Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Buat apa pembatas?


__ADS_3

"Ngawur kamu! Kiranya aku ngapain sama dia?" tukas Leo saat itu. Bella seketika tertunduk malu karena sudah mencurigai sahabatnya macam-macam.


"Ku bilang bapak-bapak, Bell. Bukan tante-tante. Aku normal loh, buktinya udah ada kan?" tatap sinis leo padanya dengan lirikan smirk yang membuat bella mengatupkan bibirnya.


Glek...! Bella seketika menelan salivanya dengan kuat. Ia langsung gelisah dan diam seribu bahasa, lalu memutar badan meraih handuk yang dipakai oleh Leo menuju kamar mandi. Ia berjalan cepat masuk untuk membersihkan dirinya.


Braaak! Pintunya Bella tutup dengan keras hingga membuat Leo kaget saat itu.


"Apaan sih, nih anak? Aneh," gerutu Leo. Ia menyisir rambut dan segera duduk menunggu Bella untuk segera bersiap ganti baju.


"Le, kita butuh pembatas deh. Jadi ngga malu kalau ganti baju didepan kamu," pinta Bella, apalagi Ia baru saja menerima cukup banyak uang dari Leo ditangannya. Ia bahkan berfikir untuk membeli perabotan kost mereka, tak ubahnya seperti seorang istri yang mulai berfikir tentang perangkat tempat tinggal mereka.


" Buat apa pembatas, aku juga udah sering lihat. Kenapa malu?"

__ADS_1


"Leoooo... Iiiih, kamu mah." rengek bella pada tingkah leo saat itu. Meski bicaranya jujur dengan wajah datar, tapi bella seolah malu jika itu terus saja diungkit oleh Leo.


"Kemaren ngga papa, kenapa sekarang bawel? Hayooo, kenapa? Jaga diri ya?" goda leo padanya dengan alis tebalnya yang naik turun. Bella hanya mencebik kesal dengan segala cobaan itu, Ia lantas meraih piring untuk ikut sarapan dengan Leo dan menikmatinya dengan amat lahap.


Leo hanya melihat, Bella yang tampak ringan tanpa beban saat ini. Saat kala itu Ia selalu cemas dengan kondisi keuangan dan bahkan harus menahan lapar dan seleranya, tapi kini Bella seperti begitu damai dan tenang. Ia makan dengan lahap, dan senyum terus terurai dari bibir manis yang sempat leo nikmati.


Kadang leo berfikir, sampai berapa lama ia bertahan jika terus ada didekat bella seperti ini. Apalagi Ia sudah merasakan tubuhnya, yang mungkin akan menagihnya lagi esok hari. Candu, dan akan semakin candu dengan nikmat itu dan akan terus menginginkan bella dalam cumbu an hangatnya.


"Le, udah?" tanya Bella yang sudah menyandang tasnya saat itu.


"Hmm... Siap," angguk Leo.


Mereka berdua lantas berangkat bersama menaiki motor seperti biasa. Bella memeluk erat leo dari belakang, menambah rasa nyaman yang ada pada sosok pria tampan itu.

__ADS_1


"Bell...."


"Hmmm, apa?" sahut bella yang menopangkan dagunya di bahu leo saat ini.


"Ehm... Ngga jadi deh," balas Leo. Tapi seolah bella tahu apa yang difikirkan pria itu saat ini, Ia menghela napas dan mengeratkan pelukannya saat itu sembari mendekatkan bibir ketelinga Leo hingga Leo bergidik kegelian.


"Kamu sendiri yang bilang, bahwa setelah itu aku adalah tanggung jawabmu. Apa itu termasuk, Aku punyamu, Le? Jika iya, berarti aku memang punya kamu."


Balasan itu terdengar menggantung, hingga Leo sempat bingung dengan artinya. Tapi Ia tak bertanya lagi, karena mereka berdua sudah tiba diresto dan siap bekerja seperti biasanya secara profesional.


" Pagi, Bella. Uluh, semringah banget hari ini?" sambut Nita yang tengah nembersihkan kaca depan.


"Harus ceria, Nita. Mau galau terus buat apa? Nangis juga capek, mending kerja sama kalian. Setidaknya hilang meski sejenak," balas Bella, dan Leo hanya menatapnya seraya terus melangkahkan kakinya masuk kedalam untuk mengganti kaosnya dengan seragam yang ada.

__ADS_1


__ADS_2