Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Tragedi di pesta


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Cahaya dan Davin sedang bersiap-siap akan pergi ke sebuah pesta rekan bisnis Davin. Namanya adalah Sarah, seorang CEO dari perusahaan yang lumayan besar. Pesta itu dihadiri oleh orang-orang penting yang jabatannya rata-rata adalah CEO dan direktur.


Mengenakan gaun mahal, Cahaya seperti berjalan diselimuti banyak uang. Bayangkan saja, gaun yang dikenakannya saat ini seharga satu buah mobil. Apalagi perhiasan, sepatu, tas, bahkan pernak pernik di rambutnya, tadi taksir harganya bisa seharga sebuah rumah.


Cahaya mengenakan gaun yang tidak terbuka. Gaun panjang yang menutupi seluruh tangan menjadi pilihannya untuk pesta ini.


Mereka bergandengan tangan berjalan menuju ke arah pelaminan untuk memberikan selamat pada kedua mempelai.


"Sarah, selamat, ya," ujar Davin sambil menjabat tangan Sarah. Tak lupa mereka pun bercipika-cipiki hingga membuat Cahaya merasa risih.


'Apa memang begini pertemanan orang kaya?' batin Cahaya.


"Kenalkan, ini Cahaya, istriku," ujar Davin memperkenalkan Cahaya.


"Wah, cantik sekali. Kenalkan, aku Sarah," ucap Sarah dengan ramah.


"Terima kasih, Mbak. Mbak juga cantik," sahut Cahaya.


Mereka pun beralih ke pengantin pria yang bernama Gilang. "Selamat, ya, Tuan Gilang," ujar Davin menjabat tangan Gilang.


"Terima kasih, Tuan, senang sekali bertemu dengan anda di sini," ucap Davin.


"Selamat, ya, Tuan Gilang." Kini gantian Cahaya yang memberikan selamat.


"Sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu. Kau mirip sekali dengan mantan tunangan sepupuku, Bram," ujar Gilang.


Mendengar nama Bram, sontak Cahaya pun terkejut. Ternyata pria di depannya ini adalah sepupu dari mantan tunangannya yang dulu mencampakkannya begitu saja.


"Maaf, sepertinya salah orang," sahut Cahaya dengan gugup.


"Oh, iya, pasti aku salah orang. Karena setahuku, mantan tunangannya Bram itu kan hanyalah gadis biasa dan tidak secantik dirimu." Gilang tersenyum sambil meminta maaf pada Cahaya.


Justru ucapan itu membuat Cahaya merasa minder karena nyatanya Cahaya yang dibicarakan oleh Gilang adalah dirinya.


Davin langsung mengajak Cahaya pergi dari tempat itu menuju ke meja prasmanan di mana mereka akan makan. Karena setelahnya, Davin akan mengajak Cahaya pergi dari sana. Tidak etis rasanya jika dia pergi begitu saja padahal baru sampai.

__ADS_1


"Cahaya, Bram itu, mantan tunanganmu yang membuatmu hampir..."


"Ya, Mas, Bram itu yang dulu membuatku frustasi dan hampir bunuh diri," aku Cahaya.


"Apa kau tidak apa-apa jika kita berada di sini dulu sebentar? Karena tidak baik jika kita pergi dari sini padahal baru sampai."


"Ya, Mas, aku mengerti."


Saat sudah mengambil makanan, mereka pun memilih kursi untuk duduk menikmati makanan. Namun, saat Davin melihat Safira datang, dia pun langsung buru-buru pergi dan meminta izin pada Cahaya kuliahnya Safira.


Cahaya pun mengangguk setuju. Dia melihat Davin menghampiri Safira, sementara Rayden sibuk berbicara dengan orang lain tanpa memperdulikan istrinya.


Davin pun berhasil membawa Safira menuju ke teras lantai itu dan mengobrol bersama.


Cahaya pun memilih untuk melanjutkan makannya saja. Dia seakan tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar karena perutnya memang sudah lapar.


Namun, saat akan memakan sebuah steak, Cahaya kesulitan memotong steak itu hingga akhirnya, setelah steak itu terpotong dengan tarikan tenaga, potongan kecil itu pun melayang hingga mengenai salah satu gaun seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya.


