
Kabar itu dengan segera sampai ke telinga Leo. Saat itu Ia masih rapat bersama Pak Jay, yang ikut kaget dengan cemasnya Leo disana. Ia mempertanyakan apa yang terjadi, tapi Leo hanya diam dan sejenak menatapnya dengan tajam.
"Aku pergi," ucap Leo tanpa ekspresi. Pak jay hanya diam, Ia memperhatikan Leo yang terus berjalan dengan satu tujuan.
Leo meraih mobil pak Hadi, Ia segera pergi dengan begitu cepat dari sana menuju tempat dimana Roy dirawat.
Ya, Roy saat ini dirawat dengan intensif karena mengalami luka yang amat parah terutama di lengannya karena pukulan brutal yang ia dapatkan..
Untung saja ada Axe yang tengah bertugas melihat mobil Leo dan segera menghampirinya. Ia segera menolong Roy yang tergeletak tak sadarkan diri disana.
"Roy.... Are you okay?" tanya Leo dengan begitu cemasnya. Roy sudah duduk dan membuka mata, meski separuh wajahnya diperban karena penuh luka.
"Maafkan aku mengenai Bella, Le. Aku tak bisa mencegah semuanya. Andai aku yang mereka acungi pistol, aku masih bisa melawan. Tapi saat itu Bella yang diacungi pistol di dahinya. Aku takut jika_..."
"Hey... Aku paham posisimu, tenanglah. Aku hanya meminta petunjuk mengenai pelakunya. Kau bisa jelaskan?"
Padahal leo juga telah meminta beberapa orang anak buan untuk menyusuri setiap jejak yang ada. Tapi keterangan Roy begitu mendukung dan akan mempermudah pencarianya. Meski Leo sudah membaca siapa yang mungkin melakukanya..
" Ayahmu, atau Rena?" fikir Leo saat ini. Karena menurut Roy, ciri-ciri mereka hampir sama dengan yang mengejar Bella kala itu. Apakah mereka satu komplotan?
Leo membiarkan Roy istirahat, tak lupa berterimakasih atas kerja keraanya selama ini. Ia menepuk bahu Roy sebelum pergi, menyusuri setiap jalanan sembari berfikir kemana mereka membawa Bella pergi.
Langkah pertama Leo datang ke kediaman Rena. Ia bahkan diepersilahkan masuk oleh beberapa bodyguardnya dan menemui Rena yang tengah santai berjemur di kolam renang. Ia hanya memakai pakaian dalam yang nyaris mengekspose seluruh bagian tubuh indahnya itu.
"Ada apa?" tanya Rena yang mengetahui kedatangannya.
"Kau membawa Bella."
"Bahkan wajahnya saja aku tak tahu," jawabnya datar, tanpa beralih sema sekali dari tempatnya. "Bagaimana bisa aku membawanya. Kau terlalu mengada-ada."
__ADS_1
Leo mengepalkan tangannya. Sepanjang Ia memasuki rumah itu memang tak Ia temukan sama sekali tanda-tanda adanya Bella. Ia dapat merasakannya, tapi tidak dengan segala rasa curiga yang ada.
Leo beralih dari sana lalu pergi. Ia masih dengan motornya dan mulai berfikir dengan kerasa saat ini. Bahkan ia menelusuri segala aset yang dimiliki rena dan ayahnya, meski Bella belum tentu ada disana.
Tak bisa asal untuk Leo bertindak. Salah sedikit saja Bella yang akan jadi korban mereka, hingga Ia masih harus memaksa diri untuk berfikir dengan jernih.
"Siapapun, datangi club dan semua tempat yang memungkinkan mereka membawa Bella. Dan orang itu... Kabari jika kalian melihatnya." titah Leo pada semua anak buah yang berpencar diluar sana.
*
Bruuugghh!
Tubuh Bella dihempaskan dengan amat kasar diatas ranjangnya. SeorangĀ bodyguard bertubuh kekar yang melakukannya saat itu, membuat tubuh bella seketika nyeri tak tertahan karenanya.
"Kalian siapa?" tanya Bella dengan tatapan nyalangnya. Tapi mereka hanya diam, dan sema sekali tak bersuara.
