Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Sayangnya akuh


__ADS_3

"Darimana Loe, Le?" tanya Ane.


"Pulang bentar, kenapa?" jawab Leo datar. Ia sama sekali tak melirik pemandangan indah yang ada didepan matanya, saat ane sendiri telah mengganti pakaian dengan yang lebih minim dibanding barusan.


Ane akan menampilkan sebuah tarian striptis dipanggung untuk menghibur para pelanggannya malam ini. Seperti yang semua orang tahu, bahwa ditempat itu memang tak pernah melihat perjalanan waktu yang ada. Semakin malam, maka akan semakin meriah pesta yang mereka adakan.


"Loe punya rumah? Dimana?" Ane tampak begitu antusias mendengarnya.


"Kenapa?"


"Ya, ada lah. Kenapa sih?"


"Tanya aja. Sesekali kan punya temen terus bisa diajak main,"


"Main sono, ama calon bini gue." jawab Leo.


Ane melongo dan menurunkan bahunya seketika. Calon istri? Leo bahkan sudah memiliki calon istri? Begitu lantang Ia mengucapkannya barusan didepan rekan kerjanya itu tanpa sebuah jeda dalam setiap kata yang terlontar. Seyakin itukah leo dengan wanita yang ada didekatnya. Bahkan menurut Ane Leo seperti bukan orang gampang ditaklukan oleh wanita bahkan hingga seserius itu raut wajahnya tanpa pernah mau melirik lagi dengan apa yang ada disekitarnya.


"Gue kira dengan tampang Loe yang cakep diatas rata-rata, Loe itu masih doyan seneng-seneng Le. Apalagi bisa dengan gampang jadi primadona nantinya,"


"Primadona dari apa? Gue udah bosen seneng-seneng. Apalagi dia udah berikans semua hidupnya buat gue. Tinggal gue jaga dengan baik," jawab Leo yang duduk menyulut cerutunya.


Leo dan ane memang cepat akrab, apalagi Ane bukan tipe yang jaim untuk berteman. Dengan segala pengalaman hidup yang ada, Ane yakin jika Leo itu pria yang baik dan dapat diandalkan. Keduanya menikmati cerutu bersama dibelakang sembari ane menunggu panggilan untuknya manggung. Sama sekali tak risih dengan pakaiannya karena sudah terbiasa, apalagi Leo juga tak jelalatan dengannya.


"Nama Loe dipanggiil, kerja sono." 


"Eh iya, itu nama Gue. Bye Le," pamit ane yang langsung mematikan puntung cerutunya padahal masih setengah. Ia juga menyenprotkan parfum kesekujur tubuhnya agar semakin memikat para pria hidung belang yang akan menikmati tubuhnya nanti.


"Siap-siap, Le. Nanti Gue panggil kalau udah dapet pelanggan,"


"Lah... Kalian main dikamar, kenapa panggil gue?" heran Leo.

__ADS_1


"Kadang ada yang dari tempat lain atau mau ketempat lain, dan mereka ajak gue kesana. Tahu kan, buat yang suka nyeleweng?" 


"Oooh, jadi gitu permainan mereka? Baiklah," angguk Leo meyanggupi ucapan Ane. 


Kebetulan setelah itu Leo juga mendapat sebuah panggilan untuk mengantar beberapa tamu yang mabuk kekamarnya, dengan tubuh lunglai leo memapahnya hingga tiba dikamar yang mereka pesan saat itu. Dan dalam kondisi seperti itu, kejujuran dan ketekunan Leo dinilai dengan baik oleh para pelanggan yang ada. Siapa yang tak tergiur jika melihat tas dan dompet dengan isi yang tebal menganggur didekatnya, dan orang tak jujur pasti akan berfikir untuk menguras isinya hingga habis untuk kesenangan dirinya sendiri. Toh, pemiliknya sudah terkapar tak berdaya ditempat tidurnya.


"Kau tak mau uang?" tanya pria paruh baya dalam pengaruh alkohol itu.Dia juga menawarkan pada Leo untuk mengambil jika ia memang butuh dengan jumlah yang Ia inginkan apalagi saat ini Ia mengizinkan.


"Hidupku sudah penuh masalah, Tuan. Aku hanya tak ingin menambah beban masalahku lagi, aku baru saja bekerja disini." jawab Leo. Karena ia paham bagaimana orang yang tenagh mabuk seperti itu. Saat ini beda, besok juga akan beda apa yang Ia ingat atau tak ingat sama sekali dan akan menjadi masalah besar jika Leo tak hati-hati.


***


Bella membuka matanya sejenak dan menatap jam yang ada dilayar hpnya. Dini hari, dan ia bangun untuk mengecek leo dikamar sebelah apakah sudah pulang atau belum. Ia mengikat rambutnya asal karena memang sudah berantakan, lalu berjalan dengan mata yang masih amat lengket untuk membuka pintu kamar yang disampingnya.