Dengan emosi, wanita itu pun berbalik dan menghampiri Cahaya. Namun, betapa terkejutnya wanita itu saat melihat bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah Cahaya.


"I-iya, bu-bukankah kau Lia, istri Bram?" tanya Cahaya dengan ragu. Jujur saja, saat ini dia tidak ingin bertemu dengan mereka.


"Ya, aku Lia. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan mantan tunangan suamiku. Hebat sekali, ya karena kau bisa menggaet orang kaya seperti Davin.


"Maaf, aku harus pergi. Aku menyesal dengan gaunmu yang kotor," ucap Cahaya sambil berjalan meninggalkan Lia.


"Hei, mau kemana? Kenapa buru-buru?" Lia menahan tangan Cahaya agar tidak pergi.


Cahaya terdiam sambil menundukkan kepalanya karena kini beberapa pasang mata sedang melihat mereka.


"Wah, lihatlah pakaianmu. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya mewah. Beruntung sekali, bukan, menjadi istri konglomerat. Oh ya, kalau aku boleh tahu, pelet apa yang kau berikan padanya hingga dia mau menikahi wanita sepertimu?"


"Maaf, aku harus pergi." Cahaya pun pergi meninggalkan Lia. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba saja Lia berteriak.


"Mau kemana wanita kampungan?"


Cahaya pun berhenti, namun tak menoleh pada Lia. Tubuhnya seketika membeku karena kini semua mata tertuju padanya.

__ADS_1


Sedangkan Rayden yang sedang berada di kamar mandi tidak mengetahui hal ini. Safira dan Davin masih mengobrol di luar.


Cahaya tak akan ingin pingsan saja karena beberapa orang sudah mulai berbisik tentang dirinya.


"Apa kalian semua tahu bahwa wanita ini hanyalah wanita miskin? Dia pernah bertunangan dengan suami saya, tapi suami akhirnya membatalkan pernikahan karena menyadari bahwa dia adalah wanita kampungan. Yatim piatu yang diasuh oleh paman dan bibinya yang bahkan tak menginginkannya.


Dan alasan kenapa dia menikah dengan Davin karena dia sempat melakukan percobaan bunuh diri di atas jembatan!"


Cahaya terkejut mendengar ucapan Lia. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu mengetahui semuanya. Bahkan tentang dirinya yang hampir melakukan bunuh diri pun diketahuinya.


Hal yang tak diketahui Cahaya adalah ketika Bram diam-diam mengikutinya karena khawatir dengannya. Mereka telah menjalin hubungan sangat lama, mana mungkin Bram melupakannya begitu saja.


Bram pun melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Cahaya ditolong oleh Davin. Dari situ dia pun mengerti bahwa mereka menikah karena saling membutuhkan, bukan cinta.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Lia. Bahkan mereka dapat melihat wajah ketakutan Cahaya saat ini.


"Lia, apa-apaan kau ini! Membuat malu saja!" Bram menarik Lia agar segera menjauh dari tempat itu.


"Biar saja, Mas, biar semua orang mengetahui siapa wanita ini!" Lia kembali berteriak sambil menunjuk wajah Cahaya yang kini sudah mengeluarkan air matanya.


"Tapi kasihan dia!" Bram masih berusaha menarik istrinya dari kerumunan orang-orang yang menjadikan mereka pusat perhatian.


"Oh, jadi Davin terpaksa menikahinya. Pantas saja secepat itu mendapatkan jodoh. Lagipula wanita ini memang terlihat sangat kampungan. Mana pantas bersama Davin," ucap salah seorang wanita di sana.


"Benar, wanita itu memang terlihat tidak pantas dengan Davin."


"Ya ampun, gembel naik kelas."


"Pasti yang diincar harta."


"Apa peletnya hingga orang sekaya dan setampan Davin mau dengannya?"


Di tengah bisikan itu, Cahaya tidak mampu lagi berkutik. Lututnya seketika lemas dan dia pun jatuh terduduk.


"Cahaya! Cahaya!" seseorang pun berlari menghampiri Cahaya. Dia tak banyak melihat, hanya kakinya saja. Dan yang pasti, itu bukan Davin.


Keadaan mulai gelap gulita, hingga akhirnya Cahaya kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2