Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Pemaksa


__ADS_3

Perusahaan NIOS Group.


Stevan mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Di hadapannya terlihat seorang pria yang cukup tampan sedang memberikan laporan tentang kerja sama perusahaannya dengan salah satu perusahaan yang cukup terkenal di kota itu.


"Lusa, tuan Xio akan datang bersama istrinya." Ucap si pria itu yang tak lain adalah asisten pribadinya.


"Siapkan jamuan spesial untuk mereka." Perintah Stevan dengan nadanya yang dingin seperti biasanya.


Sang asisten mengangguk paham, ia pun kembali membuka suaranya. "Mengenai nona Olivia, saya mendapat kabar jika dia sudah kembali." Ucapnya membuat Stevan seketika menyunggingkan senyumannya.


"Bagus! Dengan begitu Teo pasti akan menceraikan Rea secepatnya." Tutur Stevan sembari menyanggah dagunya menggunakan kedua tangannya. "Kau boleh keluar." Usirnya yang mendapat anggukkan dari sang asisten.


Setelah itu si asisten itu pun berbalik, kemudian ia pun melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan ruangan sang bos.


Setelah kepergian sang asisten, Stevan pun kembali menyunggingkan senyumannya, ia meraih ponsel yang sengaja ia letakkan di atas meja, kemudian ia pun segera mencari kontak Rea.


Setelah menemukan kontak gadis itu, Stevan pun langsung menghubunginya, ia berniat untuk mengajak gadis itu keluar makan siang bersama dirinya. Namun sayangnya, panggilannya tidak si jawab oleh gadis cantik itu, membuat Stevan terlihat kesal.

__ADS_1


"Apa dia sengaja tidak menjawab panggilanku? Atau dia sedang sibuk?" Stevan bertanya-tanya sendirian, ia pun kembali mengulang panggilannya kepada gadis itu.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya panggilannya yang kedua pun di jawab oleh gadis pujaannya membuat Stevan kembali menyunggingkan senyumannya yang manis.


"Ada apa?" Tanya Rea terdengar dingin di telinga Stevan. Namun meskipun begitu, Stevan tetap tersenyum manis.


"Apa aku sudah mengganggu waktumu?" Stevan berbalik nanya dengan nadanya yang lembut.


"Katakan saja, ada apa kamu menghubungiku?" Tanya Rea terdengar semakin dingin saja.


"Tidak ada. Aku sibuk!" Sahut Rea singkat dan padat.


"Ayolah, kali ini saja." Bujuk Stevan tidak menyerah.


"Tidak bisa, Stev! Aku sibuk." Tolak Rea kekeh.


"Kalau begitu aku akan pergi ke tempatmu sekarang." Ucap Stevan membuat Rea terkejut di seberang telpon sana.

__ADS_1


"Jangan becanda! Ini sama sekali tidak lucu." Seru Rea terdengar kesal.


"Aku tidak becanda, Rea. Aku serius." Stevan menjeda ucapannya beberapa saat, kemudian ia pun berkata kembali. "Aku akan melakukan apa pun agar bisa bertemu denganmu, termasuk mendatangi Mansion Teo." Ucapnya dengan serius.


"Kau sudah gila, Stev!" Seru Rea semakin terdengar kesal.


Ya, aku memang sudah gila, Rea. Gila karena dirimu. Jadi, kamu tinggal pilih, kita ketemu di luar untuk makan siang, atau aku akan mendatangi tempatmu saat ini juga." Ucap Stevan dengan nada yang sedikit mengancam.


"Ok, kita ketemu di luar, puas." Jawab Rea membuat Stevan tersenyum senang.


"Belum! Setelah aku bertemu denganmu, baru aku merasa puas." Ucap Stevan tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya yang tampan itu. "Baiklah, nanti aku akan mengirimkanmu pesan, tempat untuk kita makan siang, ok." Sambung Stevan seraya melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya.


"Terserah kau saja. Pemaksa." Ucap Rea sangat kesal. Setelah itu Rea pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak.


"Pemaksa? Ini memang pantas sebutan untukku." Kekeh Stevan seraya menatap layar ponselnya yang sudah mati. "Rea, aku pasti bisa mendapatkanmu, gadis dingin." Batinnya dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampan itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2