Ia menemukan Leo sudah berbaring diranjang kecilnya, memejamkan mata dengan bertekanjang dada. Ia hanya tersenyum gemas melihatnya dalam keadaan lelah seperti itu, semakin tampan dan mempesona dengan sisi dewasanya.


Bella hanya ingin tahu, dan Ia akan segera menutup pintunya ketika itu. Namun, suara Leo justru mengagetkan dirinya karena mendadak terbangun dan memanggil namanya.


"Kenapa, Bell?"


Leo tak menjawab, hanya mengulurkan tangannya dengan mata terpejam pada Bella, lalu memintanya masuk untuk mendekat padanya.


"Aku balik aja, kamu capek kan? Aku, cuma mau memastikan_... "


"Bella_..."


"Iya," Akhirnya bella mengalah dan berjalan kearahnya. Ia naik ranjang dan merangkak, menjatuhkan diri kedalam dekap hangat leo disisa malam itu.


Leo memang benar-benar lelah, terdengar dari suara napas dan wajahnya yang sedikit kusam. Bella tak lagi bertanya atau mengajaknya bicara, hanya kembali memejamkan mata dalam dekap hangatnya yang menentramkan jiwa raga.


Hingga pagi menyapa, dan Bella menggeliatkan tubuhnya yang masih didekap Leo saat ini. Ia menatap wajah itu dengan seksama, lalu melukis alisnya kembali yang tebal dengan jari-jari mungilnya yang lincah.

__ADS_1


"Eh... Masak ah," Ia tersadar jika perutnya lapar dan memutuskan untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua pagi ini. Tak lupa, memberikan morning kiss untuk calon suaminya itu.


Bella merapikan diri, mencuci muka dan menyikat giginya agar lebih segra. Lalu ia turun kelantai bawah untuk membeli sayuran pada mamang sayur yang lewat. Ia merasa sudah seperti seorang istri yang akan melayani suaminya sekarang.


Ia bahkan kadang tersenyum sendiri sembari mengerjakan semua kegiatan yang ada. Memasak dengan tangan sendiri untuk Leo sarapan, dan berusaha membuat leo menyukai masakannya meski sederhana. Karena yang Ia tahu, jika Ia harus hemat sampai Leo gajian bulan depan.


Aroma semerbak itu menyeruak dan masuk kedalam hidung mancung Leo. Rasanya sudah amat lama tak mencium bau masakan rumah yang nikmat dan menggoda jiwa hingga membuat matanya terbangun seketika.


Ia dengan segera membersihkan dirinya lalu keluar menghampiri bella yang tengah sibuk dengan segala aktifitasnya disana. Menatapnya seperti itu, merasakan sisi cantik bella keluar meski penampilannya cukup acak-acakan dipandang mata.


Kecantikan yang selalu bisa menggetarkan jiwa, dan selalu bisa membuat sesuatu berontak dibawah sana. Tapi bukan hanya sekedar napsu yang bicara, melainkan mereka telah saling mengisi satu sama lain didalam hati mereka.


"Kau tak mau aku membantu?" sapa Leo yang cukup mengagetkan bagi Bella. Apalagi Ia cukup fokus dengan masakannya kali ini.


"Aku kira masih ngantuk, jadi ngga aku bangunin. Capek, kan?" tanya Bella yang menyambutnya dengan senyum begitu indah merekah.


Leo menghampiri, dan Ia memperhatikan semua yang tengah dimasak bella pagi ini.


"Kamu keluar?" tanya Leo.


"Ya, gimana ngga keluar? Kan aku cari bahan masak." Alasan yang memang masuk akal, apalagi Leo masih terlelap dan bella tak ingin mengganggunya pagi ini.


"Jangan pergi terlalu jauh, Bell. Diluar sana tak aman, meski kita rasa telah pergi sejauh ini."


"Iya, Le. Aku paham kok. Nanti aku minta tolong beliin sesuatu di minimarket, ya?"


"Apa? Pembalut seperti kemarin? Kamu dapat lagi?" tanya Leo cukup kaget. Pasalnya memang belum lama Bella mengalami datang bulan dan Ia menguruskan karena dismenore yang ia derita sepanjang hari.


"Aaahh... Betapa perhatian sayang aku ini. Sampai tanggal darurat itu Ia ingat dengam baik. Bukan ih... Itu loh, persediaan aja supaya aman dan ngga kebanyakan bolak balik," jawab bella.


Leo seketika meraih pundak dan membalik tubuh mungil itu untuk menghadapnya, dan menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


" Apa Leo?"


"Katakan itu sekali lagi. Tadi itu apa?" tanya Loe padanya.


__ADS_2