
Bella seperti kelelahan hari ini. Ia duduk dengan cemilannya menonton tv, sementara Roy bersiap untuk pergi.
"Aku pulang malam, jangan ditunggu." ucap roy yang sembari memakai sepatunya.
Bella hanya mengangguk dan fokus ke makanannya, bahkan ketika Roy berlalu darinya. Badan bella pegal semua, ingin istirahat tapi tak bisa.
Ini juga hari kedua Leo belum pulang setelah pergi, dan Bella amat menginginkan kedatangannya saat ini. Padahal Leo sudah rajin meluangkan waktu untuk menghubunginya, tapi semua itu masih saja kurang sebelum mereka bertemu dan bertatap muka.
"Jangan aja ketemu dia lagi. Kok rasanya ngga enak begini?" galaunya.
Dan memang, disana Leo tengah bertemu dengan Rena dan beberapa kolega ayahnya. Mereka membahas kerja sama itu lagi, yang mana Leo akan menjadi distributor senjata dan ayah Rena menjadi jasa pengirimannya.
Tapi entahlah, kenapa semua terkesan bertele-tele bagi Leo. Padahal hanya tinggal menandatangani perjanjian kontrak dan semua itu berjalan seperti rencana sebelumnya. Sudah beberapa bulan sejak surat kontrak itu diturunkan oleh pak Hadi untuk mereka.
"Leo kenapa? Astaga, sampai begini." tanya rena yang tampak cemas padanya. Tapi Leo tak terlalu menghiraukan, dan membiarkannya tetap dalam segala rasa penasaran.
Rena hanya memanyunkan bibir dengan reaksi leo padanya. Ia meraih tangan Leo kembali dan menggandengnya untuk duduk bersama melakukan rapat kembali.
Jujur, kerja sama ini terasa amat alot bagi leo untuk segala proses yang ada. Pak Jay seperti memperlambat alur yang seharusnya sudah melangkah jauh maju kedepan, sedangkan ini masih diam ditempat dengan segala rencana yang ada.
Padahal bagi Leo itu mudah. Karena sejak awal Leo akan menjadi penyedia barang dan mereka akan menjadi jasa untuk pengiriman. Itu saja, dan tak lebih sebenarnya.
Tapi sepertinya ada maksud lain untuk Pak Jay. Seakan mempersulit agar pihak leo bosan dan mau mengikuti semua persyaratan yang ada darinya demi kerja sama yang ada. Apalagi jika bukan Rena, dan intinya adalah mereka harus bersama.
"Leo kok diem aja. Masih sakit ya? Kasihan," tatap Rena yang nyaris akan menyentuh luka, tapi dengan sigap tangan Leo menepisnya. Membuat Rena tertunduk lemas dengan sikapnya yang masih saja belum berubah.
"Aku hanya tak ingin disentuh orang lain."
"Tapi aku bukan orang lain, Le. Aku_..." Rena menghentikan ucapannya, apalagi ketika Leo menatapnya dengan amat tajam. Ia tak berani berkutik sama sekali meski tatapan itu menggetarkan hati.
"Cepat sembuh, Le..." imbuhnya, hnaya sekedar basa basi.
__ADS_1
Melihat sikap dingin Leo itu rasanya Pak Jay tak tega dengan putrinya. Tapi salah sendiri, bahwa sejak awal Leo tak pernah sama sekali menanggapi perasaan Rena padanya, tapi ia selalu ingin mendekatkan mereka..
" Lalu bagaimana kerjasamanya? Kenapa tarasa lama sekali untuk menandatangani kontrak yang ada?"
Padahal mereka yang mengajak kerja sama dan selalu membujuk Ayah Leo untuk ikut. Tapi justru mereka seolah membuat ayah leo yang mengejar meminta kerjasama pada mereka.
" Padahal Om bukan perintis." imbuh Leo padanya. Karena memang itulah usahanya, memiliki perusahaan ekspor impor yang cukup besar dikota mereka bahkan ke mancanegara sana.
"Le... Hanya ada beberapa yang masih perlu diurus antara Om dan ayahmu. Sabar saja," Pak Jay berusaha menenangkan pria didepannya itu. Dan lagi Ia masih amat memperjuangkan sang putri dengan segala perasaan yang Ia miliki.
