
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Teo? Kenapa kamu menarikku ke sini? Apakah itu hal penting?" Tanya Olivia ketika mereka sudah berada di luar ruangan yang di tempati oleh Rea saat ini.
Teo terlihat menghela nafasnya kasar, ia menatap Olivia dengan tatapan matanya yang terkesan dingin itu. "Jangan berbicara tentang masa lalu kita di hadapan Rea. Itu akan mempengaruhi kesehatannya." Ucap Teo membuat Olivia langsung mengernyitkan keningnya.
"Mempengaruhi kesehatan dia, atau memang kamu tidak mau dia tahu yang sebenarnya?" Tanya Olivia sembari menahan amarah dalam dirinya yang mulai muncul.
"Dua-duanya." Jawab Teo semakin membuat Olivia marah.
"Apa kamu sudah jatuh cinta pada gadis itu?" Tanya Olivia membuat Teo langsung terdiam. "Kenapa? Kenapa kamu hanya diam saja? Apakah sangat susah untuk menjawab pertanyaanku itu?" Lagi, Olivia bertanya kepada Teo sembari memperlihatkan raut wajahnya yang sendu.
"Jangan bahas masalah ini, sebaiknya kamu pulang saja, Olivia." Ucap Teo di iringi dengan helaan nafasnya.
__ADS_1
"Akun tidak akan pulang sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi!" Seru Olivia sambil menatap Teo yang saat ini terlihat mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak tahu, yang jelas saat ini aku sangat mengkhawatirkan Rea, dan aku mohon sama kamu, jangan pernah bahas masa lalu kita di hadapan Rea, mengerti." Ucap Teo dengan nada suaranya yang mulai dingin, bahkan tatapan mata laki-laki itu terlihat sangat tajam, berbeda dari sebelumnya.
Olivia seketika mengepalkan kedua tangannya erat ketika ia mendengar jawaban dari sang kekasih. Ekor matanya terlihat ada kristal bening, yang siap terjatuh membasahi wajah cantiknya itu. "Aku kekasihmu, Teo. Dan sebagai kekasihmu, aku sangat cemburu saat mendengar kamu mengkhawatirkan wanita itu. Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat ini?" Olivia menangis, berharap laki-laki yang berada di hadapannya itu merasa bersalah dan meminta maaf kepada dirinya. Namun, sepertinya itu hanya sekedar harapannya saja, karena nyatanya, laki-laki itu hanya diam dengan mulut terkunci rapat.
"Mengapa kamu diam saja? Apa aku salah, kalau aku cemburu dengan kekasihku sendiri? Jawab aku, Teo!" Seru Olivia sembari memegang lengan Teo.
"Tidak! Aku tidak mau. Kamu pasti becanda kan, sayang? Kamu,,,, kamu tidak bersungguh-sungguh mengakhiri hubungan kita kan?" Olivia menangkup wajah Teo dan menatapnya dari jarak yang begitu dekat.
"Aku serius, Olivia. Aku mau hubungan kita berakhir sampai di sini." Ucap Teo sembari melepaskan tangan Olivia dari wajahnya. Tatapan mata laki-laki itu terlihat sangat serius, begitu pun juga dengan ucapannya.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau. Sampai kapan pun, aku tidak mau putus darimu, Teo!" Seru Olivia di iringi dengan derai air matanya. "Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku kan, sayang? Kamu mengatakan itu karena terpaksa kan? Itu semua karena wanita itu kan?" Lanjut Olivia dengan penuh percaya diri.
"Sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah malam. Maaf aku tidak bisa mengantarmu." Bukannya menjawab, Teo justru menyuruh Olivia untuk pulang. Lalu setelah itu, ia pun berbalik dan mulai melangkahkan kedua kakinya menuju pintu ruangan.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang, tapi ingat, Teo. Hubungan kita masih tetap berlanjut, sampai kapan pun akan tetap berlanjut. Kamu mengerti." Ucap Olivia dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan.
Teo sama sekali tidak menggubrisnya, ia terus berjalan menuju pintu ruang inap itu membuat amarah dalam diri Olivia kian memuncak.
"Aaarghhh sialan!" Geram Olivia sembari menatap Teo yang saat ini sudah memasuki ruangan itu. "Teo, kamu itu milikku, selamanya akan menjadi milikku. Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Teo." Batin Olivia sembari menghapus air mata di pipinya.
Bersambung.
__ADS_1