
Mansion Albert.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, saat ini Teo baru saja tiba di Mansionnya. Ia berjalan melangkahkan kedua kakinya memasuki mansion tersebut. Berta yang melihat kepulangannya pun seketika mengernyitkan keningnya, karena tidak biasanya Teo pulang malam begini. Namun, Berta tidak ambil pusing, ia pun langsung menyambut tuannya dengan ramah.
"Selamat malam tuan. Biar saya bawakan tas anda, tuan." Sambut Berta sekaligus menawarkan dirinya untuk membawakan tas kerja Teo.
"Tidak perlu." Jawab Teo singkat. "Apakah dia sudah makan?" Tanya Teo sembari melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya.
"Maksud anda nona Rea, tuan?" Tanya Berta hati-hati.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan dia. Kau ini seperti baru bekerja disini saja." Ucap Teo terdengar kesal di telinga Berta.
"Sudah, tuan." Sahut Berta dengan cepat.
"Baguslah kalau begitu." Teo menghela nafasnya panjang, kemudian ia menatap Berta. "Dia tidak mengerjakan apapun kan?" Tanya Teo yang mendapat gelengan kepala dari Berta. "Nurut juga dia rupanya." Gumam Teo seraya melangkahkan kedua kakinya pergi menuju kamarnya.
***
Teo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ia menghela nafasnya dengan kasar, ntah mengapa setelah bertemu kembali dengan Olivia, rasa yang ia miliki dulu sedikit berkurang. Bahkan, di saat dia menemani Olivia makan malam, ia merasa ada yang berbeda. Di tambah lagi, bayangan gadis yang di bencinya selalu saja mengganggu pikirannya, membuat Teo frustasi.
__ADS_1
"Sial! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku merasa aneh seperti ini? Bukankah seharusnya aku bahagia karena Olivia sudah kembali? Arrghh brengsek!" Batin Teo sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Teo meraih sebotol air mineral yang berada di atas meja, ia pun kemudian membukanya, lalu meneguknya dengan tidak sabaran. Saat ini Teo hanya ingin menenangkan pikirannya yang mulai kacau, dan juga ia ingin menghilangkan bayangan wajah Rea yang selalu menghantuinya itu. Namun, ia sama sekali tidak bisa menghilangkan bayangan wajah cantik itu dan hal itu semakin membuat Teo frustasi.
"Brengsek! Kenapa otakku di penuhi oleh wajah gadis itu? Apa yang terjadi denganku? Ingatlah Teo, kau menikahinya hanya untuk membuatnya menderita. Dan sekarang Olivia sudah kembali, bukankah ini yang aku inginkan?" Ucapnya sembari menaruh botol air mineral itu di tempatnya. "Aku harus menemui gadis itu sekarang. Aku harus memberitahunya jika Olivia sudah kembali. Ya, aku harus memberitahunya saat ini juga." Ucapnya lagi sembari bangkit dari atas kursi sofa itu, kemudian ia berjalan melangkahkan kedua kakinya dan pergi menuju kamar yang di tempati oleh Rea saat ini.
Tiba di depan pintu kamar Rea, Teo pun langsung mengetuk pintu kamar itu beberapa kali, namun sayangnya tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut sehingga membuat Teo kembali mengetuk pintu kamar itu.
"Apakah dia sudah tidur?" Teo bertanya-tanya dalam hatinya, ia kembali mengetuk pintu kamar Rea, namun Rea sama sekali tidak menanggapinya. "Sepertinya dia memang sudah tidur. Lebih baik besok pagi saja aku memberitahunya. Aaarghh tapi kenapa wajah gadis itu masih saja menghantuiku?" Geram Teo sembari mengusap wajahnya kasar. Teo pun lantas berbalik, ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1
Teo melepaskan kemejanya, kemudian ia pun berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. "Aku harus mendinginkan otakku. Mungkin dengan begitu wajah gadis itu bisa menghilang dari dalam pikiranku saat ini." Batin Teo seraya melepaskan celananya, lalu berjalan dan mulai menyalakan shower. Teo lantas berdiri di bawah shower itu membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Teo mulai memejamkan kedua matanya, berusaha untuk melupakan wajah gadis yang di bencinya.
Bersambung.