Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Bekerja Giat


__ADS_3

"Kenalkan, dia akan menjadi kasir yang baru di toko roti ini. Cahaya, perkenalkan dirimu," ucap Reno.


"Selamat pagi, rekan-rekan sekalian. Kenalkan, saya Cahaya. Saya mohon kerjasamanya agar kita bisa bekerja dengan baik," ucap Cahaya saat memperkenalkan dirinya pada rekan-rekan kerjanya yang baru.


Mereka semua pun tersenyum dan menyambut Cahaya dengan baik.


Setelah semuanya bubar, Cahaya pun langsung pergi ke tempat di mana kasir berada. Reno langsung mengajarinya tata cara menggunakan mesin kasir dengan teknologi yang ada sekarang.


"Apa kau sudah mengerti?" tanya Reno dengan ramah.


"Sudah, Pak, terima kasih karena telah menerima saya bekerja di sini."


"Sama-sama. Kata ibuku, kau sangat baik dan ramah. Makanya aku merekrutmu sebagai karyawan baru di sini."

__ADS_1


"Saya akan berusaha bekerja semaksimal mungkin, Pak." Cahaya menatap serius. Wajah cantiknya membuat Reno terpesona meski itu bukanlah hal yang menjadi utama baginya.


"Sekarang mulailah bekerja, semangat, ya, Cahaya." Reno pun pergi ke ruangannya. Ruangan dengan pintu kaca satu arah itu membuatnya bisa melihat Cahaya dari luar. Sedangkan orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Hanya pantulan cermin yang akan membuat setiap orang bisa berkaca dengan puas di situ.


Dan sebenarnya itulah alasannya menjadikan Cahaya sebagai kasir. Tujuannya agar dia bisa melihat gadis itu sepanjang hari. Gadis yang dia sukai karena ternyata memiliki keberanian yang cukup tinggi.


Cahaya telinga sedang membersihkan meja kasir sambil menunggu pelanggan datang. Dia menoleh ke sana kemari, tersenyum kepada setiap pegawai yang tidak sengaja bertatapan mata dengannya, hingga melihat berbagai macam roti sangat menggugah selera.


Cahaya melihat tanda pengenal wanita itu. Namanya adalah Silvi. Ternyata dia adalah orang yang memiliki peran cukup penting di toko ini. Tugasnya adalah memantau pekerjaan semua orang yang ada di sana. Mengecek apa-apa saja yang perlu diperbaiki.


"Iya, tidak apa-apa, Mbak Silvi," sahut beberapa orang yang melihatnya datang.


Silvi pun menoleh ke arah pasir dan terkejut melihat ada orang baru di sana. "Kau kasir baru, ya?" ucapnya ramah.

__ADS_1


"Iya, Mbak, hehe."


"Semoga betah, ya, abaikan jika bos memarahimu, dia memang suka begitu."


"Hehe, iya, Mbak, terima kasih sudah mengingatkan."


Silvi terlihat masuk ke dalam ruangan Reno tanpa mengetuk terlebih dahulu. bisa dipastikan bahwa Silvi memiliki hubungan yang baik dengan bosnya itu.


"Sudah aku bilang berapa kali padamu agar mengetuk sebelum masuk." Reno berdecak kesal melihat Silvi yang selalu masuk tanpa mengetuk pintu ruangannya.


"Ah, sudahlah, aku tidak peduli. Aku ke sini mau mengundurkan diri!" Silvi memberikan secarik kertas pada Reno yang katanya adalah surat pengunduran diri. Padahal, Reno hanya melihat lembaran kertas usang yang bertuliskan beri aku libur atau aku akan mengempiskan ban sepeda motormu lagi."


Reno memijat pelipisnya. Menatap wanita cantik di depannya dengan tatapan penuh kesabaran. "Silvi, sudah aku katakan berulang kali bahwa kau tidak boleh libur kecuali tanggal merah karena kemajuan toko roti ini tergantung pada kerja kerasmu. Satu hari saja kau tidak datang, maka, akan banyak pelanggan yang komplain."

__ADS_1


__ADS_2