Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Ungkapan Stevan


__ADS_3

Toko Bunga


"Rea.... " Suara seorang laki-laki terdengar jelas di telinga Rea saat ini, membuat gadis itu lantas menoleh dan mendapati laki-laki yang begitu di kenalnya sedang tersenyum menatap dirinya. "Ternyata benar kamu Rea." Sambung laki-laki itu tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang terbilang tampan.


"Sungguh suatu kebetulan bisa bertemu denganmu disini. Apakah dunia ini sangat kecil?" Ucap Rea membuat senyuman di wajah laki-laki tampan itu semakin mengembang sempurna.


"Mungkin itu sudah takdir Tuhan," sahut laki-laki itu dengan lembut.


"Hmm, apakah kamu ingin membeli bunga?" tanya Rea mulai mengalihkan pembicaraannya, menatap laki-laki tampan itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang cantik.


"Ya, tidak mungkin aku kesini untuk membeli makanan, bukan?" jawab laki-laki tersebut di iringi dengan kekehan nya. "Kamu juga membeli bunga? Untuk siapa? Apakah untuk suamimu?" tanyanya dengan sangat penasaran. Hatinya terasa panas, seolah-olah terbakar api yang ntah datang dari mana asalnya, laki-laki sendiri itu pun tidak tahu. Yang jelas, laki-laki itu sedang cemburu pada wanita yang telah menarik perhatiannya itu.


Rea tertawa pelan, ia menatap bunga yang sudah berada di genggaman tangannya, lalu menatap laki-laki tampan tersebut. "Stevan! Apakah menurutmu seorang wanita pantas memberikan bunga kepada seorang laki-laki? Sepertinya tidak." Rea bertanya, namun dia sendiri yang menjawab pertanyaannya membuat laki-laki tampan yang tak lain adalah Stevan tertawa kecil.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Rea seraya mengernyitkan keningnya bingung.


"Kamu bertanya, tetapi kamu sendiri yang menjawabnya. Bukankah itu sangat lucu?" ucap Stevan sembari mengambil setangkai mawar merah, lalu memberikannya pada Rea.


Rea nampak terdiam, alisnya bertaut dengan kening berkerut, menatap bunga mawar merah, serta wajah berbinar laki-laki tampan itu. "Kenapa kamu memberiku bunga mawar merah itu?" tanya Rea bingung.


"Memangnya tidak boleh?" Stevan berbalik nanya dengan lembut. Tatapan matanya begitu dalam dan menenangkan, membuat Rea sedikit salah tingkah. "Ambillah, aku memang ingin membelikan kamu bunga mawar merah ini. Apakah kamu tidak menyukainya?" Stevan kembali menyerahkan setangkai mawar merah itu pada Rea. Namun, gadis itu masih bergeming tanpa berniat untuk mengambil mawar merah tersebut.


"Stevan! Apakah kamu tahu arti dari mawar merah ini?" tanya Rea terdengar lirih.


"Lebih baik, kamu berikan mawar merah itu sama gadis yang kamu cintai. Bukan sama aku." Ucap Rea di iringi dengan helaan nafasnya. Rea tahu Stevan tertarik pada dirinya, tapi dia tidak menyangka jika Stevan akan memberikan bunga mawar merah itu, dan secara tidak langsung Stevan mengungkapkan perasaannya.


"Gadis yang aku cintai itu kamu. Jadi, aku memberikan mawar merah ini sama kamu." Tutur Stevan terlihat begitu serius, menatap istri dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan gila, Stevan! Kamu tahu kan kalau aku ini istri Teo? Meskipun aku kehilangan ingatanku, tapi aku masih tetap istri Teo, meskipun di masa lalu Teo sering menyakitiku, tapi.... "


"Aku tahu itu. Tapi, perasaan ini muncul tanpa aku minta. Dan aku tidak bisa menghindarinya lagi. Beri aku kesempatan, aku yakin, aku bisa membahagiakanmu daripada Teo." Ucap Stevan menyela ucapan Rea yang belum selesai. Ia benar-benar sudah jatuh cinta pada istri sahabatnya itu, sehingga ia sudah tidak perduli lagi tentang persahabatannya dengan Teo. Toh, ketika dulu Teo menyia-nyiakan gadis itu, bahkan Teo selalu menyakitinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika Stevan berniat untuk merebut Rea dari Teo?


Rea menghela nafasnya kasar, menghadapi laki-laki seperti Stevan ternyata cukup membuat pelipisnya berdenyut. "Aku tidak bisa, Stevan. Aku... Aku tidak ingin hubunganmu dengan Teo rusak gara-gara aku. Jadi, berhentilah mencintai aku, carilah wanita yang benar-benar pantas untukmu." Ucap Rea terdengar begitu menusuk hati membuat raut wajah Stevan berubah dalam seperkian detik.


Stevan menatap Rea dengan sendu, setangkai mawar merah yang ia genggam terjatuh begitu saja, seolah-olah tangan Stevan lemas tak bertenaga.


"Aku pergi dulu," Rea kembali bersuara, sebelum akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Stevan yang masih termangu di tempatnya.


Stevan tidak dapat berucap sepatah kata pun, ia hanya bisa memandang gadis yang di cintainya itu pergi meninggalkan rasa sakit yang cukup dalam di hatinya. Berlebihan memang, namun itulah yang di rasakan oleh Stevan saat ini.


"Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita itu memang sangat sakit. Tetapi, bukan berarti kita harus lemah karena cinta, masih banyak pilihan di luaran sana, mungkin Tuhan sedang menyiapkan seseorang untuk menjadi jodohmu kelak." Suara lembut dari seorang wanita membuat Stevan tersadar dadi keterdiamannya. Ia lantas menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita sedang tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


Stevan mendesah pelan, ia pun kembali memutar tubuhnya dan pergi tanpa mengatakan apa pun pada wanita cantik itu.


__ADS_2