
Blanco Colima.
Olivia dan juga Teo sudah tiba di Blanco Colima, salah satu restaurant yang cukup terkenal di negaranya. Keduanya mulai memasuki restaurant tersebut dengan langkah kakinya yang elegant. Sosok Teo yang tak lain adalah pemilik perusahaan Albert Group, tentu saja sangat di kenal di kota itu, terutama di antara kaum hawa yang mencintai ketampanan dan kekayaan.
Para pengunjung restaurant itu saling berbisik, mereka seolah-olah tidak percaya jika yang mereka lihat saat ini adalah Teo Albert, pemilik perusahaan Albert Group, salah satu perusahaan terbesar di negara itu. Sementara itu, Olivia terlihat sangat bangga, karena dirinya adalah satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hati laki-laki dingin tersebut. Bahkan, para teman-temannya pun merasa sangat iri terhadap dirinya.
"Kalian pasti iri kan sama aku? Lihatlah tatapan mata kalian itu, benar-benar membuatku muak." Batin Olivia sembari menatap satu persatu pengunjung wanita yang menatap kekasihnya. Rasanya Olivia ingin mencongkel bola mata para perempuan itu, agar mereka tidak bisa melihat ketampanan kekasihnya.
"Sayang, lihatlah mereka menatapmu seperti itu. Bikin aku cemburu tahu." Bisik Olivia di telinga Teo.
Teo tersenyum, ia pun lantas mengusap puncak kepala sang kekasih. "Untuk apa kamu cemburu sama mereka? Bukankah kamu tahu jika hatiku hanya milikmu." Ucap Teo membuat Olivia semakin melebarkan senyumannya. Olivia jadi semakin yakin jika Teo memang benar-benar masih mencintai dan tergila-gila kepada dirinya.
"Tapi tetap saja aku merasa cemburu, aku tidak suka kalau kamu di tatap sama mereka, sayang." Ujar Olivia dengan nada suaranya yang manja.
"Jangan berlebihan, mereka.... " Ucapan Teo tercekat di tenggorokan ketika ia melihat gadis yang begitu di kenalinya sedang duduk bersama seorang laki-laki yang terlihat akrab di matanya. "Gadis itu, beraninya dia pergi tanpa izin dariku. Sialan." Batin Teo dengan tangan yang mulai terkepal kuat, menahan amarah dalam dirinya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Olivia, namun tidak di gubris oleh Teo. "Sayang, kamu kenapa sih?" Tanya Olivia lagi.
Teo masih diam, tatapan matanya masih tertuju pada gadis cantik yang memakai mini dress berwarna merah itu. Olivia lantas mengikuti arah pandangan kekasihnya, dan seketika ia pun mengepalkan satu tangannya ketika ia melihat adik tirinya yang begitu cantik bersama pria lain. "Sialan! Kenapa aku bisa bertemu dengan wanita murahan itu di sini? Ah aku tahu, bukankah ini adalah waktu yang pas untuk membuat Teo semakin membenci gadis murahan itu." Batin Olivia sembari menyunggingkan senyuman jahatnya.
"Sayang, bukankah itu Rea? Kenapa dia bisa ada di sini? Dan siapa laki-laki itu?" Olivia pura-pura terkejut, suaranya yang cukup keras membuat Teo seketika kembali ke alam sadarnya. "Seharusnya dia berada di rumahmu sekarang, bukankah saat ini dia sudah menjadi istrimu? Lalu, mengapa dia malah makan siang bersama laki-laki lain? Ternyata aku salah menilainya, aku pikir dia wanita baik-baik yang hanya mencintai kamu saja, bahkan dulu aku rela meninggalkanmu agar dia bahagia bersamamu, tetapi dia malah mengkhianatimu sekarang." Olivia kembali berucap, sengaja ingin memancing emosi dalam diri Teo, agar Teo semakin membenci gadis itu.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku, karena aku sudah memberikanmu kepada gadis seperti Rea, ini semua salahku. Aku,,, aku tidak tahu jika Rea adalah gadis seperti itu." Lagi, Olivia sengaja memancing emosi dalam diri Teo. Sementara itu, Teo yang mendengar ucapan Olivia pun lantas menoleh dan menatap Olivia.
"Kamu tidak salah, Olivia. Gadis itulah yang salah, dia sudah membuatmu pergi meninggalkanku, dan sekarang dia sudah berani mengkhianatiku. Aku harus memberinya pelajaran." Ucap Teo kembali mengepalkan tangannya kuat. Setelah itu, Teo pun langsung melangkahkan kedua kakinya menghampiri Rea, sementara Olivia, ia terlihat tersenyum jahat.
