Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Tamu tak diundang


__ADS_3

Angin berhembus menyambar dedaunan kering hingga akhirnya jatuh ke tanah. Terinjak boleh kasih bagi manusia yang melintas di atasnya. Bersamaan dengan itu, terlihat Cahaya yang masih menatap Davin dengan tatapan penuh kekecewaan. Ternyata benar, Safira adalah gadis yang sangat dicintai Davin. Seketika jiwa percaya diri Cahaya pun luntur seketika melihat kenyataan ini. Jelas sekali dia dan Safira berbeda kelas. Mana mungkin dia bisa seperti Safira.


"Dia sangat cantik," puji Safira sambil menatap sendu.


"Ya, dia memang sangat cantik." Davin membenarkan.


"Tapi, tidak baik jika kau mencintai istri orang, Mas, apalagi suaminya adalah sepupumu sendiri." Cahaya mengingatkan.


"Ya, aku tahu itu. Tapi, kau tidak bisa memaksakan seseorang untuk melupakan cintanya."


"Ya, Mas, kau benar," sahut Cahaya sambil tersenyum. 'Begitu juga dengan kau yang tidak bisa memaksaku untuk berhenti menyukaimu," batinnya.


"Oh ya, kalau kau tidak bisa dengan udara dingin AC, aku akan membelikanmu kipas angin saja."


"Baik, terima kasih, Mas." Cahaya mengangguk sambil tersenyum. Dia sedikit lebih lega karena tidak perlu berurusan dengan AC lagi.

__ADS_1


"Davin, hai, apa kabar?" Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya dan anaknya datang dan membawa parsel buah. Ternyata dia adalah teman mamanya Davin.


Cahaya dan Davin sedikit heran karena mereka sama sekali tidak menduga hal ini.


"Tante Zira? Baik, Tante." Davin menyahut. Dia melihat anaknya Zira yang bernama Adel, gadis yang hampir saja dijodohkan dengan Davin.


Cahaya mengingat wajah Zira. Wanita itulah yang datang ke pertunangannya bersama Davin dan menghinanya karena miskin. (Lihat bab 7 tunangan)


"Tante dengar dari mamamu kalau istrimu masuk rumah sakit. Memangnya kenapa bisa sampai di sini?" tanya Zira dengan tatapan khawatir. Entah pura-pura atau tidak, hanya dia, Tuhan, dan author lah yang tahu.


"Ya, itu memang biasa bagi kalangan menengah ke bawah yang tidak terbiasa dengan AC. Makanya Cahaya, harusnya kau membiasakan diri. Davin ini orang terpandang, lho, jangan membuat malu."


Cahaya yang mendengar ucapan Zira langsung mengernyitkan dahinya. 'Apa ibu-ibu ini mengajak berperang?' batinnya.


"Tante, jangan bicara begitu, Cahaya sedang sakit," tegur Davin.

__ADS_1


"Ya, Ma, jangan begitu, kasihan Cahaya. Dia kan terbiasa hidup susah, jadi maklum kalau dia belum terbiasa dengan hidup mewah di rumah Davin," tambah Adel.


"Mbak, kau tamatan sekolah tinggi, kan?" tanya Cahaya tiba-tiba.


"Iya, kenapa? Hebat, kan?"


"Iya, hebat, tapi kok masih jomblo, ya sampai mamanya bilang padaku bahwa Davin lebih pantas dengan Mbak. Mamanya seperti tidak terima Mas Davin tunangan sama saya. Dijaga ibunya, Mbak, jangan buat malu anaknya seperti itu. Jelas saja Mas Davin tidak mau dengan Mbak. Sopan santunnya tidak ada meski berpendidikan tinggi."


Mendengar ucapan Cahaya, Davin dan Adel pun terkejut. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa Zira pernah mengatakan hal itu.


"Ma, Mama pernah bilang begitu?" tanya Adel sambil menatap kesal.


"Tidak, Sayang, bukan begitu maksudnya." Zira mulai terlihat gugup.


"Logika saja, Bu, kalau Mbak Adel cocok untuk Mas Davin, pasti dia tidak akan menolak wanita berpendidikan tinggi yang ngakunya cantik." Cahaya tersenyum saat melihat wajah Zira dan Adel yang semerah tomat.

__ADS_1


Mereka yang sudah terlanjur malu pun tidak punya pilihan selain pergi. Cahaya bisa tersenyum puas melihat mereka pergi. Sementara Davin hanya duduk seolah tak peduli dengan kejadian tadi. Sejak kedatangan Safira, pikirannya seolah terhipnotis oleh wanita itu. Inikah yang dinamakan cinta yang sesungguhnya?


__ADS_2