
Leo melaju kencang dengan motor kesayangannya. Tatapannya fokus kedepan dan terus mengingat semua ucapan pak hadi padanya. Ucapan yang terus memprovokasi dirinya agar segera pulang. Itu membuatnya sedikit ngeri jika mereka akan menyentuh Bella untuk memaksanya menuruti semua.
"Jangan sentuh dia. Sedikitpun aku tak akan pernah mengampuninya,"
"Kau punya kuasa? Jika kau merasa memiliki kuasa, bukankah hanya karena membawa nama ayahmu disana."
"Bahkan aku tak memakai namanya dibelakang namaku," potong Leo padanya. Jika hanya dia sendiri yang diajak bicara, maka Ia tak akan setegang ini. Tapi Bella, gadis itu akan selalu menjadi fokus utamanya agar tak disentuh orang lain selain dirinya.
Leo kini tiba ditempat kerja. Ia telah mendapat seragam karena segala dedikasinya dalam bekerja. Bahkan Ia memperoleh keistimewaan, bisa membawa pulang mobil jika Ia perlukan.
"Leo antar aku... Yok... Woaaaaaahhh!" Ucapan Ane seketika terhenti ketika melihat Leo didalam sana tengah memuka pakaian atasnya. Ototnya yang terbentuk sempurna menjadi pemandangan indah baginya yang haus akan kesempurnaan.
Wajar saja, kadang yang ia layani adalah pria paruh baya yang kehausan. Jarang sekali mendapat pria muda dan sempurna macam leo. Karena jujur, pria muda seperti itu hanya kuat pada nap sunya, bukan pada uangnya. Bagi ane dan para rekannya, tak apa tak puas tapi uangnya banyak.
"Berhenti mengagumi. Ada apa?" tanya Leo datar padanya.
"Ada panggilan, mau antar?"
"Bentar," jawab Leo yang sedikit merintih karena lukanya yang perih.
Ane seketika membulatkan matanya menatap luka bulat itu, yang berjarak seperti susunan gigi yang sempurna.
"Wait... Wait... Wait.... Gila Lu, Le. Lu main ama binik lu ampe begini, Le? Ganas bener dia. Beuuuh," ucap ane lalu tertawa terbahak-bahak. Bahkan Ia menggoda Leo, yang kemungkinan terpancing akibat permainannya dengan client dimobil kemarin.
"Katanya ngga tergoda, taunya?" Cekikikan terus Ane meledek rekannya itu, tapi Leo hanya membalasnya dengan lirikan yang datar hingga Ane kembali pada diamnya.
__ADS_1
"Beda perkara. Udah sana, siap-siap. Gue panasin mobil dulu digarasi. Sama siapa aja?"
"Gue, Rika, Dewi. Beberapa pejabat mau pesta disebuah vila dipinggir kota." balas Ane.
Ia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk itu semua sejak malam saat mendapat pesanan itu. Jamu, vitamin, dan semuanya ia minum demi kelancaran pesta yang ada, yang kadang mereka semua menggila disana.
Ane memang keluar, tapi Ia segera kembali lagi menemui Leo membawa sebuah salep ditangannya. Ia memberikannya pada Leo dan menyuruhnya memakai sendiri salep itu. Ia malas jika nanti ada yang mengawasi mereka dan berbicara macam-macam akan kedunya.
Meski diakui, memang ane sempat menyukai leo. Tapi, Ia menguburnya dalam-dalam karena leo sendiri sudah memiliki calon istri. Ia juga sadar ia siapa, hingga cukup tak menambah masalah dalam hidupnya saja itu sudah cukup baginya
"Thanks," ucap Leo padanya. Ia mengoles salep itu sendiri pada lukanya secara tipis dan merata, lalu keluar untuk kembali bekerja seperti biasa.
Mobil sudah Ia panaskan. Gadis-gadis itu sudah datang untuk ikut memulai pekerjaan. Jika mendapat boking begini, mereka nantinya akan mendapat liburan yang lumayan untuk mengistirahatkan diri dan bersantai.
"Hay Le," sapa rika dan dewi padanya. Leo yang ramah lalu mengulurkan senyum, yang langsung membuat hati rika bergetar dengan kencang.
Sebenarnya Ane sengaja, agar rika sadar diri akan posisinya.
"Ini alamat vilanya, dan kalian tinggal masuk kesana." ujar Mami gea yang tak lain adalah pemilik mereka.
Leo meraih alamat itu, dan paham semua daerahnya karena memang pernah kesana. Hingga kini ia tak kesulitan ketika membawa para gadis itu menuju bokingannya.
" Ne... Sini, " ajak Leo agar Ane mendekat padanya. Ane menurut dan datang kebelakang Leo yang masih dikursi setirnya. Tanpa aba-aba, Leo memotret mereka berdua disana.
"Eh... Nyolong foto orang tanpa izin, Loe." tepuk Ane dibahunya. Untung tak sakit disana.
__ADS_1
"Buat Binik. Semalem cemburunya aneh. Jadi gue buat laporan aja," balas Leo. Ane langsung melengos tanpa sepatah katapun padanya, lalu mempersiapkan diri masuk kedalam vila menunggu orang yang telah menyewa mereka.
"Bell, Aku ke Vila dipinggiran kota. Itu Ane, aku antar dia dan teman-temannya. Ingat pesanku, jangan keluar tanpa seizinku." ucap Leo dalam dalam Voice notenya.
Bella yang disana mendengarnya dengan seksama, memperhatikan foto Ane yang memang cantik jelita. Tapi kembali lagi bahwa itu pekerjaan Ane sebagai wanita yang memang menjanjakan tubuhnya untuk setiap pria yang menyewa jasa.
"Iya, Le. Jaga diri ya," Hanya itu yang bisa Bella pesankan untuknya. Ia percaya akan Leo, tapi ia tak yakin dengan mereka disana. Hanya meyakinkan diri, jika pasti Leo akan kuat dengan godaan yang ada.
"Jika bukan karena Leo, pasti aku akan jadi seperti Ane saat ini. Yang harus kemana-mana menjanjakan tubuhnya. Meski ku akui aku masih berdosa, tapi setidaknya aku milik Leo sekarang. Iya kan?" tanya nya pada diri sendiri, kembali meyakinkan hati atas apa yang ia miliki.
Manusia itu tak luput dari dosa. Tinggak tergantung bagaimana kita menjalaninya. Ingin terkubur lebih dalam, atau bangkit dan tak menambah dosa itu lebih besar.
Bella hanya bisa duduk dan berbaring disofanya hari ini. Sesekali memaksa diri untuk bekerja seperti biasa, maka rasa perih itu akan kembali ada dengan luar biasa.
"Dulu waktu pertama ngga begini meski perih dan sakit. Aah, salah emang bikin ulah begini." sesal Bella beberapa kali. Ia hanya bisa menghela napas panjang meratapi nasibnya.
Leo disana membantu mereka menurunkan barang, lalu membawanya ke vila. Hanya semalam, tapi kenapa mereka membawa tas cukup besar.
" Kalian menginap?"
" Aku sama dewi nginep, Rika engga. Kenapa?"
"Aku balik sama Rika?" tanya Leo sedikit menyipitkan mata.
"Iya, nanti pulang sama Rika. Ngga papa kan?" tanya Ane. Ia memang menangkap rona tak nyaman dari Leo pada wanita itu. Tapi Ia juga memiliki pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan hanya semj sahabatnya itu.
__ADS_1
"Yaudah, ngga papa." jawab Leo. Meski rasanya sedikit enggan jika harus bersama gadis itu dalam satu mobil apalagi perjalanan cukup panjang.