
Dua hari kemudian...
Saat ini Rea sudah berada di halaman Mansion suaminya. Ia terlihat linglung mengikuti langkah kaki Teo memasuki Mansion tersebut. Asing, itulah yang di rasakan oleh Rea saat ini, mungkin itu karena dirinya yang kehilangan ingatannya membuatnya merasa asing dengan Mansion itu.
Para pelayan menyambutnya dengan ramah, terutama Berta. Berta terlihat begitu bahagia ketika ia melihat tuannya membawa pulang Rea, terlebih lagi, Olivia sudah tidak ada di Mansion ini membuat Berta sangat yakin jika tuannya itu lebih memilih Rea di bandingkan Olivia.
"Selamat datang, nona Rea. Saya senang akhirnya anda kembali lagi ke Mansion ini." Sambut Berta dengan ramah dan juga senyuman di wajahnya.
Rea mengernyit, ia menatap Berta dengan penuh tanda tanya, kemudian ia menatap suaminya. "Dia siapa?" tanyanya pada Teo.
Berta yang mendengar ucapan Rea pun terlihat sangat terkejut, mengapa nonanya itu tidak mengenalinya? Apakah ada yang salah dengan nonanya itu? Ntahlah, Berta sendiri tidak tahu.
"Dia Berta kepala pelayan di Mansion ini." Jawab Teo dengan lembut. Berta memang tidak terlihat seperti para pelayan lainnya. Mungkin itu karena dia sudah lama bekerja di Mansion itu dan dia bebas mengenakan pakaian apa pun seperti yang dia mau, tidak seperti para pelayan lainnya yang mengenakan pakaian serupa.
"Tuan, ada apa dengan nona Rea? Mengapa dia tidak mengenali saya?" Tanya Berta bingung. Padahal baru beberapa hari tidak bertemu, tetapi Rea sudah tidak mengenalinya. Sangat aneh bukan?
__ADS_1
Teo menghela nafasnya, ia menatap Berta dengan datar, kemudian ia berkata. "Rea mengalami kecelakaan dan dia kehilangan ingatannya, jadi dia tidak bisa mengingat siapa pun termasuk namanya sendiri."
"Kecelakaan? Kenapa tuan tidak memberitahu saya bahwa nona Rea mengalami kecelakaan? Astaga... " Berta terlihat sangat terkejut mendengar ucapan tuannya itu. "Pantas saja nona Rea tidak mengenaliku. Ternyata dia amnesia." Batin Berta sembari menatap Rea dengan sendu.
"Sudahlah, sebaiknya kamu suruh pelayan siapkan makan siang untuk kita." Perintah Teo seraya menarik tangan Rea dan membawanya pergi menuju kamarnya.
Berta mengangguk, ia pun lantas berjalan menuju dapur dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan siang tuan dan nonanya itu.
***
"Istirahatlah sebentar, nanti setelah itu kita turun untuk makan siang." Ucap Teo setelah ia dan juga Rea di dalam kamarnya.
"Baiklah." Jawab Rea singkat dan padat.
Teo menatap Rea dengan penuh tanda tanya, karena beberapa hari ini Rea sangat dingin kepada dirinya, bahkan ketika ia tadi mengajaknya pulang, Rea terlihat sangat enggan. Mungkin jika bukan karena mama mertuanya, Rea pasti tidak akan ada di Mansion saat ini.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Kenapa beberapa hari ini kamu sangat dingin?" Tanya Teo dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Rea.
Rea menggeleng pelan, ia pun menatap Teo dengan datar. "Tidak ada apa-apa. Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Jawabnya terdengar dingin di telinga Teo.
Kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak mungkin dingin seperti ini," Teo menarik nafasnya, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Apakah kamu masih marah karena aku sudah membohongimu tentang pernikahan kita?" Tanya Teo lagi.
"Teo, bisakah kita tidak membicarakan masalah ini? Biarkan aku untuk istirahat, ok." Pinta Rea sedikit memohon.
"Baiklah, kita tidak akan membahas masalah ini lagi. Tapi, aku mohon jangan bersikap dingin kepadaku, itu terasa menyakitkan bagiku." Ucap Teo terdengar sendu. "Aku mohon, maafkan semua kesalahanku di masa lalu, Rea. Biarkan aku untuk menebusnya." Sambung Teo sembari menggenggam hangat telapak tangan Rea.
Rea menghela nafasnya, ia pun menarik tangannya dari genggaman Teo. "Tinggalkan aku sendiri, aku ingin istirahat." Pinta Rea tanpa mau menjawab ucapan Teo barusan.
Teo mengalah, ia pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan Rea sendirian. "Aku tidak akan menyerah Rea, aku pasti akan menebus semua kesalahanku padamu. Tidak peduli kamu mau bersikap dingin atau tidak, aku tetap tidak akan menyerah." Batin Teo dengan tanga yang terkepal kuat.
Bersambung.
__ADS_1