
Kecelakaan itu menyita banyak perhatian, orang-orang yang sedang mengendarai kendaraannya pun langsung memberhentikan kendaraannya, dan menghampiri gadis cantik yang kini sudah tidak sadarkan diri. Sementara Stevan, ia terlihat terpukul, laki-laki yang biasanya bersikap dingin itu mendadak lemah ketika ia melihat wanita yang sudah menarik perhatiannya itu mengalami kecelakaan tepat di depan kedua bola matanya.
"Tolong panggilkan ambulance, cepat!" Teriak Stevan kepada orang-orang yang saat ini sedang berdiri untuk melihat keadaan gadis cantik itu.
Salah seorang langsung menelpon ambulance, ia memberitahukan tempat dimana kecelakaan itu berada, sementara itu, Teo masih terdiam di tempatnya. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lemas, sementara tatapan matanya masih tertuju pada sosok wanita yang sudah di kerumunin oleh banyak orang.
"R,,,,, Reaaaaa.... Maafkan aku." Ucap Teo memaksakan kakinya untuk berlari menghampiri Rea yang saat ini sudah berada di dalam pangkuan Stevan, sahabatnya.
"Maafkan aku, Rea. Aku yang sudah menyebabkanmu kecelakaan, bangunlah, Rea. Ku mohon." Ucapnya lagi dengan penuh penyesalan. Teo ingin mengambil alih Rea dari pangkuan Stevan, namun Stevan menghalanginya.
"Kau pasti puaskan melihat dia seperti ini! Inikan yang lo inginkan, Teo!" Seru Stevan dengan penuh amarah.
"Aku tahu aku salah, seharusnya aku tidak keras kepala untuk mengejarnya, mungkin jika aku menyerah dan tidak mengejarnya lagi, dia tidak akan kecelakaan seperti ini." Ucap Teo dengan nada suaranya yang masih sama, penuh dengan penyesalan. Dalam hati, Teo terus merutuki dirinya sendiri, ia terus menyalahkan dirinya dengan apa yang sudah terjadi kepada istrinya tersebut. Penyelasan kian menghantui dirinya, andai saja waktu bisa ia putar kembali, mungkin ia tidak akan mengejar Rea dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, dan penyesalannya tidak akan pernah bisa mengubah takdir Rea.
"Sebaiknya kau berdoa agar dia baik-baik saja." Ucap Stevan sebelum ia melangkahkan kedua kakinya menuju mobil ambulance yang baru saja tiba di tempat kejadian itu.
***
Rumah sakit.
Rea sudah berada ruang UGD, ia sedang dalam perawatan beberapa dokter rumah sakit itu, sementara Teo dan juga Stevan, keduanya menunggu di luar ruangan dengan hati yang gelisah. Keduanya takut terjadi sesuatu pada Rea, karena gadis itu mengalami pendarahan di kepalanya.
Lucas datang bersama ibu kandung Rea, keduanya langsung menghampiri Teo yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menutupi wajah tampannya.
__ADS_1
"Teo, bagaimana keadaan Rea? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya ibu kandung Rea yang tak lain adalah Grace.
Teo seketika mendongak, ia menatap Grace, lalu menatap Lucas asistennya.
"Saya yang memberitahunya, tuan." Ucap Lucas seolah-olah tahu dengan apa yang ada di dalam benak Teo saat ini.
"Teo, kenapa kamu diam saja? Jawab, bagaimana keadaan Rea?" Grace memegang lengan Teo, ia menatap menantunya dengan sendu.
"Aku tidak tahu." Jawab Teo singkat. Ntahlah, saat ini Teo sama sekali tidak ingin berbicara dengan siapa pun, termasuk ibu kandung Rea sendiri.
"Astaga... Rea... Kenapa kamu bisa kecelakaan seperti ini?" Grace mulai menjatuhkan air matanya, ia menatap pintu ruang UGD dengan nanar. "Rea, mama harap kamu baik-baik saja, maafin mama karena selama ini mama sudah mengacuhkanmu, nak. Maafin mama." Batin Grace menyesal. Mengingat dulu dirinya selalu mengacuhkan putri satu-satunya itu, membuat hati Grace terasa sangat sakit.
