Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Makan Siang


__ADS_3

Kini Cahaya, Davin, dan orang tua Davin sedang makan siang bersama.


Terlihat Cahaya begitu gugup saat memotong steak dengan pisau dan garpu.


Takkk. Pisau yang ia gunakan untuk memotong daging steak membentur dasar piring karena ia terlalu kuat menekannya. Ia mengambil potongan yang masih agak besar dan menggigit setengahnya saja.


Kedua orang tua Davin saling pandang melihat cara makan Cahaya.


Davin memberi isyarat kepada mereka agar memaklumi Cahaya. Davin memang sudah membriefing Cahaya, tetapi, untuk hal yang baru untuk Cahaya, wajar saja ia melakukan kesalahan kecil.


"Apa makanannya enak?" tanya Sevina memecah kecanggungan Cahaya.


"E-enak, Tante." Cahaya mengangguk sembari tersenyum.


"Berapa usiamu?"


"Dua puluh tiga tahun, Tante."


"Usia yang pas, jadi ketika kalian sudah menikah nanti, kalian bisa langsung program hamil."


Sontak ucapan Sevina membuat Davin terbatuk-batuk.


"Davin, kenapa? Tidak sabar ya?" goda Sevina diikuti tawa jahilnya.


"Tidak, Ma," jawab Davin dengan gugup.


"Bagaimana, Cahaya? Kau tidak akan menunda untuk punya anak, kan? Tante ingin sekali menimang cucu. Teman-teman Tante saja cucunya sudah banyak."


"Ma, Sifa kan bisa memberikan cucu untuk Mama. Dia sudah setahun menikah, kenapa Mama tidak bertanya padanya?"


"Mereka itu super sibuk. Kau tahu sendiri kan kalau suami Sifa itu juga sering keluar masuk negeri demi pekerjaan."


"Seharusnya dia berhenti saja bekerja agar fokus punya anak."


"Davin, kau tahu sendiri kan bagaimana ambisiusnya Sifa jika menyangkut pekerjaan? Apa kau bisa membujuknya?"


Davin hanya diam saja. Bicara dengan ibunya memang tidak akan ada habisnya. Memang lebih baik seperti papanya saja yang hanya diam mendengarkan.


"Bagaimana, Cahaya?" tanya Sevina lagi. Sepertinya ia benar-benar ingin mendengar jawaban langsung dari Cahaya.

__ADS_1


Cahaya yang awalnya tertunduk akhirnya mengangkat kepalanya seraya berkata, "Saya mau mau saja, Tante. Hanya Mas Davin saja maunya bagaimana."


Mendengar jawaban Cahaya, Davin membelalakkan matanya.


"Bagaimana, Davin? Apa kau mau mempunyai anak setelah menikah? Atau kau berencana ingin hidup berdua saja dengan Cahaya?" Sevina menatap Davin dengan ragu. Ia sungguh khawatir jika Davin benar-benar seorang Guy atau penyuka sesama jenis.


"Eh, anu, Ma. Soal anak kan pemberian dari Allah, kita tidak bisa memastikan apakah bisa atau tidaknya."


"Setidaknya kau harus berusaha, bukan hanya bicara saja."


"Ya, Ma, ka-kami akan berusaha, iya kan Cahaya." Davin menatap Cahaya dengan tatapan aneh. Seperti memberi kode supaya Cahaya mengangguk setuju.


"Iya, Mas, kita akan berusaha nanti. Kalau bisa kita melakukannya setiap hari, agar langsung jadi." Cahaya berkata dengan polosnya.


Membuat tiga orang yang mendengar perkataannya langsung membelalakkan matanya melihat kepolosan Cahaya. Davin menundukkan kepalanya seraya memijit pelipisnya.


Sevina dan David hanya bisa saling pandang.


"Eh, maksudnya, kita akan berusaha melakukan program hamil, mengikuti saran dokter, dan terus berdoa, setiap hari."


Sevina menghembuskan napas lega. "Iya, maksudnya seperti itu. Kalian harus berusaha setiap hari."


"Oh ya, Minggu depan, kita akan mengadakan pesta pertunangan kalian, jadi, persiapkan diri kalian. Davin, ambil cuti tiga hari sebelum hari pertunangan. Mama akan mengundang teman-teman arisan Mama, juga keluarga Mama dan Papa. Kau hanya boleh mengundang teman-teman dekatmu saja."


"Baik, Ma."


"Cahaya, kau boleh mengundang teman dekatmu."


"Saya tidak punya teman, Tante. Sepertinya yang datang hanya Om dan Tante saya saja," ucap Cahaya dengan lugu.


