Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Menikah


__ADS_3

Hari yang dinantikan telah tiba. Tepatnya hari ini, Cahaya dan Davin pun secara resmi telah menikah. Mereka sedang berpose dengan masing-masing buku nikah di tangan mereka. Cahaya terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin mewah hasil rancangan teman mertuanya. Sedangkan Davin terlihat sangat tampan dengan setelan pakaian dengan warna senada dengan gaun pengantin Cahaya.


Banyak tamu undangan yang datang. Mereka datang dengan niat yang berbeda-beda. Ada yang datang karena rekan bisnis, ingin melihat istri Davin, atau ingin tampil di televisi karena pernikahan mereka diliput oleh stasiun televisi milik teman Sevina dan David.


"Sekarang kalian lihat, bahwa anakku bukanlah penyuka sesama jenis seperti yang kalian tuduhkan sebelumnya," ucap Sevina pada teman-teman arisannya.


"Iya, iya, kami percaya, ya sudah, maafkan kami," ucap salah satu teman Sevina yang bernama Sasa.


Sevina tersenyum dengan begitu percaya diri.


"Tapi, aku melihat sepertinya istri Davin bukan orang berada," celetuk teman lainnya yang bernama Almira.


Sevina terdiam sejenak. Ia tahu bahwa hal ini pasti akan diketahui oleh teman-temannya.


"Ya, dia memang bukan orang berada, tapi aku yakin dia bisa membahagiakan Davin."


"Ya ampun, Se, kenapa kau buru-buru sekali. Harusnya kau melihat bibit, bebet, bobotnya dulu." Sasa berkomentar.


"Davin mencintainya, aku tidak mau memaksa Davin jika itu mengenai hati."


"Ya tapi jangan sampai dia mempermalukan keluarga mu. Jangan sampai dia mencoba merebut harta keluarga mu." Almira menambahkan.


"Aku yakin Cahaya tidak akan seperti itu. Davin orang yang sangat hati-hati. Dia tidak akan mengecewakan orang tuanya."


"Apa kau yakin?" tanya Sasa.


"Iya, apa kau yakin. Lihatlah menantu- menantu kami, semua orang yang berpendidikan dan berasal dari orang berada."


"Ya, tapi aku lihat Melisa menghambur-hamburkan uang anakmu, Almira." Tiba-tiba Selly datang dan ikut bergabung bersama mereka.


"Apa kau sekarang sudah ganti profesi? Sekarang kau lebih suka mencampuri kehidupan orang lain." Almira menatap sinis pada Selly.


Kedua orang ini memang tidak akur sejak dulu. Terlebih saat sekarang hidup Selly sangat bahagia setelah menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya raya.


"Aku tidak beralih profesi. Aku hanya sering melihat Melisa berbelanja di mall milik suamiku. Dalam tiga hari,dia menghabiskan puluhan juta untuk membeli tas, sepatu, dan baju bermerk mahal." Selly tersenyum tipis. Jelas sekali dari ekspresi Almira bahwa ia tidak tahu menantunya suka berfoya-foya.


"Aku yakin Melisa tidak bermaksud begitu. Dia mungkin saja menggunakan uang pribadinya."


"Tapi di data, Melisa menggunakan ATM atas nama Satria, apa itu kurang membuktikan?"

__ADS_1


Merasa sangat kesal dengan Selly, Almira pun memilih pulang saja. Jelas sekali ia ingin menemui menantunya dan mempertanyakan perihal yang dikatakan Selly tadi.


"Enak sekali dia menggunakan uang Satria. Pantas saja Satria mengurangi jatah bulanan ku. Sejak papanya meninggal, dia yang memegang kendali perusahaan, dan aku hanya mendapatkan uang bulanan sedikit sekali," gerutu Almira sepanjang jalan.


"Selly, kenapa kau mengatakan hal itu? Itu adalah privasi Melisa." Sevina mengingatkan.


"Dia perlu dibungkam agar tidak terlalu menyudutkan Cahaya. Dan kau, Sasa, apa kau ingin mendengar berapa yang dihabiskan Tiara di butik ku?" tanya Selly sambil menoleh ke Sasa.


"Tidak perlu, baiklah Se, aku minta maaf, aku seharusnya tidak ikut beranggapan jelek tentang menantu mu hanya karena dia dari kalangan keluarga biasa," ucap Sasa.