Hingga mendadak terdengar suara langkah kaki menaiki tangga dan masuk ke arah kamarnya.
"Begitu lama ayah mencarimu. Akhirnya kita bertemu sayang," ucap sang ayah padanya.
Tapi Bella tahu benar, jika Ayah tak mungkin bergerak sendirian. Ia pasti memiliki orang yang ada dan memerintah dibelakangnya.
"Ayah kenapa culik bella begini?" tanya Bella dengan suaranya yang gemetar ketakutan.
Tapi sang Ayah justru tertawa. Ia mengatakan tak pernah menculik bella, dan mana ada seorang ayah yang menculik anaknya sendiri. Dan dipastikan Bella tak pernah bisa ditemukan dengan mudah saat ini.
"Kamu punya hutang dengan ayah, Bella. Kamu membuat ayah selalu dikejar pria itu. Kamu tahu betapa tersiksanya ayah selama ini, yang bahkan nyaris mati ditangan mereka?" cecar sang ayah yang masih juga tak menyadari kesalahannya. Bella hanya menggelengkan kepala, melihat ayahnya yang masih begitu keras hatinya.
" Ayah masih mau jual Bella?"
__ADS_1
"Apalagi? Mereka hanya mau kamu."
"Tapi Bella sudah tak seperti yang dia mau." jawab bella dengan senyum diujung bibirnya.
Pak tama yang tadi memeluk, langsung mencengkram wajah Bella dengan amat kuat. Sakit, tapi Bella terbiasa dengan segala rasa sakit itu hingga sudah tak terasa lagi baginya.
" Apa maksud kamu, Bella? Kau sudah tidak perawan lagi? Siapa yang melakukannya?!" bentak Pak Tama pada putrinya, meluapkan segala amarah yang ada disertai segala rasa kecewa.
"Pria itu,"
"Siapa lagi? Bahkan kami sudah tinggal bersama beberapa bulan ini." jujur Bella yang semakin membuat geram ayahnya.
"Ja laaaang! Perempuan tak tahu diri! Bisa-bisanya memberikan kesucianmu pada pria tak jelas itu! Anak durhaka!"
Pak Tama dengan kuat mencekik leher Bella, tapi gadis itu tak takut sama sekali padanya. It terus tersenyum dan tersenyum puas melihat betapa ayahnya kecewa saat ini.
Wajah panik serta takut itu tergambar jelas dimatanya. Itu begitu indah bagi Bella, sesuai dengan ekspetasinya selama ini. Andai leo ikut melihatnya, pasti mereka akan bahagia bersama dengan pemandangan yang ada.
Akhirnya ada yang menarik tangan Pak Tama. Tubuh itu ia singkirkan menjauh dari Bella agar tak melukainya sedikitpun. Pak tama yang emosi berusaha melawan mereka untuk terus menghajar Bella sesuka hatinya bahkan hingga kehilangan nyawa.
"Lepaskan! Dia sudah durhaka padaku. Dia tak perduli lagi dengan nasib ayahnya."
Bella hanya diam ketika sang ayah yang justru dihajar mereka semua hingga lemas. Mereka begitu kuat, bahkan bisa merontokkan seluruh tulang ayahnya hanya dengan sekali pukulan.
"Kau yang sudah tak berharga untuk kami." ucap salah seorang dari mereka dengan suara besarnya.
Saat itu pak tama sudah tak berbentuk lagi. Mereka menyeret tubuh itu keluar dengan kasar, dan bahkan bella sama sekali tak mampu melihatnya.
"Apa dia mati?" tanya Bella dalam hati. Tapi Ia sama sekali tak sedih bahkan Ia lega telah hilang satu beban dalam hidupnya. Ia juga tak mau tahu, kemana jasad itu akan dibawa.
__ADS_1
Leo yang saat ini tengah berfikir keras diruang kerjanya itu dikagetkan oleh sebuah berita. Ia memperhatikan berita itu, hingga matanya terbelalak dengan gambar yang tertera mengenai keterangan mayat yang ada.
"Tama?" kaget Leo. Dan ia lantas keluar menuju tempat kejadian perkara dimana jasad itu ditemukan.