Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Bagian mana yang menyentuhmu?


__ADS_3

"Aarrrkhh!"


Ane merintih ketika bangun dari tidurnya. Seluruh tubuh itu rasanya nyeri akibat kebrutalan pria tua itu nyaris semalaman. Ia bahkan belum bisa berbuat apa-apa demi menyelamatkan Bella dari pria tua itu, baru bisa menjadikan dirinya tameng dari semua tindakan yang pak tua itu lakukan padanya.


"Mba Ane ngga papa?" tanya Bella yang begitu cemas padanya. Bella sudah mandi, dan karena suntikan obat itu haidnya dengan segera berhenti.


"Asal kamu ngga papa." ucap Ane padanya.


Ane kemudian duduk mengistirahatkan dirinya sejenak. Untung saja usai aktifitas semalam ia nekat mandi untuk membersihkan sisa-sisa pak tua iti dari tubuhnya. Ane segera meminta Bella meraih tas yang ada dimeja, dan Ia berjalan menuju pintu untuk melihat penjaga yang ada disana.


"Aman," ucap Ane, lalu melangkah lagi untuk masuk kedalam setelah mengunci pintunya.


"Hpku, Bell." pinta Ane. Lalu Ia menekan nomor Loe disana, hingga Bella terlihat amay bahagia melihatnya.


"Huusssst! Diem, nanti didengar mereka. Biar aku yang bicara," ucap Ane. Ia hanya ingin menjaga bella agar tak larut dalam kebahagiaan dan justru membuat mereka curiga disana.


Sementara itu Loe masih terus mencari Bella disana. Inisial nama itu membuatnya menghampiri semua manusia tua dengan nama depan J dan terus mencari info tentang bella. Hingga Ia mulai frustasi dan sejenak diam disana. Dan Hpnya berdering, Ane memanggilnya saat itu.


Meski ragu, tapi entah kenapa tangan Leo menjawabnya dengan segera. "Ya, Ne?"


"Leo... Tolong dengerin Gue dan jangan sanggah meski sekali. Cukup dengerin aja," pinta Ane. Dan ia segera memberitahu jika Bella kini ada didekatnya. Mereka bersama dalam satu kamar karena semalam Bella nyaris di per kosa oleh Pak Jay di sela pesta yang mereka adakan.


"Jay!" geram Leo. Ia tahu Jay hanya panggilan karena nama lengkapnya Sanjaya. Ia mengelpalkan tangan, urat rahang ikut menegang dibuatnya. Tatapannya begitu dingin dan tajam, untung saja ia balum menyakiti banyak orang setelah ini. Padahal Rena saja berkilah sembari tertawa ketika ia menanyakan keberadaan sang kekasih padanya.


Mama mungkin rena tak tahu geliat jahat sang ayah dibelakang sana. Atau, memang hanya trik mereka saja.


Ane saat ini tak memberi kesempatan Bella bicara demi mempersingkat waktu. Tapi Ia dengan sigap memberi alamat lengkap dimana mereka berada saat ini. Setelah itu ia segera mematikan hpny dan menghapus nomor Leo dari kontak dan riwayat panggilannya. Ia cari aman, agar tak banyak korban lagi berjatuhan.

__ADS_1


"Kita tenang. Berusahalah seolah tak terjadi apa-apa, okey?" pinta Ane, dan Bella seketika mengangguk padanya.


Ane tahu bella lapar pagi ini, dan Ia akan mengambilkan sarapan untuknya diluar sana. Ia juga tak membiarkan bella keluar entah apapun alasannya. Ia akan melindungi bella untuk Leo, karena ia berhutang banyak padanya.


Bahwa Leo diam-diam membayar lunas biaya kuliah adiknya yang menunggak disana, bahkan untuk keperluan lainnya. Adik Ane tinggal harus fokus untuk wisuda, dan janjinya mereka akan hidup bersama setelah ini dengan hidup baru mereka.


Ane kemudian kembali ke kamar dan memberikan sarapan itu pada bella. Gadis itu menyantapnya dengan lahap dan cepat. Ia yakin setelah ini Leo akan datang untuk menjemputnya, dan menghajar habis mereka semua yang sempat menyakitinya.


