Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Masih terasa sakit


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Teo sudah keluar dari dalam kamarnya, kemudian ia pun melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan. Di ruang makan terlihat Berta sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya.


"Selamat pagi, tuan. Sarapan anda sudah siap." Ucap Berta sedikit menundukkan kepalanya.


Teo mengangguk, ia pun langsung duduk di kursinya. "Panggilkan Rea kesini." Perintah Teo kepada Berta.


Dengan cepat Berta pun menganggukkan kepalanya. "Baik, tuan." Jawabnya ramah. Berta segera berbalik kemudian ia pun mulai melangkahkan kdua kakinya menuju anak tangga.


Setelah kepergian Berta, Teo pun berniat untuk menyantap sarapan paginya, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara yang berasal dari ponsel miliknya. Teo pun segera merogiloh ponsel itu dari dalam saku celananya. Ia tersenyum ketika melihat nama Olivia yang terpampang di layar ponselnya. Teo segera menggeser tombol berwarna hijau, kemudian ia menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Selamat pagi, sayang. Apakah kamu sudah sarapan?" Tanya Olivia dari seberang telpon sana.


"Aku lagi sarapan, sayang. Ada apa kamu menelponku jam segini?" Teo berbalik nanya dengan nada suaranya yang begitu lembut.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu." Olivia menjeda ucapannya sejenak, kemudian ia pun berkata lagi. "Sayang, aku mau tinggal di Mansion mu, boleh gak?" Tanyanya membuat Teo seketika mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? Apa kamu sudah tidak betah tinggal di rumahmu sendiri?" Teo berbalik nanya kepada Olivia.


"Aku hanya ingin menebus kesalahanku sama kamu selama ini. Dan aku juga tidak mau membiarkanmu terus tinggal berduaan dengan Rea, aku cemburu sayang." Ucap Olivia dengan nada suaranya yang manja.


"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, sayang. Jadi, kamu tidak perlu menebusnya. Dan mengenai permintaanmu ini, sepertinya sedikit berlebihan, lagian aku tinggal di sini tidak hanya berdua saja, masih banyak para pelayan. Jadi, kamu jangan merasa cemburu, ok." Ujar Teo membuat Olivia mendengus kesal di seberang telpon sana.


"Apa kamu sudah mencintaiku lagi?" Tanya Olivia terdengar kesal di telinga Teo.


"Kalau kamu memang masih mencintai aku, izinkan aku untuk tinggal di Mansionmu, ok." Pinta Olivia dengan nada suaranya yang du buat manja, agar Teo mengizinkan dirinya untuk tinggal di Mansionnya.


"Olivia... "

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mengizinkan aku tinggal di Mansionmu, itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Ah atau kamu sudah jatuh cinta sama Rea?" Tanya Olivia terdengar sangat marah membuat Teo harus menenangkannya.


"Jangan ngaco, Olivia. Aku tidak mungkin jatuh cinta sama gadis itu." Ucap Teo dengan nada suaranya yang masih lembut dan halus. "Baiklah, aku akan mengizinkanmu tinggal di Mansion ini, tapi kamu harus meminta izin dulu sama papa dan mama mu, ok." Sambung Teo dengan terpaksa ia pun mengizinkan Olivia untuk tinggal di Mansionnya.


"Aku tahu kamu pasti mau menuruti permintaanku. Terima kasih sayang, I love you." Ucap Olivia terdengar begitu senang.


"Hmm, yasudah aku matikan dulu panggilannya ya."


"Kenapa kamu tidak membalas ucapanku?" Tanya Olivia dengan manja.


"I love you to. Yasudah aku tutup ya." Ucap Teo dengan nada suaranya yang tidak berubah.


Setelah itu, Teo pun langsung memutuskan sambungannya, kemudian ia pun menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku celananya. Sementara itu, Rea yang sedari tadi mendengar pembicaraan Teo dengan Olivia pun tersenyum kecut, hatinya terasa nyeri, padahal cintanya terhadap Teo sudah mulai pudar, namun hatinya masih tetap saja sakit ketika mendengar Teo berbicara begitu lembut dengan kekasihnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2