Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Menyakitkan


__ADS_3

Malam harinya, saat sedang makan malam, Davin melihat Cahaya menggunakan sendok dan garpu dengan salah. Suara dentingan kedua benda itu pun membuat Davin merasa jengah. Karena selama ini dia tidak pernah mendengar suara itu saat makan bersama keluarganya.


"Cahaya, bisa diam tidak?" tanya Davin dengan tatapan kesal.


"Maaf, Mas, aku hanya belum terbiasa makan dengan sendok dan garpu seperti ini." Cahaya langsung mempraktekkan ucapannya. Dia mengambil nasi dan lauk pauknya dengan tangan, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.


"Cahaya, apa yang kau lakukan? Itu berkuman!" Davin menegur Cahaya yang menggunakan cara makan tak biasa.


"Ingat saja saat kau makan ayah HFC, Mas," sahut Cahaya tanpa memperdulikan ucapan Davin dan terus makan dengan tangannya.


"Keluarga besar ku tidak pernah makan dengan tangan karena itu kotor, hentikan, Cahaya, itu sangat menjijikkan!"


Ucapan Davin langsung membuat Cahaya berhenti makan. Dia menatap Davin yang seakan menatap jijik padanya.

__ADS_1


"Oh, maaf, aku tidak tahu seperti itu cara makan orang kaya. Maklum lah, aku kan orang miskin." Cahaya menatap sinis.


"Bukan, bukan begitu maksudku. Setidaknya kau ikuti saja peraturan di rumah ini."


"Boleh aku tahu peraturan seperti apa saja yang ada di rumah ini selain sendok dan garpu yang bersentuhan?"


"Cahaya, kau jangan tersinggung dengan hal sepele seperti ini. Setidaknya patuhilah sampai kita bercerai. Aku tidak ingin..."


"Malu? Baiklah, Mas, aku akan mematuhinya. Silakan lanjutkan makannya, aku tidak bisa makan lagi karena tak bisa menggunakan sendok dan garpu dengan baik." Cahaya langsung meninggalkan meja makan meski perutnya belum kenyang.


Cahaya langsung berhenti tanpa menoleh.


"Kau bisa makan dengan gaya makanmu. Bawa saja ke kamar, tidak apa-apa. Tapi, berlatihlah menggunakan sendok dan garpu karena mungkin suatu hari kita akan diundang ke acara-acara resmi. Maaf jika penyampaianku kurang mengenakkan hatimu."

__ADS_1


"Ya, Mas, aku akan mengingatnya. Terima kasih, tapi aku sudah kenyang." Cahaya menoleh sambil tersenyum. Dia pun segera pergi meninggalkan ruang makan dengan Davin yang masih merasa bersalah.


Sedangkan Cahaya menangis di kamarnya karena kata-kata Davin memang lumayan menyakitkan baginya. Kata menjijikkan itu memang sangat menyakitkan karena dia merasa seakan rendah dan tidak punya harga diri.


"Padahal aku yakin dia makan permen dengan tangan, bukan dengan garpu." Cahaya menepuk bantal di pangkuannya dengan kesal.


Dia pun segera mengambil air wudhu dan sholat di kamar itu. Untung saja dia membawa sajadah dan juga mukena, jadi tidak perlu merepotkan siapapun.


Selesai sholat, Cahaya pun menyadari bahwa kamarnya mengunakan AC. Dia yang tak pernah tidur dengan AC lantas berusaha mematikan AC tersebut dengan menekan berbagai tombol di remote AC.


Namun, bukannya mati, AC itu malah semakin dingin. Dirinya pun sampai mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin.


"Bagaimana ini? Kalau aku minta tolong Mas Davin, itu tidak mungkin karena aku kan sedang kesal. Biar saja dia yang menyapaku dulu."

__ADS_1


Bermodalkan rasa gengsinya, Cahaya pun nekat tidur di atas ranjang dengan suhu yang sangat dingin. Dia menggunakan selimut yang sangat tebal untuk menutupi seluruh tubuhnya untuk sekadar mencari kehangatan.


Namun apa daya, selimut itu nyatanya tak mampu menepis dinginnya ruangan hingga dia pun tertidur sambil menahan dingin.


__ADS_2