
Hotel
"Mah, bagaimana keadaan mama sekarang? Apakah mama masih memikirkan laki-laki jahat itu?" tanya Rea ketika ia sudah tiba di dalam kamar hotel tempat yang kini di huni oleh mamanya, Grace.
Rea memberikan bunga kepada sang mama, tak lupa ia juga meletakkan beberapa cemilan di atas meja yang berada di dalam hotel tersebut. Ia duduk di samping sang mama yang kini sedang menatapnya dengan seulas senyuman di wajahnya yang mulai keriput itu.
"Mama baik-baik saja, sayang. Dan mama sudah tidak memikirkan laki-laki itu lagi. Mama hanya memikirkan kebahagiaanmu saja," jawab Grace seraya mengusap lembut wajah cantik putrinya itu. Perasaan bersalah selalu saja terbesit dalam hatinya, sehingga membuat Grace selalu menangis dalam kesendiriannya.
__ADS_1
Rea nampak menghela nafasnya kasar, ia menatap sang mama cukup lama, hingga akhirnya ia pun membuka mulutnya dan berkata. "Jangan memikirkan kebahagiaanku, mah. Pikirkan saja kebahagiaan mama sendiri. Aku sudah cukup bahagia meskipun aku telah kehilangan ingatanku. Setidaknya, aku tidak kehilangan mama, wanita yang telah melahirkan aku." Rea memeluk mamanya dari samping, kesedihan jelas Rea rasakan saat ini. Mengingat perlakuan suami mamanya beberapa waktu lalu, membuat dada Rea terasa sangat sesak. Meskipun Rea tidak mengingat tentang mamanya dulu, tapi sebagai seorang anak, dia pasti akan merasa sakit jika melihat wanita yang telah melahirkannya di perlakukan buruk oleh orang lain.
Grace tersenyum sendu, ia kembali mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu, ia ingin membuat putrinya merasakan kehangatan seorang ibu, meskipun itu sedikit telat. Tetapi, Grace tetap akan menebus kesalahannya. "Terima kasih sayang. Kamu tidak akan kehilangan mama, sayang. Mama janji, mulai sekarang mama akan selalu ada di sisi kamu. Menemani kamu sampai tua nanti. Maafkan mama, karena mama... "
"Mah.... Jangan membahas masa lalu lagi, ok. Lupakan semua tentang masa lalu itu, karena itu semua akan membuat mama kembali merasa bersalah kepadaku, bukan? Jadi, lebih baik, sekarang kita memikirkan bagaimana kehidupan kita selanjutnya." Kata Rea menyela ucapan sang mama yang ia yakini akan menjurus pada masa lalunya. Rea tidak ingin sang mama merasa bersalah lagi karena dulu sang mama telah menyia-nyiakan dirinya.
Grace menghela nafasnya kasar, ia pun lantas tersenyum seraya mengusap lembut wajah cantik putri semata wayangnya itu. "Mama tidak mau merepotkan kalian berdua. Lebih baik mama tinggal di sini saja, atau mama cari kontrakan kecil untuk mama tinggalin." Ucapnya terdengar lirih. Grace memang tidak ingin membebani putri serta menantu laki-lakinya itu. Ia ingin tinggal sendirian, juga ingin mencari kerja untuk menghidupi dirinya. Tapi, kerja apa? Siapa yang membutuhkan seorang pekerja yang usianya sudah tidak muda lagi?
__ADS_1
Mendengar ucapan sang mama, Rea pun menggelengkan kepalanya. "Mah... Jangan berbicara seperti itu. Aku ini putri mama, aku tidak merasa terbebani jika mama tinggal bersamaku dan Teo. Aku justru merasa sangat bahagia jika mama tinggal bersama kita. Lagian, jika mama terus tinggal di hotel ini, atau mama ngontrak di tempat lain, bagaimana aku bisa menjaga mama? Bagaimana aku bisa tahu kalau nanti mama sakit? Bagaimana bisa aku mengurus mama?" Ungkap Rea dengan tangan yang terus menggenggam hangat tangan sang mama.
Rea tidak ingin mamanya tinggal sendirian, karena saat ini sang mama lah keluarga satu-satunya yang ia miliki selain Teo. Jadi, Rea harus menjaga sang mama dengan baik.
"Mah, kalau mama sayang aku, tinggallah bersamaku. Tapi, kalau mama tidak sayang sama aku, mama boleh tinggal di sini sampai kapan pun. Teo sudah membayar kamar ini untuk mama. Jadi.... "
"Suamimu yang bayar kamar hotel ini? Tapi, bukankah mama sudah... "
__ADS_1
"Iya, mah. Teo yang sudah membayar kamar hotel ini, dan uang yang mama kasih ke aku untuk membayar tagihan hotel ini, masih aman tidak terganggu sedikit pun. Jadi, mama bisa gunakan uang itu untuk keperntingan mama sendiri." Ucap Rea menyela ucapan mamanya yang belum selesai. Gadis itu memang tidak meminta Teo untuk membayar tagihan kamar hotel tersebut, tetapi Teo lah yang berinisiatif sendiri. Karena bagaimana pun juga, Grace adalah mertuanya, jadi sudah sewajarnya Teo bersikap baik dan perduli terhadap Grace.