
Rea menggeleng dengan cepat, ia pun lantas bangkit dengan sekuat tenaganya membuat tangan Teo terlepas dari pinggang rampingnya itu. "Jangan bertindak terlalu jauh, Teo. Aku memang akan memberimu kesempatan, tetapi aku tidak akan tidur denganmu." Ucapnya dengan tegas. Setelah itu, Rea pun membawa kakinya berniat untuk pergi meninggalkan Teo.
"Kita sudah menjadi suami istri, tidak baik jika kita terus tidur secara terpisah," Teo bangkit, ia berjalan menghampiri Rea yang terlihat menghentikan langkah kakinya. "Meskipun kamu hilang ingatan, tetapi fakta bahwa kamu adalah istriku, itu tidak akan pernah hilang. Jadi, mulai malam ini, tidurlah bersamaku, aku janji, aku tidak akan melakukan apa pun sampai kamu mencintai aku kembali seperti dulu lagi." Sambung Teo seraya menatap sang istri dengan lekat.
Rea nampak terdiam beberapa saat, apa yang di ucapkan oleh Teo memang ada benarnya juga, meskipun dia hilang ingatan, tetapi fakta bahwa dirinya adalah istri Teo itu tidak bisa di hilangkan. Sekalipun Rea tidak mencintai Teo lagi, namun ia tetaplah istri Teo saat ini. Sebagai pasangan suami istri, bukankah seharusnya tidur di dalam ruangan yang sama?
"Rea.... " Kali ini ucapan Teo tercekat di tenggorokan, ketika suara Rea terdengar di telinganya.
"Baiklah, aku akan tidur di sini. Tetapi, aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu." Kata Rea terlihat masih ragu untuk tidur satu ruangan bersama suaminya.
Teo tersenyum, ia tentu saja tidak mempermasalahkan hal itu, yang terpenting bagi Teo adalah, Rea tidur di dalam ruangan yang sama bersama dirinya. "Baiklah, aku setuju," Teo berkata dengan lembut, senyuman di wajahnya tidak pernah hilang sedikitpun. "Istirahatlah, aku akan meminta si bibi untuk memindahkan semua barang-barangmu kemari." Sambung Teo seraya mengusap puncak kepala Rea.
__ADS_1
Rea hanya mengangguk, ia tidak lagi mengeluarkan suaranya, sementara Teo, ia terlihat berjalan keluar dari kamar tersebut.
***
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, Rea sudah terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan kedua matanya, memperjelas penglihatannya saat ini. Rea terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya ia menyadari jika dirinya saat ini tidur di kamar suaminya. Rea dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya, ia menelisik sekelilingnya, mencari keberadaan Teo yang ternyata tidak ada di dalam kamar itu.
Rea menghela nafas, ia berpikir mungkin semalam Teo tidak tidur di kamar itu, atau mungkin Teo ketiduran di ruang kerjanya, karena sebelum Rea tidur semalam, Teo berpamitan untuk pergi ke ruang kerja, ada beberapa hal yang harus ia periksa saat itu juga.
Rea terkejut, seketika ia menutup kedua bola matanya dengan kedua tangannya. "Aaaaaaarghh... " Ia berteriak kencang, membuat Teo terkejut mendengar teriakannya yang nyaring itu.
"Astaga... Kenapa pagi-pagi kamu sudah berteriak seperti itu? Bikin aku terkejut saja." Ucap Teo seraya berjalan menghampiri Rea yang masih menutupi kedua bola matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau yang sudah membuatku terkejut, Teo. Kenapa kau tidak memakai pakaianmu di dalam kamar mandi saja? Kenapa harus menggunakan handuk kecil itu." Rea berkata dengan kesal. Sungguh, ia tidak menyangka jika kedua bola matanya akan ternodai sepagi ini. Biasanya, ketika ia bangun, ia akan di perlihatkan cahaya matahari yang menembus celah jendela kamarnya, namun kali ini, kedua bola matanya justru harus melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Meskipun pemandangan itu cukup indah, tetapi tidak bagi Rea.
Teo berdiri di hadapan Rea, tangannya bersidekap, menatap Rea yang enggan melepaskan kedua tangannya dari wajahnya itu. "Memangnya kenapa kalau aku hanya memakai handuk ini saja? Apakah ada yang salah? Lagian, ini kamarku, jadi untuk apa aku membawa pakaian gantiku ke kamar mandi." Ucap Teo terlihat menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Rea mendengus kesal, ia menatap Teo melalui celah jari jemarinya. "Kamu.... Kamu kenapa berdiri di sini? Pergi sana, pakai pakaianmu." Seru Rea seraya merapatkan kembali jari jemarinya yang cantik itu.
Teo terkekeh, bukannya ia pergi, ia justru semakin mendekatkan tubuhnya pada Rea, bahkan tetesan air yang terjatuh dari rambutnya dapat Rea rasakan di tangannya. "Kamu malu hmmm." Teo berbisik dengan nada sensual, sesekali ia pun menghembuskan nafasnya yang beraroma mint tepat di telinga sang istri. "Jangan menutupi matamu, bukankah aku ini suamimu? Jadi, sudah sewajarnya jika kamu melihat tubuhku ini." Bisiknya lagi semakin terdengar sensual di telinga Rea.
Bulu kuduk Rea seketika berdiri, tangannya reflesk mendorong tubuh Teo, hingga tubuh Teo terjatuh ke bawah. Dan sialnya, ketika Teo di dorong oleh dirinya, dengan sengaja Teo menarik tangan Rea, dan membuat Rea terjatuh di atas tubuh telanjangnya itu.
Bersambung.
__ADS_1