Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Apakah kita saling mencintai


__ADS_3

Rumah sakit.


Teo menatap Rea yang masih menutup kedua bola matanya dengan rapat, sedari tadi ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Rea, berharap ketika Rea sadar, dirinya lah orang pertama yang Rea lihat.


Beberapa saat kemudian...


Jari jemari Rea mulai bergerak, perlahan kedua matanya pun mulai terbuka membuat Teo sangat senang, begitu pun juga dengan mama Grace.


"Akhirnya kamu sadar juga, Rea. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Teo sembari menggenggam tangan Rea. Sementara mama Grace terlihat tersenyum sendu sambil menatap putri yang selama ini ia acuh kan.


Rea terdiam, ia masih merasakan sakit di kepalanya, juga ia tidak bisa mengingat siapa laki-laki yang sedang menggenggam tangannya itu. Bahkan, untuk mengingat namanya saja, Rea tidak bisa.


"Kamu siapa?" Tanya Rea dengan nada suaranya yang terdengar lemah.


"Aku suami kamu, Rea. Syukurlah kamu sudah sadar sekarang." Jawab Teo dengan seulas senyuman di wajahnya.


Rea mengernyitkan keningnya, ia menatap Teo dengan tatapan mata yang seolah-olah ia tidak mempercayai apa yang di ucapkan oleh Teo barusan. "Suami? Apa aku sudah memiliki suami? Atau dia sedang membohongiku?" Batin Rea merasakan curiga. "Sebenarnya siapa aku? Kenapa aku bisa berada di sini?" Lagi, Rea membatin sembari berusaha untuk mengingat namanya sendiri, namun sayangnya ia sama sekali tidak bisa mengingatnya, dan kepalanya terasa sangat menyakitkan. "Aaaawww... " Ringisnya sembari memegang kepalanya.


"Ada apa? Apakah kepalamu sakit?" Tanya Teo terlihat sangat khawatir, seolah-olah gadis itu adalah gadis yang begitu di cintainya.

__ADS_1


"Ya! Apa kamu benar-benar suamiku? Lalu, siapa namaku? Kenapa aku bisa ada di sini?" Rea berbalik nanya kepada Teo. Meskipun ia tidak mengingat siapa laki-laki yang berada di depannya itu, namun tidak ada salahnya bukan jika ia bertanya.


"Rea. Ya, nama kamu Rea. Dan aku benar-benar suamimu." Teo menjeda ucapannya sejenak, ia menatap gadis itu dengan tatapan matanya dalam. "Kamu mengalami kecelakaan, dan akulah yang menyebabkanmu kecelakaan. Maafkan aku." Sambungnya lagi.


Rea terdiam dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Teo, ntah kebohongan atau kejujuran yang Teo ucapkan, Rea sendiri tidak tahu. Namun, ketika ia melihat tatapan mata laki-laki yang mengaku sebagai suaminya itu, ia merasa jika ucapan laki-laki itu memanglah benar.


"Mama akan memanggil dokter dulu untuk memeriksa Rea." Tiba-tiba mama Grace membuka mulutnya, membuat Rea langsung mengalihkan pandangannya kepada mama Grace.


"Tante siapa? Tante mamanya dia?" tanya Rea dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.


Mama Grace tersenyum, ia pun lantas menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi tante mama kamu Rea." Jawab mama Grace dengan lembut tidak seperti dulu.


"Papamu sudah meninggal, sayang. Dan itu sudah sangat lama sekali." Jawab mama Grace terlihat menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Mama panggilkan dokter untuk memeriksamu, ya." Sambung mama Grace yang hanya mendapat anggukkan kepala dari Rea. Setelah itu mana Grace pun berbalik, kemudian ia pun melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Rea menatap kepergian mama Grace dengan sendu, meskipun ia tidak mengingat mama Grace adalah mama kandungnya, namun hatinya merasa yakin jika yang di ucapkan oleh mama Grace memanglah benar.


"Rea, apakah kepalamu sakit lagi?" Suara Teo menyadarkan Rea dari lamunannya. Lantas Rea pun kembali mengalihkan pandangannya kepada Teo.


"Sedikit." Jawab Rea singkat dan padat.

__ADS_1


"Bersabarlah, mamamu sedang memanggil dokter kesini." Ucap Teo dengan nada suaranya yang halus dan lembut tidak sama seperti dulu yang begitu dingin.


Rea hanya menganggukkan kepalanya, ia kembali mencoba untuk mengingat-ngingat dirinya, namun sayangnya ia tidak bisa. "Apa namaku benar-benar Rea? Dan laki-laki ini benar-benar suamiku? Kenapa aku tidak merasakan apa pun terhadap laki-laki ini? Kenapa aku merasa dia seperti orang asing? Apakah ini karena aku kehilangan ingatanku?" Batin Rea.


"Maafkan aku, karena aku, kamu menjadi seperti ini. Aku benar-benar sangat menyesal." Teo kembali meminta maaf kepada Rea, laki-laki yang biasanya dingin itu seketika berubah menjadi lembut dan halus. Bahkan tatapan matanya yang dulu selalu dingin, kini mendadak berubah menjadi hangat.


"Meskipun aku tidak mengingatnya, tetapi aku akan memaafkanmu." Jawab Rea pelan, namun terdengar dingin.


"Sungguh?"


"Ya!" Sahut Rea singkat dan padat.


"Terima kasih, Rea. Aku janji, aku akan menebus semua kesalahanku terhadapmu. Percayalah." Ucap Teo benar-benar serius.


"Aku tidak tahu kesalahanmu apa, karena aku sama sekali tidak mengingatnya. Tapi, apa aku boleh bertanya satu hal?" Tanya Rea dengan nada suaranya yang masih pelan namun terdengar dingin.


"Tentu saja, kamu boleh bertanya apa pun yang ingin kamu tanyakan kepadaku." Jawab Teo dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampan itu. Namun sayangnya wajah tampan itu saat ini penuh luka lebam, akibat perkelaihannya dengan Stevan.


"Apakah kita saling mencintai?" Tanya Rea membuat Teo langsung terdiam.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2