
Davin menyuruh semua orang untuk mencari Cahaya ke segala penjuru rumah. Pagi ini, dia tidak menemukan keberadaan Cahaya di rumah itu. Saat dia menelepon, rupanya cahaya tidak membawa ponsel.
Awalnya, dia ingin mengambil sesuatu di kamar Cahaya. Namun, hingga beberapa kali mengetuk pintu, Cahaya tak kunjung keluar. Karena penasaran, Davin pun langsung masuk saja ke kamar itu dan mendapati Cahaya sudah pergi.
"Maaf, Tuan, kami telah mencari Nona Cahaya, tapi beliau tidak kami temukan."
"Lalu, dimana dia?" Davin terlihat sangat frustrasi.
"Tuan, saya baru saja melihat CCTV. Nona Cahaya pergi tadi malam diam-diam. Sepertinya beliau sengaja pergi dari rumah ini tanpa diketahui oleh satu orang pun," lapor salah satu pengawal.
Davin mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu jika Cahaya nekat pergi dari rumah.
Dia segera masuk ke dalam kamar Cahaya lagi, mungkin saja ada pesan dari Cahaya.
Dan ternyata memang ada. Ada secarik kertas yang ditulis olehnya.
__ADS_1
Mas, aku pergi. Jangan cari aku, karena aku juga tidak bisa menjelaskan bagaimana rute agar bisa sampai ke sini. Lagipula, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Aku menyadari bahwa aku hanyalah beban bagimu yang hanya bisa merepotkan saja. Aku siap jika kau ingin menceraikanku. Kau urus saja perceraian kita ke pengadilan. Nanti, jangan lupa beritakan hal itu agar aku bisa mengetahuinya. Sudah dulu, ya, aku buru-buru, aku pinjam uangmu sedikit untuk ongkos.
Dia pun langsung menelepon paman dan bibinya untuk mengetahui barangkali Cahaya ada di sana. Namun, ternyata Cahaya tidak pulang ke rumah mereka.
Namun, ada dua kemungkinan di mana Cahaya berada. Mereka harus melakukan pencarian ke desa-desa kecil tempat tinggal kedua orang tuanya. Desa itu terletak sangat jauh dari kota dan harus menempuh perjalanan selama berjam-jam.
***
Terdengar sebuah lagu bertajuk penyesalan seorang pria pada wanita yang telah meninggalkannya. Lagu itu berasal dari sebuah radio yang menjadi sarana komunikasi di rumah kontrakan kecil itu.
"Cahaya, assalamualaikum," ucap seorang wanita paruh baya sambil menenteng rantang berisi makanan yang sepertinya akan diberikan pada Cahaya.
"Eh, iya, Bu, ada apa?" Cahaya berjalan menghampiri wanita itu.
"Ini, Ibu bawakan makanan untukmu. Pasti kau belum belanja, kan?"
__ADS_1
"Waalaikumsalah, Aduh maaf karena saya sudah merepotkan. Terima kasih, Bu."
"Tidak apa-apa, justru saya senang karena Setelah sekian lama akhirnya rumah ini ada yang menempati. Orang-orang tidak pernah mau menempati rumah ini karena bekas tragedi pembunuhan."
Oh, rupanya wanita itu adalah pemilik kontrakan yang ditempati oleh Cahaya. Namanya adalah Bu Darsih.
"Iya, Bu, saya tidak masalah malam ini bekas apapun, yang penting saya memiliki tempat untuk bernaung." Cahaya tersenyum kecil. Dia bukanlah orang yang mudah takut. Apalagi hal-hal yang berbau mistis, itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkannya. Bahkan tadi dia masih menemukan garis polisi di dalam rumah itu. Namun, dia tidak gentar sama sekali.
Setelah wanita tadi pergi, Cahaya pun langsung menikmati makanan yang dibawakan oleh wanita itu. Dia memang sangat lapar karena belum makan sejak pagi akibat beres-beres rumah.
Hai, ada rekomendasi novel aku yang lain nih buat kalian
__ADS_1