Sevina menatap iba pada Cahaya, begitu juga dengan Davin. Ia yang mengerti bagaimana kehidupan Cahaya hanya bisa memberikan senyuman kepada Cahaya agar terhibur.


****


Cahaya dan Davin sedang dalam perjalanan menuju rumah Cahaya.


"Cahaya, maafkan atas ucapan mamaku tadi, ya. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Davin.


"Ucapan yang mana, Mas? Aku rasa semua yang dikatakan Tante Sevina tidak ada yang salah." Cahaya menatap heran.

__ADS_1


"Apa kau yakin tidak ada yang salah?"


Cahaya menggeleng.


"Masalah punya anak setelah menikah. Aku rasa kita harus memikirkan itu lagi. Kau tahu kan perjanjian kita untuk bercerai setahun setelah menikah?" Davin kembali mengingatkan.


"Maaf, Mas, bisakah kita tidak berpisah?" tanya Cahaya dengan ragu.


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Aku tidak ingin mengecewakan orang tuamu. Tante Sevina dan Om David sangat baik. Bagaimana perasaan mereka jika kita berpisah sementara mereka mengharapkan anak dari kita?"


"Lalu, apa keinginanmu?"


"Bisakah kita tetap bersama dan punya anak?" Cahaya menatap Davin dengan ragu. Ia berusaha menutupi rasa malunya dengan tersenyum.


"Cahaya, kita tidak saling mencintai. Kita tidak boleh menyakiti hati kita dengan ikatan pernikahan ini."


"Tapi, bagaimana jika aku mencintaimu, Mas?"


Davin terkejut dengan apa yang Cahaya ucapkan.


"Jangan bercanda, Cahaya, kita baru bertemu beberapa hari yang lalu. Kau tidak tahu bagaimana sifat ku, kepribadianku, kebiasaan ku yang mungkin tidak kau sukai." Davin kembali mengingatkan.


"Maaf, Mas, kau mempunyai segala yang disukai wanita. Kau mapan, tampan, dan sangat baik, bagaimana aku tidak menyukaimu, Mas. Hanya orang munafik yang bilang menikah denganmu adalah keterpaksaan. Bagiku, menikah denganmu adalah suatu keberuntungan."


Davin semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka. Tidak mungkin kan ia mengatakan kalau Cahaya bukanlah seleranya. Ia hanya menyukai wanita seperti Safira, istri sepupunya yang bernama Rayden. Wanita berhijab yang mempunyai sifat lembut, bukan seperti Cahaya yang sedikit blak-blakan.


"Maaf, Cahaya, seperti kataku sebelumnya, kita akan berpisah setahun setelah menikah. Soal orang tuaku, kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya." Davin kembali fokus ke jalanan.


"Aku mengerti, maaf, karena lancang." Cahaya menundukkan kepalanya. Malu bercampur sedih kini tengah menguasai hatinya. 'Aku tahu kenapa kau tidak mau. Aku hanyalah gadis miskin yang mungkin saja akan membuatmu malu. Hahaha, harusnya aku sadar diri,' batinnya.


Suasana kembali hening. Keduanya tampak saling diam-diaman. Hingga saat mereka sampai di rumah om dan tante Cahaya, Davin mengatakan sesuatu pada Cahaya yang membuatnya langsung tersenyum bahkan sampai di penghujung malam.


Ia berbaring di atas ranjang dengan senyuman yang tak mau hilang sejak kepulangannya dari rumah Davin.


"Aku tidak dapat memprediksi masa depan. Aku juga tahu bahwa jodoh ada di tangan Allah. DIA lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Jika di penghujung tahun perceraian kita timbul rasa, maka itu artinya kita ditakdirkan berjodoh. Jangan memaksakan perasaan seseorang. Hanya hati yang dapat mengubah perasaan itu. Tetaplah jadi dirimu. Jika kau memang ditakdirkan untukku, pasti kita akan bersama selamanya dalam ikatan pernikahan dengan cinta di dalamnya. Semua butuh waktu, aku harap kau mengerti."


Jelas sekali Cahaya mengerti maksud perkataan Davin. Intinya, jika sebelum bercerai Davin jatuh cinta pada Cahaya, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan bersama menjadi pasangan sungguhan yang saling mencintai.

__ADS_1


"Aku akan menunggu waktu itu tiba, Mas. Aku akan berusaha membuatmu mencintai ku. Terima kasih, setidaknya kau memberiku sedikit harapan." Cahaya memejamkan mata dengan senyuman masih menghiasi wajahnya. Dan dapat dipastikan, malam ini ia akan bermimpi indah.


__ADS_2