
Mendengar pujian itu lantas membuat bella bahagia. Ia memeluk tubuh leo dengan amat erat, apalagi saat Leo mulai bergerak perlahan dibawah sana. Tak butuh waktu lama untuk Bella menyesuaikan diri, dan Ia menikmati semua yang leo berikan padanya saat ini.
Leo melepas pelukan Bella dari dirinya, dengan satu tangan membawa tangan bella keatas kepala dan menahannya dengan kuat. Hal itu membuat Leo memiliki akses bebas untuk kembali menikmati setiap inci tubuh bella mulai dari bibir dan turun kelehernya.
Tubuh indah bella naik turun sesuai dengan irama gerakan leo dari bawah sana. Menggujamnya dari tempo lembut hingga cukup kuat untuk membuat bella kembali memekik, apalagi dengan segala aktifitas yang Ia lakukan saat ini dengan sesapan dari bibirnya.
Bella belum tahu, jika banyak jejak merah yang Leo cap ditubuhnya sebagai sebuah tanda kepemilikan.
"Leooo!" Lagi-lagi Bella menyebutkan namanya dengan suaranya yang manja. Terdengar begitu seksi dan menggoda ditelinga Leo saat ini. Apalagi jika Ia tahu bahwa Bella sudah lagi ada dipuncak kenikmatan yang Ia berikan. Terasa mulai kuat dan dalam.
Leo mengangkat tubuhnya dan menatap geliat Bella yang mulai gelisah dan frustasi disana. Tapi Ia tak memberi jeda saat ini, Ia menggempurnya dengan cukup kuat hingga akhirnya tubuh Bella melenting kembali merakan untuk yang ketiga kalinya.
Untuk kali ini Leo tak memberi jeda. Dibiarkannya Bella menjerit sekuat tenaga karena dirinya, bahkan jika Bella merengek terus menyebutkan namanya saat itu. Leo bahkan meraih dan mengangkat pinggul bella, hingga rasanya Bella dihentak dan dihujam dengan begitu dalam dibawah sana ke dinding rahimnya.
Suara mereka bersahutan. Hanya berdua, tapiĀ rasanya begitu ramai disana.
__ADS_1
"Belaaaaa! Aarrghh!"
"Leooo!" lenguh mereka bersahutan. Tubuh Leo ambruk diatas tubuh lemas Bella, mereka mengatur napas bersaam dan Bella mengusap kening Leo yang dipenuhi keringat.
Tak ada sedikitpun penyesalan dihati Bella karena itu adalah Leo. Karena Ia sudah siap sejak awal dengan apa yang Leo katakan pada dirinya sejak mereka memulai semua.
"Kau benar-benar berpengalaman? Sudah berapa gadis yang kau nikmati?"
"Entah, aku tak pernah menghitungnya. Mereka datang sendiri padaku, lalu pergi setelah mendapat kesenangan."
"Mainmu kurang jauh, Bell. Tapi Aku suka, karena kau belum terkontaminasi dengan dunia luar. Kau milikku,"
Berkali-kali Leo mengatakannya, berkali-kali pula Bella tersipu malu mendengarnya. Ia mengecupi kening, pipi dan bibir Leo dengan begitu gemas, tapi memukul wajah Leo saat memberi tatapan smirk lagi padanya.
" Engga, Aku capek. Nanti lagi aja, mau istirahat dulu." tolak Bella padanya. Leo hanya tersenyum mencubit pipi si cerewet itu.
__ADS_1
Lagi pula Ia hanya main-main, karena setelah ini Ia akan pergi untuk mempertanyakan pekerjaan yang ditawarkan seseorang padanya. Gajinya lumayan untuk mereka berdua, meski sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan uang saku dari ayahnya tiap bulan yang hampir 10x lipat.
"Apa kalian akan menemukanku lag? Aku yakin kalian mengawasiku dari kejauhan, dan kita akan bertemu lagi cepat atau lambat." gumam Leo dalam hati.
Ia baru saja membersihkan diri dan merapikan pakaiannya untuk pergi. Bella hanya menatapnya dari ranjang mereka, tubuhnya ditutupi selimut karena masih polos dibawah sana..
" Katanya tidur?" tanya Leo, yang mendapati Bella tersenyum terus melihatnya yang sudah amat tampan..
"Tidurnya kalau kamu udah pergi aja," ucap Bella yang masih berbaring disana. Ia hanya merapikan sedikit rambutnya, dengan senyum penuh goda.
"Jangan menggodaku, Bell."
"Ngga ada... Siapa yang godain? Iih, geer." tawa Bella yang menutup tubuhnya semakin rapat dengan selimut yang Ia pakai.
Leo menatapnya tajam dengan alisnya yang tebal, membuat Bella seketika meneguk salivanya dengan kasar dan gugup. Apalagi saat Leo mulai merangkak naik ke ranjang, Ia meraih dagu dan kembali ******* bibir Bella dengan cukup ganas disana..
__ADS_1
Untung tak berlangsung lama, karena Leo mendapat sebuah telepon untuk segera melakukan pertemuan dengan bosnya ditempat kerja yang baru.