
"Ckkk..." Bella hanya memanyunkan bibirnya, lalu masuk kekamar kost dan menutup pintunya dengan keras. Bella membuka pakaiannya dan mengganti dengan baju tidur agar lebih nyaman. Dan lagi, kemeja dan celana jeans yang Ia pakai masih bisa Ia gunakan esok hari karena yang Satunya masih basah Ia jemur diteras depan.
Semoga saja tak ada orang iseng yang mengutilnya malam ini. Karena jika ada, maka Bella akan kehabisan celana untuk bekerja. Tak ada celana jeans lain yang pantas Ia kenakan, semuanya sudah kusam dan nyaris lapuk termakan usia. Itu saja yang ada, Ia harus mencicil perbulan selama Tiga kali.
"Mana ada yang mau ngutil. Barang murahan begitu," gumam Bella disemua prosesnya memejamkan mata. Perlahan Ia tidur, dikasur kecil milik Leo yang cukup nyaman baginya. Entah Leo akan tidur dimana nanti, tapi Bella sudah mempersiapkan beberapa lembar kain panjang yang Ia bawa dari rumahnya barusan.
Lumayan, setidaknya bisa dibuat alas agar Leo tak bersentuhan langsung dengan lantai keramik yang dingin.
__ADS_1
Agak lama setelahnya, Leo masuk kekamar. Ia melihat Bella yang telah tidur dengan amat lelap disana, dan Ia menemukan kain panjang dari Bella dengan sebuah bantal guling dibawahnya.
Sebenarnya Leo belum mengantuk efek tidur siang yang Ia lakukan tadi. Tapi, Ia tetap membentang kain itu dan tidur diatasnya dengan kembali memainkan hpnya. Dan entah kenapa Ia justru membalik badan dan memperhatikan gadis mungil didepan matanya itu dengan seksama.
Ia tersenyum sendiri mengingat tingkah kocak yang sering mereka lakukan dikala senggang. Bahagia, dan tawa lepas Bella saat bersamanya. Senyumnya yang manis, dan suaranya yang sedikit cempreng itu menjadi ciri khas, yang akan selalu bisa Ia temukan meski berada dalam kerumunan.
Oleh karena itu, Ia amat benci jika melihat Bella menitikan airmata untuk kesekian kalinya, apalagi hanya karena tingkah jahat sang ayah. Ia akan menghajar siapapun yang membuat Bella menangis tanpa ampun. Tapi sayangnya Bella akan selalu mencegah Leo untuk bertindak secara brutal dengan kekuatan yang Ia miliki. Dari sanalah, Leo belajar akan arti sebuah sabar dari Bella.
__ADS_1
Setidaknya itulah harapan Leo esok hari pada sahabatnya itu. Tapi sayang, apa yang Ia harapkan tak sesuai kenyataan. Karena bukan senyum, melainkan teriakan dan omelan dari suara cempreng Bella yang membuat gendang telinganya sakit.
"Bangun... Ini udah jam berapa? Nanti kita kesiangan!" Bella berusaha membangunkan Leo dengan terus memukuli pundaknya. Ia bahkan melakukan aktifitas yang harusnya dikamar mandi itu diluar, seperti gosok gigi dan cuci muka.
Namun, Leo amat sulit dibangunkan dengan cara yang sepertu itu meski wajahnya telah diciprat Bella dengan air didalam gayungnya.
" Leo... Ada cewek cantik dan seksi, dateng." bohong Bella. Dan Leo segera merespon, berdiri gelagapan sembari mencari gadis yang Bella maksud saat itu.
__ADS_1
Sontak saja, Bella langsung terpingkal-pingkal oleh prank yang Ia lakukan. Otomatis wajah Leo berubah merah seperti kepiting rebus dengan kepulan asap diatasnya.
"Belaaaaaa!" geramnya kali ini.