
"Jadi, kalian ini pasangan suami istri?" tanya Darsih sambil menatap Cahaya dan Davin secara bergantian.
"Iya, Bu," sahut mereka berbarengan.
Sedangkan Reno hanya menatap mereka dengan tatapan penuh kekecewaan karena merasa tertipu oleh Cahaya yang dia kira belum memiliki suami.
"Syukurlah kalau kalian sudah berbaikan. Tapi, Ibu ingin berpesan Cahaya. Jika kita memiliki masalah rumah tangga, kabur bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan."
"Iya, Bu, saya mengerti. Saya minta maaf karena sudah merepotkan ibu." Cahaya menundukkan kepalanya tanda rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Kehadiranmu di sini sudah cukup membuat Reno bahagia. Selama ini, Ibu tersenyum lepas seperti belakangan ini." Darsih tersenyum menatap Cahaya.
Davin langsung refleks menoleh ke arah Cahaya. Dia melihat Cahaya yang sengaja mengalihkan pandangan. Dia seperti tahu bahwa Davin sedang mencurigainya.
'Aduh, Bu, kenapa dibahas lagi. Nanti Mas Davin marah,' batin Cahaya sambil menghindari tatapan dari Davin.
Reno yang sudah terlanjur kecewa pun langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
__ADS_1
Melihat kepergian Reno yang terkesan tidak sopan itu, Davin mengerti bahwa pria itu menyukai istrinya.
"Maafkan sikap Reno, ya. Soalnya, selama ini Cahaya adalah orang yang paling dekat dengannya. Cahaya bekerja di toko roti milik Reno. Jadi, wajar saja kalau mereka jadi dekat." Darsih melihat reaksi Davin yang langsung berubah setelah mendengar kalimat itu.
"Maaf, Bu, sepertinya hal itu tidak perlu dibahas lagi." Cahaya mencoba menegur Darsih agar menghentikan ucapannya mengenai kedekatannya dengan Reno selama ini.
"Oh, maaf, Cahaya. Ibu hanya ingat masa lalu saja. Maklum, selama ini Reno tidak mau dekat dengan wanita manapun kecuali dirimu. Bahkan dia menolak banyak gadis dan...."
"Bu, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan." Davin yang merasa bahwa Darsih hanya ingin memanas manasinya saja pun akhirnya berbicara. Dia sudah tidak ingin mendengar ocehan tentang kedekatan Cahaya dengan Reno.
"Ya, Nak Davin, katakan saja."
Cahaya pun langsung mengangguk dan pergi ke mobil.
"Apa benar, beberapa bulan lalu ada tragedi pembunuhan di rumah yang ditempati Cahaya?"
"Oh, iya, benar. Ada sepasang suami istri yang menjadi korban pembunuhan adik mereka sendiri dikarenakan masalah keluarga."
__ADS_1
"Oh, tragis sekali, ya, Bu. Bagaimana bisa ada orang-orang kejam seperti itu."
"Benar, mereka sangat kejam. Tapi bahkan ada yang lebih kejam lagi. Puluhan tahun yang lalu, saat Reno masih kecil, ada tragedi pembunuhan pasangan suami-isteri yang tak jauh dari sini. Sampai sekarang pelakunya belum juga tertangkap."
"Oh ya? Siapa mereka, Bu?"
"Kalau namanya saya lupa lupa ingat. Kalau tidak salah nama suaminya Anggara dan istrinya saya lupa."
"Apa namanya Naya?"
"Nah, iya, benar, namanya adalah Naya. Eh, tapi dari mana kau tahu bahwa namanya adalah Naya?"
"Saya sedang menangani kasus ini, Bu. Bisakah Ibu ceritakan bagaimana detail kejadiannya?"
"Maaf, memangnya kau ini polisi?"
"Tidak, tapi saya bekerjasama dengan detektif untuk mendalami kasus ini."
__ADS_1
Darsih akhirnya menyadari bahwa pria tampan di depannya ini bukanlah orang sembarangan seperti dugaannya sebelumnya. Bahkan dia mengira bahwa mobil yang dinaiki Davin adalah mobil sewaan. Nyatanya, dia harus menelan kekecewaan jika benar Davin adalah orang yang penting. Mana mungkin dia memiliki kesempatan lagi untuk menarik Cahaya menjadi istri Reno.
"Ya, saya akan menceritakan detail kejadiannya. Pada saat itu...."