
Di dalam mobil.
Mama Grace menangis dalam pelukan putri kandungnya, mengingat masalalu yang sering mengabaikan dan menganggap Rea tidak ada, semakin membuat hati mama Grace kian merasa bersalah. Mama Grace sangat menyesal karena dulu dia selalu bersikap tidak baik terhadap putri kandungnya sendiri.
Rea, kamu selalu saja membuat mama kesal. Apakah kamu tidak bisa membuat mama tenang sedikit pun? Lihatlah, Olivia. Meskipun dia bukan putri kandung mama, tapi dia jauh lebih baik daripada kamu.
Olivia itu sudah mama anggap sebagai putri mama sendiri, dan kamu harus menghormatinya.
Rea! Kamu sengaja menumpahkan air itu pada Olivia? Kenapa kamu begitu buruk, Olivia sudah sangat baik terhadapmu tapi kamu malah tidak menghargai kebaikannya. Mama menyesal karena sudah melahirkan gadis seperti dirimu. Seharusnya kamu tidak lahir, kamu benar-benar sudah membuat mama marah.
Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya dulu, mulai terngiang-ngiang di telinga mama Grace, tangisannya semakin menjadi, bahkan Stevan yang sedang mengemudi pun sesekali meliriknya melalui kaca spion.
"Apakah tamparan laki-laki jahat itu sangat menyakitkan?" tanya Rea seraya melepaskan pelukan sangat mama, dan menatap sang mama dengan sendu. Meskipun ia tidak mengingat masalalunya, namun hati seorang anak pasti akan sakit ketika melihat mama kandungnya seperti ini.
__ADS_1
Mama Grace menggeleng pelan, ia pun mulai menghapus air matanya, "tidak, tapi hati mama yang sakit, Rea. Sangat sakit." Jawab mama Grace diiringi dengan isak tangisnya.
"Jangan menangis lagi, mah. Ada aku di sini. Aku pastikan laki-laki itu tidak bisa menyakiti mama lagi." Ucap Rea kembali membawa sang mama ke dalam pelukannya.
Air mata mama Grace kembali terjatuh, ketika ia mendengar perkataan Rea barusan, jika Rea tidak amnesia, apakah Rea akan tetap seperti ini? Memeluk dan menenangkan dirinya yang dulu sudah sering membuat Rea menangis dan sakit hati, bahkan ketika Olivia pergi pun mama Grace menyalahkan Rea, dan mengatakan jika Rea adalah wanita yang buruk karena sudah merebut Teo dari Olivia.
"Mama, kenapa semakin menangis? Bukankah sekarang mama sudah bersamaku? Dan mama tidak akan lagi mendapat kekerasan dari suami mama itu." Rea kembali melepaskan pelukannya, lalu menatap sang mama dengan khawatir.
"Mama menangis bukan karena dia, sayang. Mama menangis karena mama merasa sangat bersalah kepadamu," mama Grace menjeda ucapannya sejenak, ia menatap lekat wajah cantik putri kandungnya. "Selama ini mama selalu bersikap buruk sama kamu, Rea. Mama selalu mengabaikanmu, mama selalu memarahimu, mama juga menyalahkanmu atas kepergian Olivia dulu. Mama.... Mama sungguh-sungguh sangat menyesal, Rea. Maafkan mama." Isak tangis mama Grace kembali terdengar. Sedangkan, Rea. Ia terlihat mengulas senyumannya yang manis dengan tatapan yang masih tertuju pada sang mama.
"Rea, apakah jika kamu tidak hilang ingatan, kamu akan tetap memaafkan mama?" Tanya mama Grace membuat Rea seketika mengernyitkan keningnya.
"Kenapa mama bertanya seperti itu?" Rea berbalik nanya kepada sang mama.
__ADS_1
"Karena kesalahan mama sangat besar terhadapmu, sayang. Mama... "
"Mah, sebesar apa pun kesalahan mama kepadaku di masalalu, aku tetap akan memaafkan mama. Sekalipun aku tidak hilang ingatan, aku pasti akan memaafkan mama." Rea menyela ucapan sang mama dengan cepat, ia tidak ingin melihat sang mama terus merasa bersalah kepada dirinya. "Jangan menangis lagi, mah. Aku sudah memaafkan semua kesalahan mama di masalalu." Sambungnya lagi dengan seulas senyuman yang kembali tersungging dari sudut bibirnya.
Mama Grace pun tersenyum, ia lantas mencium kening putrinya. "Terima kasih, sayang. Mama merasa tenang sekarang.“ ucap mama Grace yang mendapat anggukkan kepala dari Rea.
Mama Grace lantas menatap ke depan, ia baru menyadari jika yang sedang mengemudi mobil itu ternyata bukanlah Teo, melainkan Stevan, laki-laki yang mengaku sebagai teman putrinya.
"Loh Stevan!" mama Grace sedikit terkejut, sementara Stevan terlihat menampilkan senyumannya melalui kaca spion mobilnya. "Sayang, mama pikir tadi yang menyetir mobil adalah suamimu. Ternyata bukan." Mama Grace kembali menatap putrinya, ia penasaran mengapa Rea bisa bersama Stevan, bukan bersama suaminya, Teo.
"Teo sibuk, mah. Dan aku tidak sengaja bertemu dengan Stevan di jalan saat aku ingin memanggil taxi tadi. Dan dia memaksa untuk mengantarku ke kediaman Sbastian." Jawab Rea sekilas melirik Stevan yang masih tersenyum manis.
"Oh begitu." Mama Grace kembali menatap ke arah Stevan. "Maaf, kamu jadi melihat hal seperti ini, Stev!" ucapnya pelan.
__ADS_1
"Tidak apa, tante. Dengan kejadian ini, saya jadi tahu, jika Sbastian bukanlah laki-laki baik, dan saya yakin sebentar lagi perusahaannya akan mengalami kekacauan." Ucap Stevan membuat mama Grace dan juga Rea terdiam dengan penuh tanda tanya.
Bersambung.