
Leo memejamkan matanya sesekali mengadah keatas Menimati semua gerakan bella dibawah sana. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, meski ia cukup sering mendapatkan itu dari beberapa wanita. Tapi bella, Dia begitu amat istimewa untuknya apalagi ia tahu ini pertama kalinya untuk Bella. Leo bahkan beberapa kali gemas dan memainkan rambut bella, membuatnya berantakan dan kembali merapikannya.
Puncak indah yang yang tampak didepan mata juga tak henti Ia mainkan dengan jarinya, membuat Bella nyaris tersedak dengan ulahnya.
"Sebentar lagi, Bell." ucap Leo dengan suara seraknya. Namun bukannya berhenti, Bella justru lebih kuat dengan aksi menghisapnya dibawah sana sembari terus memperhatikan wajah Leonya yang penuh nikmat tak tertahankan.
"Bellaaaa!!!" Leo akhirnya meledak. Bella tak beranjak dari sana, dan bahkan menelan habis semuanya.
Leo meraih tisu dan air minum, Bella mengangkat tubuhnya untuk kembali kepangkuan leo dengan tertawa bahagia. Diusapnya bibir indah itu lalu membantunya minum dengan teh botol yang Ia beli untuk cemilan keduanya.
"Kau menelannya?" tanya leo, yang sebenarnya tahu semuanya. Dan itu hanya dibalas anggukan bella, yang kemudian mengecup bibirnya.
Rupanya terlalu lama dirumah membuat Bella banyak belajar dari Hpnya. Entah dari situs apa, tapi setidaknya Ia telah berusaha. KIni leo menggerakkan tangannya, menelusuri kancing kemeja lalu membukanya. Bella sekerjap menatap dan melarangnya, tapi Leo seakan tak pernah bisa menuruti maunya.
"Dari semua yang ada ditubuhmu, ada bagian yang tak pernah bisa aku yahan untuk ku nikmati setiap harinya." Bahwa kini tangan Leo sudah ada dibagian favoritnya dan bermain disana, layaknya bayi kehausan dan meng hisapnya dengan penuh dahaga. Bella hanya dibuatnya pasrah dan memejamkan mata sepanjang aksinya disana.
Permainan mereka sudahi, dan kini keduanya telah tiba kembali dirumah mungil mereka yang indah. Rupanya Roy sudah menunggu disana dengan bibir manyunnya, kesal seakan ingin menghajar segera sahabatnya.
"Kenapa tak menelpon?" tanya Leo, tapi hanya dibalas Roy dengan menunjukkan bukti panggilan yang ada dikontaknya.
"Hay Kak Roy," sapa bella dengan ramahnya, dan Roy juga membalas tak kalah ramahnya dengan senyum menyesuaikan diri dengan bella. Saat menangkap tatapan leo padanya, Ia juga diam seketika.
"Leo sini aja, Aku mau ganti dulu sebentar." lari bella kekamarnya. Leo mengajak Roy duduk dikursi mungil mereka untuk membicarakan pasal kepulangannya.
"Ayah sakit, aku akan kesana sebentar."
"Kau tak curiga?"
__ADS_1
"Tidak... Sama sekali tak curiga. Ayah tak akan membohongiku hanya untuk pulang, Roy."
."Baiklah, Aku jaga bella disini. Aku tidur dikamarmu ya?" pinta Roy padanya.
"Lagipula aku tak pernah memakai kamar satunya, lebih enak tidur bersama." jujur leo tanpa sungkan sama sekali. Roy lantas menggerak-gerakkan ujung bibirnya, seakan menyesal bertanya karena justru Leo pamer semua keuwuannya dengan bella.
"Bell, aku pergi." pamit Leo, lalu bella keluar untuk mencium tangannya.
"Uweeeek!!" sindir pedar Roy pada keduanya. Memuakkan baginya yang selama ini jomblo dan tak suka dengan adegan romantis sepanjang hidupnya.
Belal mengajak roy mengobrol usai Leo pergi. Membuat Roy tak canggung dan nyaman ketika bersamanya, bahkan membuatkan makanan untuknya. Tapi entah kenapa Bella tak bertanya, akan siapa leo sebenarnya pada roy. Atau Ia sudah terlanjur percaya padanya. Padahal Bella merasakan memang ada yang disembunyikan oleh keduanya.
