Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Menikmati isinya, cuci bungkusnya


__ADS_3

"Leo... Pulang, Le." Bella masih merintih ketakutan dikamarnya, duduk memeluk lutut dan tubuhnya berbalut selimut. Ia takut jika itu adalah ayahnya lagi, atau orang-orangnya yang bahkan mengejar hingga kerumah barunya. Dan jika iya, pindah lagi dan berkali-kalipun bella ma asal bersama Leo yang selalu melindunginya.


Kreeek!! Suara pintu akhirnya terbuka. Langkah kaki perlahan masuk kedalam langkah demi langkah mulai mendekat padanya dan semakin menghampirinya dikamar. Bella semakin ketakutan, hanya Leo yang Ia ingat dan amat ia harapkan saat ini agar segera bisa menenangkan.


Sreeeek!! Selimut itu dibuka dengan cukup kasar.


"Arrrrrghhh!!!" Bella menjerit sejadi-jadinya, dan salah tingkah karena segalar rasa takut yang ada. Apalagi saat ada yang menggenggam tangannya secara tiba-tiba, bella berusaha sekuat tenaga melepaskannya.


"Lepas! Lepasin... leoooo... Leooo!!" pekiknya kuat memukuli lengan yang menyentuhnya saat itu.


"Bel... Bella! Ini aku, Leo." ucapnya. Saat yakin dengan suara yang Ia dengar, Bella lantas membuka mata dan langsung memeluk Leo begitu erat didepannya. Ia menangis, tapi  saat ini lega karena benar-benar ada Leo didepan mata.


Leo masih berdiri, lalu mengusap rambut bella dengan begitu lembut berusaha menenangkan kesayangannya itu, hingga Ia siap untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Ia duduk tepat dideoan bella, meraih dagunya agar tegak dan langsung menatap matanya.


"Ada apa? Hmmm?" tanyanya dengan amat lembut pada Bella yang masih berlinang air mata.


"Tadi ada orang ketuk pintu. Aku nyaris buka, untungnya ngga jadi karena aku tahu itu bukan kamu, Le. Tapi abis itu, entah kenapa aku malah ketakutan."


Bella menceritakan semuanya dengan napas yang masih tersengal, dan leo membantunya mengusap air mata yang tersisa. Leo meraih kedua bahu bella dan membawa mereka berhadapan lagi, bertatapan dengan lekat agar bella mendapat ketenangan setelah menatap matanya. 


"Sudah ceritanya?" tanya Leo, dan bella seketika mengangguk padanya.


Tangan leo merapikan anak rambut bella, lalu turun membela pipinya. Bella meraih tangan itu dan menciumnya, punggung dan telapak tangan secara bergantian membuat Leo tersenyum gemas padanya.


"Pintar, karena sudah menuruti perintahku kali ini. Terimakasih karena sudah menjaga kepercayaan yang telah aku berikan padamu. Dan kini, orang itu sudah tak ada lagi."

__ADS_1


Bella melirik kearah pintu, dan memang tak ada siapapun disana.  "Benar?" tanya Leo lagi, dan bella kembali mengangguk padanya.


"Aku takut, Le. Dan entah kenapa aku bis takut begini, aku ngga tahu aku kenapa?"


"Itu tandanya kamu calon istriku yang baik, yang menuruti perintah calon suaminya," tanya Leo mengalihkan pembicaraannya. Tersipu dengan rayu, itu yang dirasakan bella saat ini. Rasa takut seketika hilang berganti senyuman manisnya untuk sang calon suami tercinta, yang bahkan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


"Kok kamu pulang cepet?" tanya Bella padanya.


"Tugas hari ini selesai. Akan kesana lagi jika ada panggilan pengantaran atau tugas lain. Jadi aku bisa bantu kamu cuci baju hari ini. Kamu sudah mandi?


"Be-belum," geleng Bella. Tapi Ia juga tak merasa begitu berkeringat, karena seharian nyaris tak melakukan apa-apa dan hanya duduk dengan tv atau Hpnya.


Leo perlahan membuka pakaiannya, dan kini hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang Ia punya. Itu saja kadang dipakai bella, dan akan menjadi daster jiak sudah berada ditubuh mungilnya. 


