
Mansion Albert.
Teo sudah tiba di Mansionnya. Ia berjalan memasuki mansion itu dengan langkah kaki yang lebar, tidak sabar untuk menemui istri tercintanya. Raut wajahnya nampak bahagia, ketika ia mendapati Rea sedang duduk manis di atas kursi sofa yang berada di ruang tengah.
Gadis itu terlihat sedang sibuk dengan ponselnya sehingga ia sama sekali tidak menyadari kepulangan suaminya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ekhmmm," Teo berdehem pelan, membuat Rea langsung menoleh ke arahnya. Pria tampan itu tersenyum, lalu duduk di samping sang istri.
"Kamu sudah pulang? Tumben sekali," kata Rea seraya mengernyitkan keningnya, menatap Teo dengan penuh tanda tanya. Ini baru pukul empat sore, tetapi suaminya sudah kembali dari perusahaannya. Tidak seperti biasanya.
"Memangnya tidak boleh?" ucap Teo terdengar lembut, juga tatapan matanya terlihat begitu dalam dan lekat.
"Bukannya tidak boleh, tapi tidak seperti biasanya kamu pulang di jam segini. Apakah kamu sakit?" tanya Rea seraya menempelkan punggung tangannya pada kening Teo.
Teo tersenyum, lalu tangannya meraih tangan Rea dan mengecupnya lembut, membuat Rea terkejut. "Aku tidak sakit, sayang. Aku hanya terlalu merindukan istriku yang cantik ini," kata Teo membuat rona di wajah Rea tergambar sempurna. Bahkan, detak jantung gadis itu pun mulai berdegup kencang, seperti habis di kejar setan.
Secepat kilat, Rea pun mengalihkan pandangannya dari wajah tampan suaminya itu, begitu pun juga dengan tangannya yang ia tarik kembali dari genggaman sang suami. "Becandamu sama sekali tidak lucu!" ketus Rea sembari berusaha untuk menormalkan debaran jantungnya. Ia juga berusaha untuk tetap tenang, meskipun perasaannya sedikit gelisah.
__ADS_1
"Aku serius, sayang." Bisik Teo sengaja menghembuskan nafasnya di cuping telinga Rea. "Aku memang.... "
"Ssst... Jangan di teruskan lagi, ok. Lebih baik kamu bersihkan dirimu sekarang, bau keringat tahu!" ucap Rea sembari menempelkan jari telunjuknya di atas bibir suaminya itu. Ia tidak ingin lagi mendengar gombalan Teo, atau jantungnya akan semakin tidak sehat di buatnya.
Teo menghela nafasnya kasar, ia mengecup jari istrinya membuat sang istri kembali terkejut. "Apa yang kamu lakukan! Kamu!!! Menyebalkan sekali." Pekik Rea sembari menarik tangannya, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya berniat untuk pergi meninggalkan suaminya tersebut.
Namun, belum sempat ia melangkahkan kedua kakinya, tiba-tiba saja Teo menarik lengannya dengan kencang sehingga membuat tubuh Rea langsung terjatuh di atas pangkuannya. Rea semakin terkejut dengan apa yang di lakukan oleh suaminya saat ini, kedua matanya membulat sempurna, sementara Teo, ia malah memperlihatkan senyuman manis ddi sudut bibirnya.
"Lepaskan aku, Teo. Jangan membuat aku marah!" kesal Rea seraya berusaha untuk bangkit dari atas pangkuan suaminya tersebut. Namun, usahanya sama sekali tidak berhasil, karena tenaga Teo jauh lebih besar jika di bandingkan dengan tenaga miliknya.
Rea nampak menghela nafasnya dengan kasar, bagaimana bisa, laki-laki ini berpikir bahwa dirinya membeli bunga untuk Stevan? Apakah dia sudah tidak waras?
"Jawab pertanyaanku sayang, kenapa kamu malah diam saja?" ucap Teo tidak sabaran. Hatinya mulai di selimuti oleh rasa cemburunya terhadap Stevan, padahal, belum tentu tebakannya itu benar. Ah bukan belum tentu lagi, tapi emang tebakkannya salah. Rea membeli bunga bukan untuk Stevan, melainkan untuk mama tercintanya.
"Untuk apa aku membelikan Stevan bunga? Apakah menurutmu aku sudah tidak waras, membelikan seorang pria bunga, sungguh pemikiran yang konyol!" ketus Rea dengan kesal.
"Lalu? Untuk siapa kamu membeli bunga itu? Apakah itu untukku?" tanya Teo penuh harap.
__ADS_1
"Ckkk... Memangnya kamu seorang wanita? Ah kenapa juga kamu membahas tentang bunga? Itu sama sekali tidak penting."
"Itu sangat penting untukku, sayang. Aku tidak ingin istriku membelikan orang lain bunga. Apalagi orang itu seorang pria, aku akan sangat marah jika kamu.... "
"Aku membeli bunga untuk mamaku, apakah kamu akan marah juga?" tanya Rea menyela ucapan Teo yang belum selesai itu.
"Kenapa kamu tidak bilang daritadi, sayang. Kalau kamu bilang dari tadi, aku jadi tidak akan mencurigaimu seperti ini." Ucap Teo sedikit malu karena sudah berburuk sangka kepada istrinya sendiri. Ah salahkan istrinya sendiri yang tidak mau mengatakan, bahwa ia membeli bunga untuk mamanya, bukan untuk pria lain.
"Maafkan, aku. Aku sudah berburuk sangka sama kamu. Ini semua karena aku... "
"Karena kamu cemburu?" tanya Rea kembali memotong ucapan Teo.
Teo nampak menganggukkan kepalanya pelan, sebagai tanda bahwa yang di ucapkan oleh Rea adalah benar. Sementara Rea, ia terlihat menghela nafasnya panjang, "aku dan Stevan sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun. Jadi, berhenti cemburu sama dia, ok." Tutur Rea sebelum ia bangkit dari atas pangkuan suaminya itu.
"Mandilah dulu. Setelah itu kamu turun, aku akan membuatkanmu minuman segar," ucap Rea sebelum ia pergi meninggalkan Teo sendirian.
Teo nampak menghembuskan nafasnya panjang, ia menatap kepergian sang istri, kemudian ia pun tersenyum. Lalu setelah itu, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi membawa kedua kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1