Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Kegalauan


__ADS_3

Davin sedang sibuk di kantornya. Dia menandatangani banyak berkas di atas meja kerjanya. Berkali-kali dia mengusap wajahnya kasar karena merasa pekerjaan tak kunjung selesai.


"Biasanya, meskipun tumpukan di atas mejaku melebihi tinggiku, pasti aku bisa melakukannya dengan lancar. Tapi kenapa sekarang aku malah tidak bisa melakukannya sama sekali?" Davin terus mengurangi kepalanya yang kini terasa pusing.


"Maaf, Tuan, ini pesanan teh anda," ucap seorang OB sambil meletakkan secangkir teh di atas meja Davin.


Davin tak menjawab dan terus fokus pada pekerjaannya. Karena tidak berhati-hati, tangannya pun menyenggol tangan si OB hingga membuat beberapa tetes kopi jatuh membasahi berkas itu.


"Kau!" Davin berdiri dengan tatapan penuh emosi. OB yang merupakan seorang wanita itu langsung menunduk ketakutan.


"Maafkan saya, Tuan, maafkan saya. Jangan pecat saya karena ini adalah satu-satunya mata pencaharian saya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya." OB itu memohon, bahkan bersimpuh di kaki Davin.


Davin mengusap wajahnya pelan, lalu berucap pada OB itu. "Berdiri."


Sang OB tidak lekas berdiri. Dia masih bersimpuh di kaki Davin sambil terus memohon dengan kalimat-kalimat menyedihkan yang keluar begitu saja dari mulutnya.


"Maafkan saya, Tuan, ini adalah bulan kedua saya bekerja di sini. Jangan pecat saya, Tuan. Adik-adik saya membutuhkan biaya untuk sekolah. Hanya saya yang mereka punya setelah kedua orang tua kami meninggal."


Davin tertegun mendengar ucapan sang OB. Cahaya juga tidak memiliki orang tua lagi.


"Aku akan mengampunimu jika kau berdiri."

__ADS_1


OB itu pun langsung berdiri dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Di bajunya tersemat nama Rima.


"Orang tuamu meninggal karena apa?"


"Mereka sakit, Tuan. Ayah saya meninggal saat saya berumur lima belas tahun. Dan ibu saya meninggal setahun setelahnya."


"Apakah mereka dikubur di sini?"


Rima terlihat heran dengan pertanyaan Davin. Namun, dia harus tetap menjawabnya.


"Tidak, Tuan, mereka meninggal saat kami masih tinggal di sebuah desa kecil."


"Jadi, orang tuamu dimakamkan di desa kelahiran mereka?"


"Bagaimana jika di kota ini kau sudah tidak ada pekerjaan lagi?"


"Saya akan kembali ke kampung kelahiran orang tua saya, Tuan."


Davin terdiam sejenak. Dia mengingat tempat kelahiran orang tua Cahaya yang sudah diketahuinya, namun dia tak kunjung menemukannya di sana.


"Menurutmu seperti apa sebuah desa yang ditinggali orang yang baru datang dari kota?"

__ADS_1


"Lalu, jika ada seseorang yang mencarimu di desa itu, bagaimana mereka akan menemukanmu?"


"Di setiap desa pasti ada namanya data penduduk, Tuan. Meskipun kita hanya sebagai tamu di sana, pasti data kita akan tetap ada di sana."


Davin tertegun mendengar ucapan wanita itu. Dia pun segera teringat dengan anak buahnya yang hanya mencari informasi dari mulut ke mulut.


Tapi, mungkin saja mereka melakukan semua itu karena mereka bukanlah keluarga Cahaya yang bisa bertemu dengannya tanpa hambatan. Davin pun mulai memikirkan ide bagaimana caranya agar dia bisa menemukan Cahaya.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan langsung pergi ke sana dan mencari keberadaan Cahaya. Aku bisa membawa buku nikah kami sebagai bukti bahwa aku adalah suaminya." Davin menghela nafas panjang. Dia pun segera menghubungi wakilnya untuk mengurus segala urusan yang ada di kantor ini selama dia pergi.


Dia akan terjun langsung untuk mencari keberadaan Cahaya.


Sementara itu...


"Bagaimana? Sudah ditemukan?" tanya seorang pria tua yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Sudah, Tuan. Kami berhasil menemukannya. Dia memang ada di desa itu dan tinggal di kontrakan yang kami datangi waktu itu."


"Ah, syukurlah kalau dia selamat."


"Apakah harus membawanya pulang secara paksa?"

__ADS_1


"Tidak, jangan! Jika dia bertemu denganku, pasti dia akan sangat membenciku. Sebaiknya biarkan saja dia di sana. Asalkan dia bahagia, aku akan dengan senang hati menerimanya. Hanya saja, ketika aku sudah mati, maka jalankan wasiat untuk memberikan semua hartaku padanya. Cepat atau lambat, dia memang harus tahu bahwa aku adalah....kakeknya."


__ADS_2