
Tangan Leo semakin lincah dan intens mera ba seluruh jengkal tubuh bersih itu meski masih mengenakan setelan lengkapnya. Namun, tangan besar itu perlahan menelusup masuk kedalam kaos oblong milik Leo yang tengah bella pakai saat ini. Karena longgar, Leo tak perlu susah untuk masuk kedalam sana.
Tatapan Leo memberi sebuah pertanyaan, dan langsung dijawab anggukan bella meski masih begitu gugup dengan apa yang leo lakukan. Memang terasa sangat profesional, dan sentuhan, kecupan, dan semua yang Ia berikan pada bella saat itu.
Kleeekkk! Pengait yang ada dibelakang sana Leo buka hanya dengan satu tangannya, sementara tangan lain menopang diri dimeja yang diduduki bella. Gadis itu terkaget dan seketika menaikkan bahu dan membusungkan dadanya.
"Leo?" lirih Bella. Leo hanya kembali tersenyum dan kembali menyerang ceruk leher dan terus turun kepundak, dengan tangan mahir yang bergerilnya disana membuat sipemilik benda mulai gelisah tak karuan rasanya.
Ssssssstttt! Ia mendesesis seperti ular dan menggigit bibirnya menahan semua rasa yang ditimbulkan.
"Rasanya tambah besar? Iya kah?"
"Itu perbuatanmu. Jangan-jangan... Aaaahhh! Nanti akan makin besar bagaimana?"
"Aku suka,"
"Tapi akan banyak pria yang melirik. Kau posessifhhh... Leeooooo!" lenguh manja Bella saat Leo memainkan area paling sensitif dibenda bulat itu.
__ADS_1
Leo hanya tertawa lepas karenanya, bahkan sudah siap menundukkan kepala untuk kembali memberi sentruman hebat untuk Bella. Bella bahkan sudah mengambil posisi menahan tangannya dibelakang agar Ia tak tersungkur.
"Leoooo! Le... Loe didalem?" panggil seseorang yang amat Leo kenal meski hanya dari suaranya. Namun kali ini suara motornya tak terdengar, hingga suara itu cukup mengagetkan Leo yang tengah menikmati aktifitas nikmatnya.
"Haissshhh! Royco!" geram Leo yang langsung mengusap wajahnya kasar. Sementara Bella langsung meraih pengait itu untuk Ia pasang kembali.
"Kan, makanya lihat kondisi."
"Lagian tadi kondisinya mendukung. Mana tahu ada yang mau ganggu," balasnya kesal. Bella langsung menurunkan tubuhnya dari meja itu, lalu ia kembali membereskan semua yang masih berantakan didepan matanya. Sementara Leo masih diam, mematung dengan segala rasa yang masih mengganjal dihatinya.
" Le.... Ooooo, Leoooo!" panggilnya lagi, dan kali ini dengan mengetuk pintu kost kuat-kuat.
"Tuh, kan... Ada dirumah? Daritadi kemana aja, dipanggilin juga." tanya Roy tanpa sama sekali merasa bersalah dengan kelakuan dirinya. Cengar cengir padahal Leo memberinya wajah super datar.
"Nihh...." Roy memperlihatkan sebuah kunci kontrakan baru padanya.
"Apartemen kecil, mayan buat berdua. Ngga terlalu mahal, tapi nyaman."
__ADS_1
"Rusun?" tanya Leo yang melihat tulisan dikunci itu.
"Iya, tapi bagus. Ngga sesek, ngga kotor, dan termasuk hunian nyaman. Sesuailah, dengan apa yang Loe mau." imbuh Roy saat itu. Ia juga sesekali melirik kedalam mencari sosok Bella, yang Leo lindungi sebaik mungkin dan Ia belum pernah melihatnya.
"Nyari siapa Loe?"
"Nyari bini Loe, mana?"
"Bini?" sinis Leo, lalu memanggil Bella yang tengah melipat beberapa selimut untuk Ia bawa besok.
Bella yang mendengar panggilan itu langsung keluar, lalu menyapa Roy dengan ramah. Dia yang sering mengawasi bella atas perintah Leo, tapi bella bingung kenapa Roy semenurut itu dengan pria yang sekarang bersamanya.
"Gue tandain wajahnya," ucap Roy yang terus memperhatikan wajah bella yang manis.
"Buat apa?" tanya bella penasaran. Pasalnya, meski roy memperhatikan dirinya seperti itu tapi Leo sama sekali tak menaruh rasa cemburu padanya. Tak seperti saat Bella digoda Dua pria itu di Resto tadi siang.
"Biar nanti kalau ada apa-apa dijalan, terus ketemu, guenya gercep. Apalagi temen yang lain, pasti juga maunya kenal. Leonya aja yang sungkan mau kenalin ke mereka,"
__ADS_1
"Ooooh... Gitu," Bella hanya mengangguk mendengar apa yang Rou ucapkan padanya. Walau dalam hatinya bertanya, siapa Roy yang bahkan mau ikut pasang badan untuknya atas perintah Leo.