
"Sekarang jelaskan pada Mama, apa semua yang dikatakan wanita di pesta tadi benar?" tanya Sevina menatap serius pada Davin. Kini mereka sedang berada di rumah Davin. Melakukan sidang kepada Davin yang Cahaya akhirnya diketahui menikah karena terpaksa.
"Benar, Ma," sahut Davin pelan.
"Mengapa kau melakukan semua ini, Nak?" Sevina menatap Davin dengan tatapan kecewa.
"Maaf, Ma, tapi itu kulakukan agar Mama tidak mendesak ku untuk segera menikah dengan gadis pilihan Mama." Davin menatap dengan tatapan bersalah. Dia menyesal karena telah membohongi semua orang tentang hubungannya dengan Cahaya.
"Astaga, kenapa kau tega sekali pada kami, Nak? Apa salah kami?" Sevina pun tak kuasa menitihkan air matanya. Hal yang paling dibenci Davin saat ini. Apalagi penyebab mamanya meneteskan air mata adalah karena dirinya. Andai saja dia bisa memutar waktu, pasti dia tidak akan melakukan hal ini. Harusnya dia menyadari bahwa setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya.
Cahaya hanya tertunduk saja. Dia tidak berani menatap wajah kedua mertuanya.
"Cahaya, mengapa malam itu kau nekat melakukan bunuh diri?" tanya Sevina yang kini beralih menatap menantunya itu.
"Maaf, Ma, waktu itu aku akan dinikahkan oleh laki-laki tua demi uang," ucap Cahaya yang masih betah menundukkan kepalanya.
"Tatap wajah Mama ketika berbicara, Cahaya!"
Mendengar seruan itu, Cahaya pun langsung mendangakkan wajahnya. Menatap Ibu mertuanya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Sedangkan Ayah mertuanya kini menatapnya dengan perasaan penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Lalu siapa wanita yang tadi membongkar semua ini?"
"Dia adalah Lia, istri dari mantan tunanganku yang membuatku hampir dinikahi laki-laki tua, Ma."
"Lalu, bolehkah Mama menanyakan sesuatu? Apakah kau tidak menyukai Davin sama sekali?"
Pertanyaan Sevina membuat Davin dan Cahaya saling bertatapan. Cahaya bingung harus mengatakan apa. Jika dia mengatakan bahwa dirinya mencintai Davin, pasti Ibu mertuanya akan meminta Davin untuk mempertahankan pernikahan ini. Padahal, Davin sendiri sama sekali tidak mencintai Cahaya karena hatinya masih terikat bersama cinta masa lalunya yang bahkan tidak pernah sekalipun bisa digapainya.
"Sekarang pikirkan saja pernikahan kalian. Mama berharap kalian bisa menyelesaikan masalah ini tanpa adanya perceraian."
Sevina dan David pun segera pergi dari rumah mereka. Kini, tinggallah Davin dan Cahaya yang masih duduk di sofa rumah itu.
"Mas, aku minta maaf. Harusnya aku..."
"Lalu, apakah kau marah padaku?"
"Untuk apa marah? Semua sudah terlanjur terjadi, Cahaya. Meskipun aku marah, itu tidak akan merubah apapun."
"Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita?" Cahaya menatap ragu.
__ADS_1
"Entahlah, di saat seperti ini aku belum bisa memutuskannya. Aku terlalu sedih karena untuk pertama kalinya Mama menangis karena aku. Seandainya aku tidak.... Ah sudahlah, untuk apa menyalahkan diri sendiri."
Cahaya dapat melihat dari tatapan Davin bahwa pria itu sepertinya menyalahkan dirinya atas kejadian malam ini.
"Mas, aku..."
"Maaf, jangan ganggu aku dulu." Davin memotong ucapan Cahaya dan pergi meninggalkan wanita itu menuju ke kamarnya.
Cahaya merasa sangat sedih mendapatkan perlakuan seperti itu dari Davin. Dia pun segera pergi ke kamarnya untuk berkemas.
Tapi, dia baru ingat bahwa semua baju yang ada di rumah ini adalah pembelian dari Davin. Sedangkan baju miliknya sendiri tidak ada satupun.
Dia hanya membawa tas selempang dan menunggu waktu yang tepat untuk pergi dari rumah itu tanpa diketahui oleh Davin.
Setelah berupaya keras, akhirnya dia berhasil mencapai jalanan. Dia pun menyetop ojek online yang kebetulan mangkal tidak jauh dari tempatnya berjalan.
"Bang, ke terminal, ya," ujar Cahaya sambil menepuk pundak sang ojol.
"Iya, Neng." Ojol tersebut pun langsung membawa cahaya menuju ke terminal.
__ADS_1
Dia pun langsung membeli tiket untuk sebuah bus yang akan mengantarnya ke sebuah desa. Desa itu adalah desa tempat kelahiran ayahnya. Di sana, dia akan memulai hidup baru.
Semoga saja dengan begini Davin tidak akan merasa direpotkan lagi olehnya.