
"Arrrkhh! Leo, lepas!" mohon Rena ketika tangan Leo terus mencengkram rahangnya. Itu membuatnya sesak dan tersiksa, apalagi memang tenaga Leo amat kuat seakan tak dapat tertandingi oleh siapapun.
"Aku bisa mati seperti ini. Le-pashhh!!" Tangan ramping Rena menahan tangan leo agar tak semkain kuat mencengkram dirinya yang bahkan kesulitan bernapas saat ini. Leo seperti sudah kehilangan akal sehatnya, dan siapapun tak akan bisa melerainya kecuali gadis yang bernama bella itu.
"Aku sudah diam dan terus mengalah terhadap kalian hanya demi ayahku, Re. Tapi kalian seperti menganggap ini adalah sebuah permainan, dan bahkan tak bisa menghargai arti sebuah kesabaran."
Hingga akhirnya seseorang datang, dan seseorang lainnya memanggil Pak Jay untuk melerai mereka sebisanya. Pak jay datang dan memohon agar Leo melepaskan putrinya, Ia berjanji akan menyelesaikan semua kerja sama yang ada dan segera melancarkan segala perjanjian mereka. Barulah setelah itu Leo melepaskan Rena dari cengkramannya.
Jujur saja, Paak Jay memang amat takut dengan kekuasan Leo dan ayahnya. Ia berusaha meraih hati keduanya dengan Rena, tapi rupanya itu tak memiliki efek apapun untuk keduanya. Mereka memang memiliki prinsip yang kuat, dan tak akan oleng hanya karena bujuk rayu dan kata manis orang lain terhadapnya.
"Aaaah!!" Rena akhirnya bisa kembali bernapas dengan lega meski masih amat sulit untuk memgembalikan iramanya seperti semula.
"Kau kejam, Le." Masih saja Rena bisa mencercarnya, padahal Ia sudah nyaris mati ditangan pria itu jika sang ayah tak segera datang padanya.
"Apa kalian akan selalu bekerja dibawah ancaman? Jika seperti ini, aku akan melakukannya sejak dulu agar semua cepat terlaksana." ucap leo sembari mengancing kembali kemeja yang sudah terbuka.
"Aku cinta kamu,Le..."
"Tapi aku tidak. Bukankah aku sudah mempertegas?" Leo kemudian berbalik, lalu melangkahkan kakinya pergi dari kamar itu, bahkan dari rumah mewah itu tanpa pernah menoleh lagi disana. Ia berjalan dengan langkah tegapnya hingga tiba dimobil dan kembali pulang kerumah sang kekasih.
"Aaarrrrghhh!!!! Aku tidak terima!" amuk Rena didepan ayah dan semua anak buah mereka. Rena bahkan mmebanting semua yang ada didepan mata, menyerak hingga semua tak berbentuk lagi karenanya. Ia sakit hati, dan semua rasa sakitnya seolah tak akan mudah untuk diobati.
"Re, tenanglah. Ayah akan cari solusi tentang masalah ini,. Ayah juga tak terima jika anak kesayangan ayah ditolak mentah-mentah olehnya."
__ADS_1
"Apa? Tak terima apa? Bukankah ayah jsutru baru saja mengemis padanya? Lalu apa yang ayah bisa lakukan untuk Rena? Apa!!" Tangis kecewanya semakin menjadi-jadi saat ini. Ia tak perduli lagi dengan pakaiannya yang nyaris lolos semua dari tubuh indahnya dan disaksikan para anak buahnya disana. Pak Ray beberapa kali membenarkan dan merapikannya, tapi selalu kalah jika Ia mengamuk lagi disana.
"Ayah hanya ingin dia melepaskanmu, Sayang. Jika tak seperti itu, Dia akan terus mencengkrammu seperti tadi. Ayah tak ingin kehilangan kamu," usap Pak jay di mata putrinya, dengan air mata yang terus tumpah membasahi pipi tanpa bisa terkontrol lagi.
"Kamu maunya apa untuk sekarang? Ayah akan lakukan apapun supaya kamu tenang," bujuk sang ayah padanya.Ia memeluk bahkan mengecup kening sang putri dengan segala rasa cinta yang ia miliki.
Rena mungkin memang sudah terjerat dahaganya saat ini. Ia menatap beberapa bodyguard kekar dan tinggi yang ada didepan matanya, lalu Ia menunjuk salah satu yang tertampan disana. "Dia, tinggal disini."
