Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Kembali lah padaku


__ADS_3

"Lepaskan!" Cahaya melepaskan tangannya dari genggaman Davin. Sejak mereka sudah berada di luar, Davin terus saja menggenggam tangannya tanpa mau melepaskannya. Membuatnya merasa jengah dan kesal.


"Cahaya, tolong maafkan aku. Kembalilah ke rumah." Davin menatap Cahaya dengan penuh permohonan. Tampak jelas tatapan penuh penyesalan di matanya.


"Tidak, Mas. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Tidak ada lagi peraturan di rumah orang kaya yang harus aku patuhi. Tidak ada lagi hinaan yang akan membuatku bersedih." Cahaya menyeka sudut matanya dengan kasar. Sungguh, dia tidak ingin menangis di depan Davin. Dia ingin menunjukkan pada pria itu bahwa dirinya juga sangat merindukannya.


"Tapi, Cahaya, aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Bohong! Buktinya kau sekarang masih bernafas! Aku kan sudah lama pergi dari rumah."


"Bukan, bukan itu maksudnya. Aku mungkin tidak akan bisa hidup lebih lama lagi jika kau tidak ada disampingku."


"Memangnya kau mau kemana? Bunuh diri? Dosa, Mas. Kau sendiri yang mengatakan padaku saat dulu aku hampir saja bunuh diri."


Davin sudah kehabisan kata-kata karena Cahaya selalu bisa membalikkan ucapannya.

__ADS_1


Dia pun kembali memegang tangan Cahaya dan menatapnya dalam-dalam.


"Aku mencintaimu, Cahaya. Aku sangat mencintaimu."


Cahaya terkejut mendengar ungkapan perasaan Davin saat ini. Dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata yang selama ini ingin didengarnya dari pria itu.


"Apa?" tanyanya sedikit syok.


"Aku mencintaimu. Aku cinta padamu." Davin kembali mengulang kata-katanya.


"Tidak, aku rupanya tidak bisa membedakan mana cinta dan mana rasa kagum. Setelah kau pergi meninggalkanku, akhirnya aku menyadari bahwa hidupku terasa hampa tanpamu. Hari-hari yang aku lalui penuh dengan kekosongan dan rasa bosan. Akhirnya aku menyadari bahwa itu semua adalah akibat dari kepergianmu. Aku sudah terbiasa denganmu, Cahaya."


Cahaya menatap Davin dengan lekat. Dia bisa melihat kejujuran di mata pria itu.


"Tapi, aku ini kan hanya wanita yang akan mempermalukanmu. Aku ini hanyalah wanita miskin. Apa kau tidak malu tentang berita yang sudah tersebar di...." Cahaya coba berpikir sejenak karena sampai saat ini dia belum juga menemukan berita itu di sosial media maupun di surat kabar.

__ADS_1


"Berita itu sudah hilang karena ayahnya Rayden sudah mengurusnya. Mereka semua peduli padamu, Cahaya."


"Apa kau melakukan semua ini karena suruhan dari Mama?" Cahaya sedikit menatap curiga pada Davin. Apakah pria itu bersungguh-sungguh atau ini hanyalah suruhan dari mamanya?


"Tidak, aku melakukan semua ini atas keinginanku sendiri. Dan haruskah aku mengatakan sekali lagi bahwa aku mencintaimu?"


"Tapi, aku masih belum merasa pantas untukmu. Aku hanyalah wanita miskin yang akan membuatmu malu."


"Aku tidak peduli akan hal itu. Yang penting aku hanya mencintaimu saja. Aku ingin hidup denganmu, dan aku juga ingin kau menjadi Ibu dari anak-anak kita nanti."


Mendengar hal itu, pipi Cahaya langsung bersemu merah. Bagaimana bisa saat ini dia membayangkan peristiwa yang tidak terjadi di malam pertama?


"Hei, Cahaya, kenapa melamun?" Davin membuyarkan lamunan Cahaya hingga membuat wanita itu terkesiap.


"Iya, maaf. Aku...aku mau kembali bersamamu." Cahaya mengusap air matanya yang lagi-lagi jatuh karena terharu dengan pernyataan cinta Davin.

__ADS_1


Davin langsung menariknya ke dalam pelukan. Akhirnya dia berhasil meyakinkan wanitanya untuk kembali bersamanya. Mereka pun masuk ke dalam rumah Darsih karena ada hal yang ingin Davin tanyakan.


__ADS_2