Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Cenud-cenud.


__ADS_3

"Sudah?" tatap Leo begitu tajam pada bella ketika keluar dari kamar mandi itu. Ia masih mengenakan handuk yang hanya terlilit dibagian dada, dan Leo memperhatikannya dengan begitu tajam.


"Ngapain lihat-lihat?" Bella menutupnya dengan kedua tangan.


"Katanya Kau milikku. Dan itu... Juga pastinya milikku," tunjuk Leo dengan bibirnya.


Bella berusaha membuang wajahnya dari Leo yang terus menggoda. Apalagi saat Leo semakin mendekat dan terus mendekat padanya, berusaha mundur hingga tubuhnya menghimpit ke dinding.


" Aaakkkhhh!" punggung Bella tersentak dibuatnya. Tapi Leo seolah tak perduli dan terus mendekat hingga mereka tanpa jarak saat ini.


Sebuah ibu jari besar mengusal bibir basah dan dingin itu, lalu meraih dagunya mendekatkan keduanya semakin erat hingga debaran jantung Bella sampai terdengar begitu kuat bagi Leo saat ini.


"Leo inget kita mau pindahan," ucap Bella dengan cepat, saat bibir Leo sudah nyaris mendarat ke bibir miliknya.


Leo hanya bisa mendengkus kesal sembari memainkan bibirnya sendiri saat itu. Lalu tangannya melepas Bella untuk menggaruk lehernya sendiri dengan wajah penuh kecewa.

__ADS_1


"Ini masih pagi, dan urusan kita banyak. Bukankah perjalanan kita jauh?" tolak Bella dengan amat lembut sembari mengusapi dada Leo yang bindang didepan matanya.


"Hmmm..." jawab Leo seadanya. Ia kemudian meraih handuk yang terdekat dengannya kemudian berjalan diam menuju kamar mandi. Pintu ia tutup cukup kuat, mengagetkan Bella hingga rasanya tak enak hati kini.


"Ya... Ngambek," lirih Bella. Tapi memang urusan mereka banyak, dan sepertinya harus ditunda nanti untuk permainan itu.


Bella masih begitu polos, tak tahu jika rasanya akan menjadi sakit dan membuat cenud-cenud jika Leo sudah ingin namun tak dapat menuntaskannya dengan segera. Bahkan Leo bisa meluapkannya untuk hal lain nanti.


Leo mengajak Bella sarapan diluar hari ini. Dengan nasi uduk sederhana yang ada diujung gang sana, lumayan membuat mereka kenyang untuk menghadapi hari ini. Apalagi pasti tak dapat jatah makan siang karena resign. Gaji pun entah, mereka tak mau terlalu banyak berharap untuk itu semua.


"Resign?" tanya Pak Brand pada keduanya yang menghadap pagi-pagi. Sebenarnya sudah terendus dari geliat masing-masng, namun Ia tak menyangka jika akan secepat ini mereka meminta pindah bersama.


"Le... Kenapa kamu ngga bilang sama aku?"


"Terus, kamu akan apa?" tanya Leo yang fokus menatap bosnya didepan.

__ADS_1


"Engga," geleng Bella. Ia akhirnya tahu alasan Leo ingin mengajaknya segera pindah.


Pak Brandon memberikan sebuah amplop untuk Bella. Yang semua orang tahu, jika itu adalah gaji yang entah sisa atau hanya sebuah pesangon.


"Ini untuk Bella karena sudah bertahun-tahun disini. Dan Leo, kamu baru setengah tahun jadi_..."


"Ya... Saya paham, Pak. Izin yang diberikan dengan mudah itu sudah cukup, karena setelah ini Bella tanggung jawab saya." jawab Leo, dan itu membuat Pak Brandon semakin yakin menitipkan anak kesayanganya itu pada pria ini.


Bella kemudian meraih amplopnya. Leo menggandeng tangannya untuk pergi setelah memberi penghormatan terakhir pada bos mereka. Sedih, berat, dan rasanya tak ingin pergi dari tempat yang sudah membesarkan dirinya itu.


Tapi bella yakin, jika Leo benar-benar akan melindunginya setelah ini.


"Ya... Setelah ini aku akan menumpang hidup padamu, Bell. Lalu apa bedanya aku dengan pria tua itu?"


"Ayah?" tanya Bella. "Ya beda lah, Le. Jangan ditanya bedanya, karena memang jelas beda." jawab Bella yang kini tengah membereskan beberapa barang diloker mereka.

__ADS_1


Ia juga sempat duduk menghitung uang yang Ia dapat. Dan siapa sangka jika mendapat gaji penuh bulan ini dengan sedikit bonus pesangon.


Dan jujur saja, baru kali ini Bella merasakan memegang gajinya secara utuh seperti itu tanpa rasa takut. Karena biasanya dirumah akan langsung direbut ayahnya dan hanya sedikit bagian bella yang diberikan.


__ADS_2