Terpaksa menganggukkan kepalanya. Ia tahu yang dimaksud adalah dirinya yang jadi permasalahan. Bahwa Ia tetap ingin jika Rena menikah segera dengannya.
"Oh iya, nanti malam Om akan mengadakan sebuah pesta. Om harap kamu mau datang kesana."
"Leo tak janji," Karena Leo benar-benar ingin menemui Bella sore ini. Apalagi ketika telah bersama dan menikmati hari, rasanya amat sulit untuk Ia pergi lagi.
Usai dengan pak Jay, Leo menghadiri sebuah transaksi. Disana Ia membawa peti berisi penuh dengan senjata yang telah menjadi pesanan, dan para pembeli memberikan koper penuh dengan uang sesuai yang mereka janjikan.
"Terimakasih Tuan Troy. Senang bekerja sama dengan anda," ucap leo padanya.
Namun, ayah Troy sendiri sudah meninggal hingga Ia menjalankan semua bersama orang-orang kepercayaan yang sudah ada sejak lama. Bahkan Troy yang ramah tak segan menanyakan mengenai kekasih Leo.
"Ada... Hanya saja belum berani ku bawa keluar. Dia terlalu berharga untukku, yang musuhnya dimana-mana." jawab Leo yang seketika memikirkan Bella dalam kepalanya.
"Musuh sebenarnya adalah orang yang pura-pura baik terhadapmu. Orang yang sejak awal memperlihatkan ketidaksukaannya itu, biasanya justru yang paling jujur pada kita."
"Kau pengalaman?" tanya Leo padanya..
"Aku mmebaca pengalaman orang lain, dan aku apalikasikan terhadap diri sendiri." balasnya, yang menghembuskan asap cerutu itu keudara lepas. Mereka melayang hingga benar-benar hilang dari pandangan mata.
Leo kemudian mengajak para pasukannya pulang. Tapi ketika dipersimpangan jalan, Leo berbelok dengan arah berbeda dari pasukannya.
__ADS_1
"Tuan?"
"Biarkan Freid. Biarkan kemanapun dia pergi, asal tugasnya telah selesai." ucap Pak Hadi yang memotong panggilan anak buahnya itu.
Dan benar saja, kemana lagi Leo pergi selain kerumah mungilnya tempat dimana sang kekasih hati berada.
Ia segera membuka pintu, dan langsung disambut oleh Bella dengan senyuman hangatnya. Bahkan pelukan erat dan ciuman mesra ia dapatkan darinya.
Leo hanya menelengkan kepala, merasa ada yang aneh dengan kekasihnya.
"Kenapa begitu?"
"Tidak..."
"Kenapaaaa?" rengek bella padanya.
"Sepertinya, akuh harus memanfaatkan moment ini sesegera mungkin dan sepuasnya." ucap Leo dengan tatapan smirknya.
"Lah, kenapa?" heran Bella.
"Karena setelah ini aku akan libur tiga hari, atau bahkan seminggu." Leo dengan segera membopong tubuh mungil Bella kekamar mereka. Bella terkekeh, lalu meloncat turun ketika sudah ada diranjangnya.
Dengan cepat Ia bersimpuh, dan Leo menyejajarkan bibir keduanya agar saling berpa ngutan. Begitu ganas dan saling menutut lebih antara keduanya.
Tangan Bella juga bergerak cepat membuka kancing kemeja Leo, hingga seluruh cetakan otot itu terpampang nyata didepannya.
Bella segera membawa Leo berbaring, Ia merangkak menaiki tubuh kekar itu dan mulai menyerang seluruh inci tubuhnya, bahkan meninggalkan beberapa bekas gigitan dan tanda merah disana.
Leo tersenyum bangga dengan tingkah agre sif calon istrinya itu. Apalagi ketika tangannya mulai merayapi perut, turun kebawah dan menelusup kedalam celana bahan yang Ia kenakan. Bella seakan sedang mencari benda kesukaannya yang masih tidur dibawah sana dan begitu ingin membangunkannya.
"Haisssshh... Nakalnya," erang Leo.
__ADS_1
"Tapi suka kan?" kecup Bella lagi yang merapatkan tubuh mereka. Tangannya aktif dibawah sana, dan bibirnya tanpa henti mengecupi calon suaminya dengan penuh dahaga.
Lanjuuuuut ga yaaaaaa?