
Hari sudah semakin larut. Roy pamit pada Leo untuk segera pulang kerumahnya. Ia sendiri memiliki seorang Ibu yang sakit, hingga Ia harus bisa menjaganya sebaik mungkin. Dan ibu aadalah salah satu alasan Roy patuh pada Leo, yakni karena biaya perawatan saat Ia kritis setahun lalu dibayar oleh Leo.
Semua Leo bayar dengan uang hasil taruhan balapan, entah mobil atau motor yang Ia dapat. Ia tak ingin menggunakan harta Ayahnya untuk membantu sahabat, namun sayangnya kadang kebaikan itu dimanfaatkan oleh keserakahan beberapa orang yang tak dapat dipercaya. Bahkan sempat ada yang menjaminkan kekalahan Leo demi uang yang didapat dari pihak musuh. Yang saat itu nyaris mencelakai nyawa Leo dan bahkan menghilangkan nyawanya.
Leo masuk dan segera mengunci pintu usai mengunci motor dan menyalakan sensornya. Ia melihat Bella sudah terkapar tidur dengan begitu nyenya dikasur kecil mereka dengan selimut kain tipis yang ada. Ia membuka kaos oblongnya lalu ikut berbaring disana tanpa mau mengganggu nyanyeknya tidur bella.
Mereka berdua muat dikasur itu, namun sempit dan membuat pergerakan begitu sulit. Apalagi Leo tahu jika Bella termasuk aktif meski sudah memejamkan mata.
"Besok, dirumah baru kita sudah ada kasurnya yang cukup besar dan empuk. Kamu akan makin nyaman tidur dikamarmu nanti." lirih Leo yang berbaring dihadapan Bella saat itu. Tapi rupanya Bella mendengar, dan Ia justru mendekap tubuh Leo dengan tangan kurusnya dan mata masih terpejam.
" Lebih nyaman begini, bersama kamu, Le. Aku maunya begini aja," ucap Bella tanpa membuka matanya.
Leo hanya tersenyum gemas dengan tingkahnya. Ingin memakannya malam ini juga, tapi Ia tahan karena Bella tampak begitu lelah. Apalagi besok mereka akan pindah dari tempat kecil itu menuju tempat tinggal baru mereka. Leo hanya membalas pelukan itu dan mengecup rambut Bella yang masih sedikit basah.
__ADS_1
Keesokan harinya, Bella membuka mata dan melihat wajah Leo untuk yang pertama kalinya. Ia tersenyum menggigit bibirnya sendiri, menatap wajah itu dari atas dan turun ke bibir indah lalu memainkannya dengan jari lentik yang ia miliki.
Rasanya memang begitu tampan dan membuat jantungnya bedebar, menatap Leo begitu dekat tanpa jarak saat ini.
"Bella,"
"Hmmm?" jawabnya tanpa terkejut, saat Leo menegurnya dengan mata terpejam.
"Banguuun, ini udah pagi. Bukannya kita mau izin resign sama pak bran? Terus, kita mau pindahan? Kerjaan banyak, Le."
Bella berusaha menbujuk Leo agar bangun. Ia tak ingin kesiangan karena akan pamit, dan pak Bran pergi hingga mereka menunda semuanya lagi hari ini. Sebenarnya Bella masih ingin bertahan sesuai rencananya semula, namun Ia ingat jika Leo mengajaknya segera pergi.
"Pindah ya tinggal pindah aja. Kita cuma bawa pakaian yang kita punya," balas Leo.
__ADS_1
"Barang-barang?" tanya Bella yang masih kebingungan..
"Tinggal... Ngapain dibawa? Disana banyak barang baru, tinggak nempatin."
Mendengar itu Bella mengerutkan dahinya. Jika tak perlu membawa semua barang, kenapa Ia harus membereskan semuanya hingga begitu rapi seolah mereka akan dibawa pergi. Ia lelah hingga tidur begitu pulas dan tak bermimpi sama sekali malam ini karenanya.
" Ngeselin!" geram Bella, yang langsung bangun dan meloncati tubuh Leo saat itu. Tapi langkahnya kurang lebar, hingga juatru perut leo nyaris terinjak dengan kuat olehnya.
"Aaaarrrrghhh! Bellaaaaa!" pekik Leo dengan segala rasa sakit yang ada.
Gadis itu menutup mulutnya dan segera berlari mengunci diri dikamar mandi. Masih terdengar rintihan Leo disana, tapi Ia hanya meringis didalam sana.
Iseng, tapi itu seperti kebahagiaan tersendiri bagi Bella saat ini.
__ADS_1