Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Stevan Andonios


__ADS_3

Kediaman Andonios.


Stevan Andonios, laki-laki tampan yang memiliki sejuta pesona, ia berusia 32 tahun putra satu-satunya Andonios dan akan mewarisi perusahaan NIOS Group milik ayahnya. Selain tampan dan kaya, laki-laki ini juga memiliki sifat yang dingin sama seperti sahabatnya Teo. Akan tetapi sifatnya yang dingin itu hilang ketika ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang duduk di bawah pohon, pinggir jalan.


Tiba-tiba sesuatu yang aneh dalam dirinya muncul ketika ia melihat gadis itu, rasa ingin menghampiri langsung menghantuinya, bahkan ketika ia mengetahui gadis itu adalah istri sahabatnya sendiri, ia tetap akan mendekatinya. Apalagi ketika ia tahu alasan mengapa sahabatnya itu menikahi gadis cantik tersebut, membuat Stevan semakin yakin dan berani mendekatinya. Tidak perduli gadis itu menolaknya atau tidak, ia tetap tidak akan menyerah.


"Stev! Kapan kau akan mengenalkan kekasihmu kepada kami?" Tanya Clari, yang tak lain adalah mama kandung Stevan.


Stevan menghela nafasnya, ia sudah bosan mendengar pertanyaan yang setiap harinya selalu sama. "Nanti setelah aku mendapatkan wanitanya, mah." Sahut Stevan acuh tak acuh.


Clari melirik sang suami, sementara sang suami hanya megedikan kedua bahunya saja, ia sudah biasa mendapat jawaban seperti itu dari putra satu-satunya tersebut. Clari kembali menatap Stevan, ia menghela nafasnya lalu berkata kembali. "Kapan kamu akan mendapatkan wanitamu, Stev? Apakah sampai kamu tua?" Ucapan Clari mulai membuat Stevan jengah, baru dua minggu ia berada di kediaman orangtuanya, namun ia sudah mendapatkan pertanyaan itu setiap hari, benar-benar membosankan.

__ADS_1


"Do'ain aja, semoga secepatnya." Jawab Stevan seraya melipat kemeja putihnya hingga siku.


"Mama kan sudah bilang, Irene gadis cantik itu menyukaimu, Stev. Cobalah untuk berhubungan dengannya, siapa tahu kamu cocok sama dia." Ucap Clari mulai menjodohkan Stevan dengan Irene, putri dari sahabatnya.


"Aku tidak tertarik." Jawab Stevan singkat dan padat.


"Kamu belum mencobanya, Stev. Bagaimana kamu bisa tahu, kamu tertarik atau tidaknya. Lagian, Irene itu wanita yang sangat cantik, berpendidikan luas, orang tuanya pun sudah jelas. Kamu mau mencari wanita seperti apa sih, Stev." Ucap Clari seraya menggelengkan kepalanya menatap putra semata wayangnya tersebut. "Carollin, kamu tolak, Keyko juga kamu tolak, sebenarnya wanita seperti apa yang kamu cari? Mereka yang sempurna saja kamu tolak semua." Sambung Clari lagi.


Clari yang melihat putranya tersenyum sendiri pun merasa bingung, tidak seperti biasanya Stevan akan tersenyum sendirian seperti itu, mungkinkah putranya itu sudah menemukan wanita yang menarik perhatiannya? Atau mungkin putranya itu sedang mengkhayal? Ah ntahlah.


Clari menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan, ia melirik ke arah suaminya lagi, namun sang suami hanya mengedikkan bahunya kembali membuat Clari kesal.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa kan, Stev?" Tanya Clari, namun tidak di hiraukan oleh putranya. "Stevan! Kamu sedang memikirkan apa sih? Jangan-jangan kamu sedang memikirkan wanita yang sudah menarik perhatianmu itu?" Tanya Clari lagi.


Stevan langsung tersadar, ia pun lantas menggaruk tengkuk leher belakangnya yang tidak gatal. "Tebakkan mama benar, aku memang sedang memikirkan wanita yang sudah menarik perhatianku." Sahut Stevan dengan jujur, membuat Clari penasaran dengan wanita yang sudah menarik putra dinginnya itu.


"Benarkah? Siapa wanita itu, Stev?" Tanya Clari sembari menatap putra semata wayangnya dengan penasaran. Kini tuan Andonios pun mulai bereaksi, ia menatap Stevan seperti istrinya.


"Nanti setelah aku mendapatkannya, aku pasti akan memberi tahu mama." Sahut Stevan membuat Clari menghela nafasnya kecewa. "Aku berangkat dulu, mah, pah." Sambung Stevan seraya bangkit dari atas kursi sofa itu.


"Baiklah, kamu hati-hati, Stev." Ucap Clari yang mendapat anggukkan kepala dari Stevan. Setelah itu Stevan pun mulai melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan kediamannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2