Bodyguard lain segera mundur, membiarkan yang ditunjuk itu tetap berada didepan mereka karena sudah trpilih. Pak jay hanya menganggukkan kepalanya, Ia berdiri lalu pergi meninggalkan sang putri bersama kesenangannya. Begitu juga dengan bodyguard yang lain dan mereka ikut dibelakangnya.
"Siapa kamu?" tanya Rena, karena dia sepertinya anak baru dalam pasukan mereka.
"Tomi," jawabnya dengan suara yang begitu menggoda sukma Rena.
"Saay milik anda malam ini," ucap Tomi ketika Rena mulai merayap ditubuh kekarnya.
"Kok pulang kesini? Pestanya sudah selesai?" tanya Bella yang segera menghampirinya ketika duduk di sofabed mungiil mereka. Hari memang belum terlalu malam dan Bella belum bisa tidur di jam seperti ini, apalagi dengan kedatang leo yang membuat matanya seketika terbuka kehilangan rasa kantuknya.
"Pesta itu menjenuhkan. Aku lebih suka bersamamu disini, boleh?" tanya Leo yang bersandar lega dibahu sofa.
Bella menawarkan minuman, dan Leo meminta segelas coklat hangat padanya. Gadis manis bertubuh mungil itu segera membuatjan minuman spesial untuk sang kekasih, benar-benar ingin memanfaatkan moment mereka bersama malam ini sepuasnya.
Dan saat itu, leo mendapat telepon dari sang ayah yang sepertinya sudah mendengar kabar Leo dan Rena barusan. Ayah mempertanyakan semuanya dan meminta kejelasan dari sang putra agar jelas dan tak terpaku hanya dengan penjelasan salah satu pihak.
__ADS_1
Leo menuruti dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi, bahkan Bella juga mendengarnya disana.
"Ayah menyalahkan Leo?" tanya nya, yang mungkin akan bersiap untuk menerima hukuman lebih parah dari yang pernah ia terima.
"Ayah tahu jika kau memiliki batas sabar. Hanya tak dengan membunuhnya saja itu sudah cukup baik untukmu. Mereka ingin bertemu lagi besok,"
"Baik," angguk Leo padanya. Ia sebenarnya sudah malas berurusan dengan mereka, apalagi jika harus berlama-lama lagi dengan semua urusan yang terus tertunda. Andai buka sahabat ayahnya sejak lama, pasti Ia akan mengabaikan semuanya atau menghentikan semua proses yanga ada.
Leo hanya bisa menghela napas kasar sembari menyisir rambutnya sendiri dengan tangan saat itu. Hingga Bella datang dengan coklat hangat dan duduk disampingnya.
Tak duduk, tapi ia berbaring dengan kaki yang ia taruh diatas paha leo dan kepala disisi lain sofanya. Ia dengan santai bermain hp sementara Leo mengusap kaki mulusnya disana.
Plaak!! Leo mnabok kaki itu dengan wajah sengitnya. Mengomel pada Bella yang tak sopan dengan calon suaminya itu, "Harusnya aku yang begini, dan kamu mijitin aku. Ngga sopan," tukasnya.
"Sesekali, Le. Badanku pegel semua loh. Elusin aja ngga papa," pinta Bella dengan kerlingan mata manjanya. Leo hanya mencebik, kesal tapi tetap mengusap kaki indah itu disertai pijatan-pijatan lembut dari tangannya. Sedangkan bella disana menatap fokus pada hpnya.
Bukan Leo namanya jika tak jahil dengan bella. Tangan itu terus merayap dan terus merayap ke paha dengan segala sentuhan lembutnya, terus turun hingga sekarang sudah mencapai titik indah pada tubuh bella.
"Aaaah!! Leo!" pekik Bella yang seakan mendapat sentruman dahsyat disekujur tubuhnya meski Leo hanya menyentuh dan belum menggerakkan jarinya disana.
"Kau yang memancing, kenapa kau yang berteriak? Hmm?" Barulah tangan Leo menelusup didalam syurga miliknya dan mulai memainkan jarinya disana. Bella mulai menggeliat tak karuan, Ia mengapit tangan Leo dipangkal pahanya dengan kuat berusaha menolak ulah leo dibawah sana. Tapi percuma, karena memang selalu akan kalah tenaga.
Apalagi ketika Bella mulai meremang, rasanya mulai terbang entah kelangit lapisan keberapa hingga Bella mencapai puncak tertinggi membuat bergetar seluruh tubuhnya.
__ADS_1