"Lihatlah laki-laki yang kamu cintai itu, Rea. Dia pasti akan membuatmu malu sekarang. Dan semua orang akan tahu, jika kamu adalah wanita murahan." Batin Olivia seraya melangkahkan kedua kakinya mengikuti Teo dari belakang.
Teo menghentikan langkah kakinya tepat di belakang laki-laki yang duduk bersama Rea. Tatapan matanya yang tajam terus tertuju pada Rea yang saat ini terlihat terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
"Bagus sekali, Rea. Di saat suamimu bekerja, kamu malah makan siang bersama laki-laki lain. Sungguh luar biasa." Ucap Teo dengan dingin. "Ah ternyata selain licik, kamu juga wanita MURAHAN." Sambung Teo masih dengan nada suaranya yang dingin.
Rea terlihat sangat marah, ia bahkan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Sementara itu, Stevan yang mendengar ucapan Teo pun tidak Terima, ia lantas berdiri, dan berbalik menatap tajam Teo yang terlihat terkejut. "Jaga ucapanmu, Teo. Dia bukan wanita murahan, sebutan itu tidak pantas untuk wanita sebaik dia." Ucap Stevan dengan nada suaranya yang tak kalah dingin dari Teo.
"Brengsek! Kau tahu dia adalah istriku, tapi kau malah mengajaknya makan siang. Benar-benar sulit di percaya." Teo menatap Stevan tajam, rasanya ia ingin sekali memukul wajah tampan sahabatnya itu, namun ia tidak bisa melakukannya sekarang, atau dia akan masuk dalam berita utama.
"Aku akan mengantarnya pulang. Lebih baik kamu lanjutkan lagi makan siangmu bersama kekasihmu ini." Sahut Stevan seraya melirik sekilas ke arah Olivia.
Teo tidak menggubris ucapan Stevan, ia terus menarik tangan Rea membuat gadis itu bangkit dari tempat duduknya. "Lepaskan, aku akan pulang bersama Stevan." Ucap Rea semakin memancing emosi dalam diri Teo.
"Aku tidak akan membiarkanmu pulang bersama laki-laki brengsek itu." Tegas Teo sembari menunjuk Stevan. "Ikut aku pulang, sekarang." Ucapnya lagi dengan nada yang emosi.
Olivia yang melihat hal itu pun terlihat sangat marah, bukan ini yang ia inginkan, ia menginginkan Teo mempermalukan Rea di muka umum, bukan malah membawanya pulang. Tidak bisa, Olivia tidak bisa membiarkan Teo membawa gadis itu pulang sebelum gadis itu di permalukan. Pikir Olivia.
__ADS_1
"Jangan memaksanya. Dia tidak mau pulang bersamamu." Ucap Stevan seraya berjalan dan menghampiri Teo yang saat ini masih menggenggam erat lengan Rea. "Pergilah bersama kekasihmu, jangan membuat keributan di sini." Sambung Stevan sembari mencekal tangan Teo.
"Dia istriku, aku berhak membawanya pulang bersamaku. Sementara kau, kau itu hanya laki-laki yang pernah memberinya tumpangan, jadi sebaiknya kau jauhi dia, sebelum aku menghancurkan perusahaanmu, mengerti." Ucap Teo dengan nada yang mengancam.
Stevan terkekeh, ia sama sekali tidak takut dengan ancaman yang di lontarkan oleh sahabatnya tersebut. "Kau yakin bisa menghancurkan perusahaanku? Coba saja." Jawab Stevan dengan enteng.
"Brengsek! Kau menantangku!" Emosi Teo semakin meluap, suasana dalam restaurant itu semakin mencekam, semua pengunjung hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan.
"Aku akan pulang bersamamu." Suara Rea membuat Teo tersenyum puas, sementara Stevan ia terlihat tidak terima begituoun juga dengan Olivia.
"Sayang, kalau kamu pulang, lalu aku makan siang bersama siapa?" tanya Olivia terlihat sedih.
"Makan siang sendiri dulu, lain kali aku akan menemanimu, ok." Jawab Teo membuat Olivia kesal.
"Tidak mau, aku akan ikut pulang bersamamu, bolehkan." Ucap Olivia dengan tatapan mata yang memohon.
Teo menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu ia pun langsung melangkahkan kedua kakinya dan menarik tangan Rea.
"Bercerailah dengan Rea, karena Rea tidak butuh laki-laki bajingan sepertimu." Ucap Stevan menghentikan langkah kaki Teo.
"Bukankah kekasihmu sudah kembali, itu artinya kau harus melepaskan Rea." Sambung Stevan lagi.
__ADS_1
Bersambung.