
"Aaaarrrrghhhh!" Pria itu terpekik hingga tersungkur kebelakang sangking kagetnya.
Axe langsung memloncat dan melepaskan diri dari kurungannya, menatap mereka dengan senyum penuh puas.
"Bapak, siapanya Bella?" tanya Axe dengan suara wanitanya. Lalu tertawa dibarengi oleh Leo dan Roy dibelakangnya.
"Kalian menipu kami? Breng sekkk!" amuknya dengan wajah yang amat marah.
"Kalian juga menipu kami," Leo membuka koper dan menumpahkan isinya. Memang yang ada diatas adalah lembaran merah, tapi sisanya adalah guntingan kertas yang tak berguna.
"Kau kira akan semudah itu menemukan bella? Apalagi saat kalian tahu jika Bella sudah tak seperti yang kalian inginkan saat ini."
"Apa maksud kalian?!" bentak pria bertubuh tegap itu, namun hanya dibalas Leo dengan senyuman sinisnya. Alisnya naik satu, dengan lengkungan bibir yang indah sebenarnya.
Bella amat menyukai itu, meski kadang Ia takut seketika tatapan mata itu berubah mengerikan hanya dalam hitungan detik bersama kemarahan. Untungnya Bella saat ini tak ada, hingga tak ada yang bisa menahan Leo untuk meluapkan segala perasaannya.
__ADS_1
"Seraaaaang!" titah pria berjas itu.
Yang terdekat adalah Axe, tapi ia bisa menepis pukulan yang datang padanya dengan mudah. Ia bahkan melawan mereka nyaris semuanya, sebelum datang pada Leo disana.
"Ba jing an!" sergah pria itu, yang menatap Leo dengan penuh kebencian. Ia tahu, jika Leo adalah ketua mereka. Dan Ia baru sadar jika leo yang selalu mengawasinya saat ingin mengintai bella dari kejauhan.
"Jangan biarkan yang itu lolos!" titahnya, meminta agar mereka semua berdiri lagi untuk fokus menyerang Leo daripada yang ada didepan mereka.
Kyaaaaaaa!! Mereka bahkan tak segan membawa senjata apapun yang paling dekat, balok kayu atau sekedar besi kotor yang ada disana.
Mereka bukan mafia, hanya jaringan penjual gadis belia seperti Bella. Karena mereka tak memiliki senjata seperti seorang jaringan mafia lainnya. Bisa jadi, mereka masih belum memiliki jaringan besar dikota mereka.
Semua menyerang Leo dengan membabi buta. Axe yang akan maju, tangannya ditarik oleh pria itu dan mengajaknya bertarung berdua dan Axe langsung menurutinya.
Lima banding Dua, dibagi dengan Roy yang ada didekatnya meski semua fokus pada Leo saat ini.
__ADS_1
Suara gaduh itu memecah keheningan didalam gedung tua itu. Beberapa dari mereka tumbang lagi akibat ulah Leo dan para sahabatnya. Bahkan ada yang tak bisa bangun karena kakinya dibuat cidera. Atau bahkan patah karena sepak terjang leo padanya.
Leo seperti singa lapar yanh haus akan da rah lawan, yang selama ini terpaksa tenang menyejukan untuk yang tersayang.
"Jangan pernah ganggu Bella lagi, jika kalian tak ingin lebih parah dari ini."
"Kami sudah membayar bella dengan mahal!"
"Itu urusan kalian dengan tua bangka itu dan bukan urusanku. Jika kau mau uangmu kembali, cari saja dia." balas Leo, lalu mengajak sahabatnya meninggalkan mereka semuanya disana.
"Kau tak_..."
"Membu nuhnya? Aku malas. Nanti Bella mencium aroma aneh ditubuhku. Kadang dia sensitif," balas Leo yang kembali berjalan menuju motornya. Mereka kembali ke rutinitas masing-masing.
Banyak misi yang harus dipecahkan Leo saat ini. Mungkin juga nanti masih ada lagi pertarungan dari mereka yang membalas dendam atas kejadian barusan. Leo memang ingin memamcing mereka keluar, bila perlu pada bos terbesar mereka yang sempat menyentuh bella kala itu.
__ADS_1
Leo bahkan merasakan sayatan dihatinya saat mengingat air mata bella yang tumpah karenanya.
"Tapi aku juga berterimakasih, karena Bella sekarang menjadi milikku."