"Tuan, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda." Ucap Lucas sembari menatap bosnya yang masih terlihat berantakan.
"Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun, sebaiknya kau diam saja dan cari tahu siapa pemilik mobil yang sudah menabrak istriku." Jawab Teo dengan tatapan matanya yang tajam, menyimpan sebuah amarah dalam dirinya.
Stevan hanya menatap Lucas sebentar, kemudian ia pun mengalihkan pandangannya kembali pada pintu ruangan itu, Stevan sam sekali tidak berniat untuk mengobati luka di wajahnya, begitu pun juga dengan Teo yang sama sekali tidak menanggapi ucapan asistennya tersebut.
"Baiklah, saya akan membawa perawat kemari." Akhirnya Lucas pun berinisiatif untuk memanggil perawat agar luka di wajah tuannya itu bisa di obati.
"Tidak perlu. Ini sama sekali tidak sakit." Ucap Teo dengan dingin dan tanpa menatap ke arah asistennya tersebut.
"Baiklah kalau begitu terserah anda saja, tuan. Saya permisi dulu." Jawab Lucas menyerah, ia tidak lagi memaksa tuannya yang keras kepala itu dan ia memilih untuk pergi karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan saat ini.
__ADS_1
Teo tidak menyahut, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada pintu ruang UGD itu.
"Teo, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa Rea bisa mengalami kecelakaan?" Tanya Grace setelah lama terdiam merenungi kesalahannya yang sudah mengacuhkan Rea selama ini.
"Semuanya sudah takdir, berdoa saja agar Rea baik-baik saja." Jawab Teo di iringi dengan helaan nafasnya. "Rea semoga kamu baik-baik saja. Aku berjanji, aku akan menebus semua kesalahanku kepadamu. Dan aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi, bertahanlah, Rea. Ku mohon." Batin Teo dengan tatapan mata yang tidak pernah teralihkan dari pintu ruangan itu.
Setengah jam kemudian...
Ponsel Teo pun berbunyi, dengan malas Teo pun merogoh ponsel itu dari dalam saku jas mewahnya, terlihat nama Lucas terpampang jelas di layar ponselnya. Dengan segera Teo pun langsung menggeser tombol berwarna hijau, dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukan orang itu?" tanya Teo tanpa basa basi.
"Sudah, bos. Saat ini dia sudah bersama orang suruhan saya, dan saya sudah menyuruh mereka untuk membawanya ke ruangan introgasi." Jawab Lucas dari seberang telpon sana.
"Bagus! Jangan biarkan dia kabur. Aku akan kesana nanti." Ucap Teo dengan tangan terkepal kuat, menahan amarah dalam dirinya.
"Baik, bos. Satu lagi bos, apakah video-video yang saya kirimkan beberapa waktu lalu sudah anda lihat? Ah sepertinya belum. Sebaiknya anda melihatnya segera, itu video tentang kekasih anda."
"Baiklah aku akan melihatnya nanti." Jawab Teo terkesan sangat malas karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada gadis cantik yang saat ini masih dalam penanganan dokter.
Setelah itu, Teo pun langsung memutuskan sambungannya, kemudian ia pun menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku jas mewahnya. "Kenapa dokter lama sekali? Apakah lukanya sangat parah?" Batin Teo bertanya-tanya.
"Apakah asistenmu sudah menemukan orang yang menabrak Rea?" Tanya Stevan sembari menatap Teo.
__ADS_1
Teo hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat lawan bicaranya. "Aku akan pergi bersamamu nanti, aku ingin tahu siapa orang yang sudah menyuruh dia untuk mencelakai Rea. Aku yakin dia pasti suruhan seseorang." Ucap Stevan dengan tangan yang mulai terkepal kuat. Stevan sangat yakin jika kecelakaan itu sudah di rencanakan oleh seseorang yang ingin mencelakai Rea.
Bersambung.