"Iya, tidak apa-apa." Sevina mengangguk mengerti. Ia merasa bersyukur ada Selly yang selalu mendukung dan membelanya. Temannya sejak kecil yang selalu ia sayangi.


****


Acara sudah selesai. Kini Cahaya dan Davin sudah berada di dalam sebuah kamar hotel keluarga ibunya Davin.


Terlihat Cahaya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia memakai handuk yang hanya menutupi bagian dadanya saja.


"Astaga, Cahaya, kenapa memakai handuk?" Davin reflek menutup wajahnya dengan kedua tangannya kala melihat tubuh Cahaya yang hampir polos.


"Kenapa, Mas? Jadi aku tidak boleh pakai handuk? Jadi aku harus melepasnya?" tanya Cahaya dengan polosnya.


"Bukan itu, maksudku, kenapa kau tidak memakai baju di dalam ruang ganti? kenapa harus memakai handuk sampai ke sini?" Davin masih menutupi wajahnya.


"Di sana!" Davin menunjuk ke arah depannya. Matanya masih tertutup sehingga ia mengira arah yang ia tunjuk adalah arah kamar ganti.


Cahaya langsung mendekati pintu yang ditunjuk Davin.


Davin yang perasaannya tidak enak langsung membuka matanya. Ia terkejut saat melihat Cahaya akan pergi ke pintu yang menuju balkon.


Kalau sampai Cahaya keluar, maka sudah jelas tubuhnya akan terekspos oleh orang-orang yang kemungkinan sedang duduk di balkon kamar mereka.


"Cahaya! Jangan!" Davin berlari mendekati Cahaya. Ia langsung menarik tangan Cahaya sebelum wanita itu membuka pintu.


Alhasil, handuk yang melilit tubuh Cahaya langsung terjatuh hingga semua bagian tubuh Cahaya polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi.


"Aaaaaaaaaaaa."


Terdengar jeritan Cahaya dan Davin berbarengan. Davin langsung berbalik dan menutup matanya, sementara Cahaya langsung mengambil handuknya dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aaaa, aku malu sekali." Cahaya duduk di dalam bathtub sambil memukul-mukul kepalanya. Meski hanya sebentar, Davin telah melihat seluruh tubuhnya.


Terdengar suara pintu diketuk.


"Cahaya, keluarlah, jangan lama-lama berada dalam kamar mandi, nanti kau bisa sakit."


"Pergilah, Mas!" teriak Cahaya.


"Cahaya, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat handuk mu copot."


"Tapi kau telah melihat semuanya."


"Hanya bagian atas saja, itupun hanya beberapa detik. Bahkan sekarang aku tidak ingat lagi."


"Bohong! Pasti kau sudah melihat semuanya. Sekarang aku akan malu seumur hidup!"


"Cahaya, aku berjanji tidak akan melihatnya lagi. Aku akan berpaling jika bagian itu sedikit terekspos."


Lama tak terdengar jawaban Cahaya. Hingga suara pintu terbuka pun terdengar. Cahaya keluar dengan wajah yang ia tutupi dengan handuk lain.


"Antarkan aku ke ruang ganti, Mas."


"Ya, sekarang lima langkah ke depan, dua langkah ke kanan, dan kau akan menemukan handle pintu."


Cahaya mengikuti instruksi Davin hingga akhirnya ia menemukan handle pintu ke ruang ganti. Ia segera mengganti bajunya yang kata ibu mertuanya telah disiapkan untuknya.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Davin.


Tak berselang lama, Cahaya pun keluar dengan sebuah lingerie yang menutupi bagian tubuhnya meski tetap saja menerawang.


Mata Davin membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa Cahaya akan memakai baju seperti itu.


"Mas, semua yang ada di lemari seperti ini." Cahaya menatap kesal.


"Astaga, Mama." Davin mengusap wajahnya pelan.


"Bagaimana, Mas? Besok aku pakai apa?"


"Tenang saja, pasti besok bajumu akan tersedia di hotel ini. Aku yakin. Kalau begitu, sekarang kau tidur saja di ranjang ini. Aku akan tidur di sofa."

__ADS_1


"Baiklah." Cahaya pun langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang. Menutupi tubuh seksinya dengan selimut tebal.


Davin pun juga langsung tidur di atas sofa dengan bantal dan selimut. Malam ini memang malam pertama, namun mereka tidak melakukan apa-apa.


__ADS_2