Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Terpaksa pulang


__ADS_3

Kediaman Andonius.


Setelah mendapat panggilan telpon dari sang mama yang mengatakan jika kondisi sang mama sedang buruk, Stevan pun terpaksa harus pulang ke kediamannya. Meskipun ia sangat berat untuk meninggalkan Rea di rumah sakit, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Rea, dan juga berharap agar gadis itu masih mengenalinya ketika gadis itu bangun nanti.


Stevan berjalan dengan tergesa-gesa memasuki bangunan megah itu, beberapa pelayan pun menyambutnya dengan ramah seperti biasanya.


"Selamat datang tuan... "


"Mama dimana? Bagaimana kondisinya?" Tanya Stevan menyela ucapan sang pelayan.


"Nyonya ada di ruang tengah, tuan. Dan kondisinya baik-baik saja, hanya... "


"Baik-baik saja? Maksudmu, mama tidak sakit?" Lagi, Stevan menyela ucapan sang pelayan tersebut, dan pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya saja. "Astaga.... Kenapa mama membohongiku?" Stevan bertanya-tanya sendirian, ia pun mempercepat langkah kakinya menuju ruang tengah.


Di ruang tengah terlihat mama Clari sedang berbincang dengan seorang gadis cantik yang mengenakan mini dress berwarna merah muda. Mama Clari terlihat sehat-sehat saja, tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya sedang sakit, sungguh membuat Stevan kesal.


"Mama tidak sakit?" Stevan langsung bertanya setelah ia berdiri di hadapan sang mama yang sedari tadi asik mengobrol dengan gadis cantik itu.

__ADS_1


Mendengar suara putranya, membuat mama Clari langsung menghentikan obrolannya, ia menatap Stevan yang saat ini terlihat sangat berantakan dengan wajah yang lebam.


"Astaga, Stev! Ada apa dengan wajahmu, kenapa bisa seperti ini?" mama Clari berdiri, ia menangkup wajah putranya dan melihat luka lebam itu lebih dekat.


"Mama tidak menjawab pertanyaanku tadi? Mama terlihat baik-baik saja, kenapa mama bilang sama aku, kalau mama sedang sakit?" Bukannya menjawab Stevan justru kembali bertanya kepada sang mama.


"Mama memang sengaja bilang seperti itu, biar kamu pulang." Jawab mama Clari membuat Stevan seketika menghela nafasnya dengan kasar. "Sini duduk, obati dulu lukamu." Sambung mama Clari sembari menarik tangan Stevan dan membawanya ke sofa yang berada di ruang tengah itu.


Stevan menurut, ia pun langsung duduk di atas kursi sofa tanpa memperdulikan gadis cantik yang sedari tadi menatapnya. Sementara mama Clari, ia pergi menuju tempat dimana ia menyimpan kotak obat.


Setelah kepergian mama Clari, gadis itu pun berdiri, ia berjalan menghampiri Stevan. "Hay, Stev! Apa kabarmu?" tanya gadis cantik itu sembari menyodorkan tangan kanannya kepada Stevan.


Gadis itu tersenyum tipis, ia pun menganggukkan kepalanya pelan. "Tentu saja, apa kamu sudah melupakanku?" Gadis itu berbalik nanya kepada Stevan, laki-laki yang selama ini dia rindukan.


"Mungkin." Jawab Stevan singkat dan padat.


Lagi, gadis itu tersenyum kepada Stevan, kemudian ia menarik kembali tangan kanannya yang tidak di sambut oleh Stevan. "Aku Irene Lariesa Queen. Kita pernah bertemu di pesta pernikahan tuan muda Xiao Nai." Ucap gadis itu yang bernama Irene.

__ADS_1


Stevan tidak perduli, ia bahkan sama sekali tidak menatap Irene barang sedetik pun membuat Irene tersenyum kecut, dan kembali ke tempat duduknya.


"Rea, aku berharap kamu segera sadar." Batin Stevan mulai memikirkan Rea kembali.


Clari datang membawa kotak p3k, ia langsung duduk di samping putranya. "Kenapa wajahmu bisa begini, Stev? Kamu habis berkelahi dengan seseorang?" Tanya Clari seraya mengobati luka lebam di wajah tampan Stevan.


"Hmm." Stevan hanya berdehem, ia sangat malas untuk menjawab sang mama yang sudah membohonginya itu.


"Mama lagi bertanya sama kamu, Stev! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan mama." Mama Clari mulai kesal, namun tangannya masih tetap mengobati luka lebam di wajah Stevan.


"Iya, aku habis berkelahi. Apa mama puas mendengarnya." Ucap Stevan sembari menatap sang mama. "Mama kenapa membohongi aku? Mama bilang, mama sedang dalam kondisi yang buruk, tapi nyatanya tidak. Mama tahu tidak, karena mama, aku rela meninggalkan wanita yang aku sukai yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit." Sambung Stevan dengan nada suaranya yang terdengar kesal.


"Maafin mama, Stev! Mama hanya... "


"Sudahlah, mah. Lain kali jangan membohongi aku lagi, karena aku paling tidak suka di bohongi, mama tahu itu kan." Ucap Stevan menyela ucapan sang mama yang belum selesai.


"Aku ke kamar dulu, mah." Pamit Stevan seraya bangkit dari atas kursi sofa itu.

__ADS_1


Clari tidak bisa menahannya, karena sang putra terlihat sangat kesal karena dirinya sudah membohonginya. Sementara, Irene. Ia nampak tersenyum kecut, sepertinya ia sama sekali tidak di anggap keberadaannya oleh Stevan.


Bersambung.


__ADS_2