahan tiba toilet mall itu. Dan seperti yang telah Ia duga, jika pria itu juga mengikutinya dari belakang sana. Ia berhenti dengan sopan, disebuah tempat yang menurutnya aman.


"Masih mengikutiku?" 


"Tuan, Ayah anda sakit dan ingin bertemu." ucapnya dengan amat sopan dan tubuhnya membungkuk penuh hormat.


"Malam ini aku akan kesana menjenguknya."


"Bila perlu, saya akan jaga nona di_..."


"Tidak... Dia sudah memiliki penjaga," potong leo yang seolah kurang percaya padanya. Leo lebih memilih roy atau Axe yang menjaga kesayangannya disana, dan jauh lebih bisa diandalkan olehnya.


"Baik," angguk pria itu padanya lalu undur diri dari hadapan tuannya.


Leo yang hanya beralasan lalu membasuh muka agar bella tak curiga. Ia keluar lagi menghampirinya dan menyelesaikan makan bersama yang tertunda.

__ADS_1


"Nanti malam aku balik kerja, kamu dirumah aja. Mungkin, aku pulang besok paginya. Kita bungkus makanan sekalian untuk jaga-jaga kalau kamu kelaparan nanti," tutur Leo panjang lebar pada Bella. Gadis itu hanya mengangguk tanpa rasa curiga karena segala rasa percayanya.


Bella memesan makanan lagi untuk Ia bawa pulang. Hari yang cukup larut itu membawa keduanya ditepi pantai untuk melihat matahari terbenam dengan amat indahnya. Bella sampai ternganga dengan pemandangan yang ada. Ia tak percaya jika memang seindah itu suasana pantai dengan sunsetnya.


"Ngga pernah lihat ini?" tanya leo.


"Terakhir lihat pantai itu umur Tujuh tahun, Le. Waktu masih ada ibu. Itu aja ingatannya samar banget karena udah tertutup ingatan yang lain, dan memorinya seolah sudah terhapus." jawab Bella, berusaha mengingat apa yang tersisa dengan semua kenangan indahnya.


"Sudah kuganti dengan memory baru, Bell. Lupakan memori lamamu yang membawanya kembali pada luka itu," tatap leo yang menoleh padanya. Wajah cantik itu kini diterpa angin pantai yang dingin, dengan rambut yang sesekali menutupi wajahnya lagi dan lagi meski beberapa kali ia singkirkan.


Suasananya yang cukup dingin itu seolah menuntut kehangatan bagi dua insan yang saling menuntut kasih sayang. Bella tahu Leo tengah menginginkanya, dan bella tahu pria itu tengah menahan perasaannya. Ia menggenggam tangan leo dan menyandarkan kepala dipundak lelakinya itu dengan mesra, menikmati detik-detik akhir menghilangnya matahari dan akan segera digantikan oleh indahnya sang rembulan senja.


Leo merangkul pinggang ramping gadisnya itu, dan memang saat ini tengah menahan segala rasa yang membelenggu dari dalam dirinya.


Bella lantas beralih, Ia menarik tangan Leo untuk masuk kembali kedalam mobil mereka. Membawa Leo duduk lalu bella naik keatas pangkuannya dan kini saling berhadapan. Bella seolah melakukan kewajibannya, saat leo juga sudah membuatnya bahagia. Dikecupnya Bibir pria itu dengan lembut sembari meraba belakang kepalanya, cukup ganas dan menuntut diantara keduanya.


"Kau masih sakit, Bell." lirih Leo tepat ditelinganya. 


"Aku yang akan menyenangkan kamu kali ini," senyum Bella padanya. Fikiran leo melayang jauh kemana-mana, hingga Bella benar-benar melakukan ucapannya.


Bella yang agre sif kali ini. Ia yang menyusuri tiap jengkal tubuh leo dengan cum buan hangatnya, bahkan dengan berani menge cupi jakunnya yang naik turun mulai tak beraturan iramanya. Tangan Bella meraih tuas untuk memundurkan kursi Leo hingga memberinya ruang untuk terus turun kebawah menjelajah bagian yang sudah sempit dibawah sana.


"Bella!!" pekik leo, tatkala bella melakukan hal yang tak terduga padanya. Tapi bella hanya tertawa, memainkan sesuatu yang sudah ia buka dan membengkak dibawah sana.


"Nakal!! Kau belajar darimana?" omel Leo meski sembari mendesis dengan segala kenikmatan yang Ia rasakan. Tangan leo juga tak diam, ia meraih sesuatu yang menganggur diitubuh bella dan memainkannya hingga gadis itu juga refleks bersuara.

__ADS_1


 Tapi leo hanya fokus menikmati servis yang diberikan bella, yang membawanya terbang entah hingga langit keberapa. Jika seperti ini, maka ia pastikan tak ada libur baginya untuk segala kenikmatan yang ada.


__ADS_2