"Mba ane udah makan?"


"Udah, tadi cepet-cepet dibawah." jawabnya.


Saat itu Bella mulai cemas lagi. Haidnya sudah benar-benar berhenti saat ini, dan Ia takut jika Pak jay mendadak datang untuk melahapnya. Melihat Ane saja ia ngeri dan rasanya trauma sendiri.


Leo memang pernah brutal, tapi ia tak sekejam itu. Bella serasa baru melek dengan dunia luar, padahal dulu sempat tak percaya jika diluar ada yang begitu parah seperti yang ia lihat semalam.


Bella bergerak, dengan perlahan ia membukakan pintu itu dan Pak jay dengan sigap mendekapnya penuh dahaga. Bella memekik, tapi jempol besar pria itu segera. Memasuki mulutnya.


"Nikmati... Atau kau sudah terbiasa dengan yang lebih besar dari ini? Bagaimana dengan milik kekasihmu itu?" tanya Pak jay yang kembali menggila.


Bella hanya menggelengkan kepala. Ia nyaris muntah dibuatnya, berusaha keras mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Tapi Pak jay lebih kuat, ia segera mendorong tubuh mungil itu untuk segera jatuh keranjang dan segera mengungkungnya.


"Pak, jangan..." lirih Bella, menghindari kontak mata padanya.


Tapi tua bangka itu sudah diselimuti bi rahi. Ia tak perduli dengan raungan bella padanya ketika tangan keriput mulai bergerilya disana. Sayang sekali ane diseret keluar dengan segera hingga tak dapat menolongnya.


"Le... Cepet dateng, Le. Aku mohon," isak tangis bella ketika pak jay semakin ganas padanya. Tubuhnya geli, air matanya sudah keluar membasahi pipi.

__ADS_1


"Pak... Jangan," rengek Bella yang mulai ingin melawan, tapi pak jay begitu kuat untuk menahan tangan mungilnya hingga tak dapat lagi bergerak sama sekali.


"Aarrrkhh... Toloooong! Jangan sentuh saya lebih dari ini."


"Munafik! Padahal kau sudah memberikan tubuhmu gratis pada pria itu. Lalu apa bedanya? Kau bahkan lebih murahan dari wanita tadi, karena menjual jasa dengan tubuhnya."


Sakit hati Bella mendengarnya. Remuk dan terpatah-patah rasanya. Bella hanya bisa diam dan terus menangis dengan apa yang ia terima, bahkan ia bingung harus berdoa apa dan bagaimana untuk saat ini.


Braaaa!! Pintu dibuka dengan paksa.


Pak Jay langsung memejamkan mata dan mengepalkan tangannya disana lalu tepaksa menghentikan aksinya.


Tapi ketika Ia tahu siapa yang datang, Ia justru dengan brutal merobek semua pakaian yang bella kenakan.


"Hentikan atau peluru ini bersemayam dikepalamu!" ancam Leo padanya.


"Leo..." lirih tangis bella ketika menatapnya. Ia benar-benar berantakan saat ini, dan melihat kemarahan yang amat luar biasa dari matanya.


Tapi beda dengan pak jay. Meski ia mengangkat tangan, tapi tawanya menyeringai memenuhi ruangan. Mungkin ia belum sadar, jika para anak buahnya sudah Leo lumpuhkan dibawah sana.


"Bella!" Leo memanggilnya, dan Bella segera berlari mendekap tubuh leo saat itu dan Leo mengusap bahunya.


"Kau tak apa?" tanya Leo padanya, tapi tetap dengan pistol dan tatapan mata tajam kearah lawannya.


"Bagian mana yang menyentuhmu?" Bella menunjuk kearah belakang, tepat pada tangan kasar itu yang telah berani menjamag tubuhnya.


Dorrrr! Leo langsung menembaknya hingga satu jari lepas dari tangan itu. Pria itu segera meraung sekuat tenaga melihat tangannya yang terluka, tapi entah kenapa tak ada satupun yang datang untuk menolongnya disana.

__ADS_1


"Pelindungmu, sudah jatuh ke tanganku." Tatap tajam Leo padanya


__ADS_2