Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Suka


__ADS_3

Ternyata di sini dapat dijelaskan bahwa Silvi termasuk jantung dari toko roti ini. Dia adalah sumber kemajuan dari toko itu.


"Ya, tapi aku butuh libur, Reno!" Silvi mendesah kesal.


"Iya, aku akan memberimu libur tapi tidak hari ini. Satu minggu lagi bagaimana? Aku akan menutup toko selama tiga hari."


"Oh ya, Minggu depan kan hari ulang tahun daerah ini, ya. Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi mengundurkan diri." Silvi kembali menarik kertasnya dan menyimpannya ke dalam tas. Dia sepertinya berencana akan menunjukkan kertas itu lagi ketika dirinya ingin meminta libur.


"Apakah gadis itu yang kau ceritakan sebagai gadis pemberani yang tinggal di rumah kontrakan Bibi?" tanya Silvi yang memang masih penasaran dengan sosok Cahaya dengan mudah dipekerjakan di toko roti itu.


"Ya, aku memang sengaja mempekerjakannya karena dia adalah gadis yang berani."


"Kau menyukainya, kan?" tanya Silvia to the point.


Bukannya mengelak, Reno malah tersenyum kecil.


"Nah, kan, benar, kau menyukainya." Silvi tertawa melihat wajah malu Reno.


"Iya, iya, aku mengaku. Dia itu punya pesona tersendiri bagiku." Akhirnya Reno mengakui perasaannya.

__ADS_1


"Ah, sudah aku duga. Mungkin jika aku adalah orang yang pemberani seperti dia, pasti aku juga akan jadi orang yang kau sukai." Silvi tertawa lebar di depan Reno.


"Cih, tidak akan. Kau itu adalah gadis yang jauh dari tipeku."


"Sudahlah, jangan lupa saat di SMA, akulah wanita yang paling cantik dan kau pasti adalah orang yang merasa paling bangga karena menjadi sahabatku."


"Sudahlah, keluar sana, aku sedang sibuk." Reno menarik Silvi dari tempat duduknya dan menyuruhnya segera pergi.


Silvi tertawa dan langsung pergi dari ruangannya. Dia pun pergi ke kamar mandi karena ingin membenarkan make up-nya. Namun, dia bukannya membenarkan make up, malah menghapus air mata yang baru saja jatuh membasahi pipinya.


Ada apa sebenarnya? Mengapa dia bersedih?


"Halo, Bu Angel, hari ini ingin beli apa? Kami ada roti varian terbaru yang rendah kalori."


Cahaya memperhatikan bagaimana Silvi membuat pelanggan itu tersenyum senang karena seolah mengerti apa yang dibutuhkan olehnya.


"Wah, hebat sekali. Aku harus belajar banyak darinya," ucap Cahaya sambil berdecak kagum.


Setelah pelanggan yang bernama Bu Angel tadi selesai membeli, kini gantian cahaya yang bertugas. Dengan ramah, dia langsung melayani pelanggan pertamanya itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Ibu cantik." Cahaya mulai tersenyum ramah pada wanita paruh baya itu.


"Oh, karyawan baru lagi?" ucapnya sambil memperhatikan wajah Cahaya.


"Ya, Bu, karyawan yang lama sudah menikah dan tidak bisa bekerja di sini lagi."


"Oh, tapi tidak apalah, karyawan baru ini kelihatannya sangat ramah. Tidak seperti karyawan lama yang terus-menerus cemberut."


"Kalau yang ini saya yakin pasti betah, Bu."


"Bu, ini rotinya, terima kasih." Cahaya memberikan roti kepada wanita itu beserta kembaliannya.


"Terima kasih." Ibu tadi langsung pergi dengan senyum sumringah karena mendapatkan kepuasan berbelanja di toko itu.


"Lihat, kan, Cahaya, membuat pelanggan saat keluar dari toko roti ini adalah hal yang paling utama. Itulah yang akan membuat mereka kembali lagi," ucap Silvi bermaksud mengajari Cahaya.


"Iya, Mbak, terima kasih ilmunya."


Cahaya tersenyum di tengah perasaannya yang sedih. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Davin. Pria yang selalu kesal setiap habis berbicara dengannya. Tidak hanya saat berbicara, Davin juga bisa kesal ketika hanya melihat tingkah Cahaya saja.

__ADS_1


__ADS_2