Leo mengembalikan mobil hotel, lalu meraih motornya kembali untuk pergi. Ia tak sedang merahasiakan apapun, karena Ia tahu jika ayahnya sudah menemukan tempat kerjanya selama ini.
Perjalanan leo cukup panjang menuju kerumah besar ayahnya. Saat datang, ia disambut oleh beberapa kaki tangan sang ayah yang lalu membawanya masuk kedalam.
Tuan Respati memang tengah tidur dengan lelap, wajahnya pucat dan seperti sakitnya cukup berat kali ini. Memang dari segi usia, ayah leo sudah cukup paruh baya. Wajar jika ada saja penyakit yang datang ketubuhnya, apalagi begitu banyak yang Ia lewati untuk geliatnya sebagai ketua mafia.
"Ya, maaf jika Leo baru tahu keadaan ayah saat ini."
"Mana dia?" Yang dimaksud ayah adalah bella, dan leo kaget mendengar ayah mempertanyakannya.
"Ayah?"
"Ayah tahu, kau dekat dengan gadis itu. Sejauh apa hubungan kalian?"
"Lebih jauh dari yang ayah bayangnya," jawab leo jujur apa adanya. Ayah langsung membulatkan mata, meraih apa saja yang ada didekatnya dan memukulkan pada sang putra.
__ADS_1
Plaaak!! Plaakkk!!
Buuughhh!!! Semua yang ada itu mendarat ditubuh Leo dengan membabi buta tanpa jeda. Leo hanya diam ditempat dan tak membalas meski hanya sekedar bicara. Ia hanya membiarkan sang ayah mengekspresikan semua perasaan itu padanya.
Pak hadi dan para penjaga yang medengarnya seketika masuk kedalam, tapi Leo mencegah dengan telapak tangannya agar mereka tak ikut campur dengan urusan mereka berdua. Hingga ayah kehabisan bahan tak lagi melemparnya dan diam kembali ditempatnya.
"Umur berapa dia?" tanya Ayah dengan wajah datarnya.
"Beda tujuh tahun denganku. Baru ulang tahun ke Dua puluh beberapa bulan lalu," jawab leo dengan segala kejujurannya. Mau apa lagi, Ia juga tak akan pernah bisa berbohong dengan sang ayah.
"Gila! Dia masih kecil. Kau memanfaatkannya?"
"Jika iya, maka aku tak akan pernah bekerja keras untuk membahagiakan dirinya."
Ayah menganggukkan kepalanya. Ia kembali rebah dan memejamkan matanya membelakangi sang putra. Leo juga hanya diam disana, sesekali bergerak untuk menyerlimuti tubuh ayahnya agar tak kedinginan.
Leo terus menunggu disana, duduk diatas sofa dan berusaha menjadi anak siaga. Saat ayahnya bangun karena batuk, maka Ia dengan segera memberi minum padanya atau bahkan memberi obat sesuai jadwal yang ada.
Hari mulai berganti, dari malam menjadi pagi. Ia meninggalkan kamar sang ayah untuk membersihkan diri, lalu kembali lagi. Ia bahkan belum sempat memberi kabar bella akan kegiatannya pagi ini.
"Baru semalam, dan kau gelisah?" tanya ayah saat Leo menyuapi sarapannya.
"Dia gadis malang yang ku selamatkan dari ayah yang ingin menjualnya. Dia yang juga yang selama Leo disana. Hanya dia yang menggenggam tangan Leo saat semua meremehkan dan menghina. Tak bisa apa-apa, dan Bella yang mengajarkan semuanya."
"Cinta, atau tanggung jawab?" tanya Ayah dengan wajah datarnya.
"Bahkan Leo rela mematahkan kaki orang lain demi bella. Tak perduli itu siapa," balasnya, lanjut menyuapi sang ayah dengan menu yang ada ditangannya.
__ADS_1
Wajah datar keduanya beradu disana. Pak Hadi hanya mengamati dari kejauhan, menunggu dengan sabar akan sebuah penyelesaian.
" Bisakah mereka berdiskusi?" gumam Pak Hadi ditempatnya.