
Dua puluh dua tahun yang lalu. Tepat saat umur anak dari pasangan Anggara dan Naya berumur 1 tahun.
Darsih yang saat itu melewati rumah mereka melihat ada sepasang suami istri yang sepertinya memiliki hubungan dengan mereka.
Di sana, terlihat mereka menyerahkan seorang anak perempuan yang berusia kurang lebih 1 tahun. Anak itu terlihat menangis menjerit saat sudah digendong oleh pasangan tamu itu. Namun, sang Ibu hanya bisa menangis dan memeluk suaminya.
Dan setelahnya, pasangan tamu itu pun segera pergi membawa sang anak yang masih menangis histeris karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Pasangan kamu itu pun pergi menggunakan mobil, sedangkan Anggara dan Naya hanya bisa menangis meratapi kepergian putrinya.
Darsih yang tak terlalu ikut campur dengan urusan orang lain hanya lewat saja dan menyimpan apa yang dilihatnya untuk dirinya sendiri. Lain hanya dengan tetangga lainnya yang terlihat sedang mengintip dari pekarangan rumah mereka masing-masing guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga pada malam harinya, saat hujan lebat dan listrik di daerah itu pun padam, semua orang terlelap dalam tidurnya masing-masing. Namun, di rumah Anggara dan Naya, ada sebuah keributan di mana beberapa orang pria berbadan besar datang dan menyerang mereka. Derasnya hujan dan jarak rumah yang lumayan jauh dari tetangga membuat teriakan mereka tak terdengar oleh siapapun.
Hingga saat Darsih terbangun karena lupa mengunci pintu gerbang, dia pun melihat dari kejauhan bahwa ada beberapa orang yang keluar dari rumah Anggara dan Naya menggunakan mobil Jeep. Mereka berjumlah empat orang dengan tubuh besar. Seseorang diantaranya menggunakan tato di tangan kanannya. Tato itu cukup besar untuk dilihat dari kejauhan. Dan Darsih yakin bahwa tato itu berbentuk naga.
__ADS_1
Dia tidak begitu menanggapi karena mungkin saja itu adalah tamu mereka. Hingga saat keesokan harinya di mana kampung itu pun gempar karena ditemukannya dua jenazah yaitu Anggara dan Naya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan di mana mereka mengalami luka tusukan di tubuh. Dan posisi mereka saat itu saling berpelukan. Sepertinya saat mereka sekarat, mereka mencoba untuk saling menggapai hingga akhirnya berpelukan untuk yang terakhir kalinya.
Saat polisi menyelidiki kasus itu, mereka tidak menemukan petunjuk apapun, bahkan sidik jari karena pembunuhan ini sangat rapi. Sedangkan Darsih yang menjadi satu-satunya saksi yang mengetahui tentang pelakunya hanya diam dan seolah-olah tidak tahu.
Bukan karena tidak memiliki hati nurani. Hanya saja, dia takut jika dirinya menjadi saksi, maka dia akan mengalami banyak teror dari pelakunya. Apalagi dia hanya hidup berdua saja dengan sang anak yang sudah ditinggal ayahnya saat masih dalam kandungan.
"Begitulah ceritanya, Nak Davin." Darsih pun mengakhiri ceritanya.
Davin menyeka sudut matanya. Bagaimana kalau Cahaya tahu bahwa orang tuanya meninggal dengan cara yang mengerikan seperti itu?
"Ya, semua orang di kampung ini tahu bahwa hampir setiap minggu mereka didatangi orang berpakaian rapi yang mereka duga adalah penagih hutang. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa pelakunya adalah mereka. Namun, polisi tidak dapat membuktikannya karena tidak menemukan apa-apa di lokasi kejadian. Bahkan orang-orang biasa datang ke rumah mereka juga bukanlah pelakunya."
"Oh ya, apa Ibu tahu siapa nama anak mereka?"
__ADS_1
"Ya, namanya adalah Mentari."
"Ya, Bu, tapi sekarang namanya sudah berubah."
"Apa?"
"Hah? Siapa namanya? Dan darimana kau tahu?"
"Namanya adalah Cahaya Mentari. Dan saat ini dia sedang berada di mobil saya."
"Apa?"
***
__ADS_1
Hai, gaes, ada rekomendasi novel bagus nih buat kalian. Jangan lupa mampir ya