Bella hanya melihat semua kegiatan yang leo lakukan didepan mata. Mengumpulkan semua pakaian kotor mereka dan membawanya kebelakang sana untuk ia cuci, bahkan tak segan membawa pakaian dalam bella bersama yang Lainnya.


"Ngga papa, biar aku aja. Lagian udah sering menikmati isinya, masa ngga mau bantu cuci bungkusnya." jawab leo dengan santai.


Gleekkk!! Bella hanya bisa menelan salivanya dengan kasar ketika mendengarnya. Tapi Ia hanya diam dan tak menjawab lagi setelahnya, hanya kembali mendengar saat leo menyalakan kompor mereka dan bertanya lagi sedang melakukan apa sembari berjalan kesana.


"Masak air anget buat kamu. Masih sakit?" tanya Leo yang menoleh genit padanya.


"Masih... Sedikit," jawab Bella.


"Ya... Sepertinya aku akan libur sedikit lama setelah ini. Huftzzzz!!" Leo menghenduskan napasnya dengan kasar, tapi masih memberi senyum pada bella yang tengah membulatkan mata.

__ADS_1


"Nakaaaal!!! Ini sakit yang bikin kamu loh," cubit Bella pada pinggang leo yang membuatnya beraduh ria. Tapi setelahnya mereka berbalas tawa saling menggelitik bersama. Bella terpingkal  pingkal dibuatnya, seolah melupakan rasa sakit yang ada. Berlarian menghindari kejahilan leo pada dirinya meski akhirnya tertangkap juga.


Mereka tak ubahnya seperti Dua bocah kecil yang tengah bermain bersama, bahagia dan penuh tawa tanpa jeda. Apalagi bella yang amat jarang mendapat keceriaan seperti ini.


"Aaaaah, kena!" pekik Leo saat berhasil menangkap bella dalam dekapannya.


"Hahhaha... Ampun Le, udah. Geli perutku, kaku." Bella memohon padanya meski dengan tertawa. Semakin lebar tawa itu tatkala tubuh mungil itu leo angkat dan membawanya berputar-putar sekian lama.


Permainan mereka terhenti. Mereka saling tatap kali ini dengan tangan bella yang mengalung dileher Leo, sesekali membuka bagian bahunya. 


"Masih sakit?" tanya bella, tapi Ia menemukan luka yang ada itu sudah cukup mengering teksturnya.


"Ane memberi salep perih tadi." Bella terkejut dan langsung tersipu malu, bahwa orang lain nanti akan mentertawakan dia karena tingkah bodohnya. "Maluuuu, Leo!" 


Leo hanya tertawa. Bella tak perlu malu, karena bagi mereka itu adalah hal yang biasa. Pria itu lalu dengan gemasnya meraih bibir bella, meluumatnya dengan ganas bahkan terasa jika tengah menghisaapnya dengan kuat disana. Tubuh bella sampai terangkat cukup tinggi, Ia juga tak mencoba menghentikan aksi leo kali ini dan berusaha menikmatinya. Ia yakin, Leo belum akan meminta lebih darinya.


Suara air mendidih mmebuyarkan ritual mereka. Bella langsung turun dan meraih airnya untuk ia pakai mandi sore ini.


"Ini buat aku, kan?" tanya Bella. Pasti rasanya begitu segar mandi air hangat, dapat membawa tubuhnya dalam relaksasi yang begitu nikmat, apalagi jika berendam dengan air yang wangi didalamnya. 


"Mau dimandiin sekalian?" tawar Leo dengan smirknya. Bella seketika melirik tajam mengerutkan dahi. Jika menyetujui ajakan Leo, pasti mereka tak hanya sekedar mandi bersama dan akan banyak kegiatan lain setelahnya dan Ia masih amat nyeri dibawah sana.


"Ogah... Nanti minta yang lain. Udah sana nyuci, rendemannya nanti bau." tolak Bella dengan tegas. Ia sesekali ingin menikmati me timenya, sementara Leo membereskan semuanya.


Air ia masukkan kedalam bak yang cukup besar dan mampu menampung seluruh tubuhnya. Ia berendam menikmati sensasi hangatnya, begitu nikmat terasa menjalar kesetiap bagian tubhnya.

__ADS_1


"Hhh... Pengen punya bathup, wkwkwkw." tawanya sendiri didalam kamar mandi.


__ADS_2