
Rea terlihat mengernyitkan keningnya, ia tidak langsung menjawab ucapan laki-laki tampan tersebut. Ia mencoba untuk mengingat laki-laki itu, namun ia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Kepalanya terasa berdenyut, sehingga membuat Rea sedikit meringis membuat laki-laki tampan itu terlihat khawatir.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya laki-laki itu dengan nadanya yang khawatir. Tangannya refleks menyentuh tangan Rea, membuat Rea terkejut dan langsung menepis nya kasar. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu. Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu, Rea." Sesal laki-laki itu sembari menatap Rea dengan perasaan bersalahnya.
Rea menggeleng pelan, ia menatap laki-laki itu, kemudian ia berkata. "Tidak apa. Tapi, apakah kamu mengenalku? Siapa kamu? Apakah kamu temanku?" Tanya Rea penasaran.
Laki-laki itu tersenyum, ia menatap Rea dengan hangat. "Ya, aku mengenalmu, Rea. Dan mungkin aku bisa di bilang temanmu, ah lebih tepatnya laki-laki yang menyukaimu," jawab laki-laki itu terdengar begitu lembut. Tatapan matanya yang hangat membuat hati Rea sedikit bergetar. "Aku, Stevan. Laki-laki yang akan membebaskanmu dari genggaman Teo." Sambung laki-laki itu yang tak lain adalah Stevan.
Rea terdiam, ia menatap Stevan mencari tahu apakah yang di ucapkan oleh Stevan adalah sebuah kebenaran atau sebuah kebohongan. Namun, tatapan mata Stevan sama sekali tidak menunjukan jika dirinya sedang berbohong, dan itu artinya apa yang di ucapkan oleh Stevan adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
"Stevan? Aku tidak mengenalmu." Ucapan Rea membuat Stevan terkekeh pelan. Bahkan suara gadis itu masih sama seperti sebelum gadis itu kehilangan ingatannya. Sangat dingin.
"Tentu saja kamu tidak akan mengenalku, Rea. Karena saat ini kamu amnesia, jadi sangat wajar jika kamu tidak mengenalku." Stevan meletakan sekeranjang buah yang sengaja ia beli sebelum ia pergi menjenguk Rea. Mungkin, saking senangnya ia melihat Rea sudah sadar, ia sampai lupa untuk meletakkan sekeranjang buah itu tadi.
"Tapi, aku akan membantumu untuk mengingatku lagi." Stevan kembali berkata, dengan tatapan matanya yang masih sama.
Rea tertegun beberapa saat, jika di bandingkan dengan Teo, mengapa hati Rea merasa jauh lebih nyaman ketika ia bertatapan mata dengan Stevan? Sungguh aneh bukan.
Rea tertawa dingin, laki-laki ini ternyata sangat percaya diri sekali. "Kau terlalu percaya diri, tuan." Ucap Rea masih dengan nada suaranya yang dingin itu.
__ADS_1
"Percaya diri itu sangat penting, lagian bukankah aku memang tampan?" Stevan mengedipkan sebelah matanya kepada Rea, sama persis seperti laki-laki genit yang sedang menggoda wanita.
Rea memutar kedua bola matanya dengan malas, laki-laki ini, baru bertemu sudah menggodanya, benar-benar seperti laki-laki hidung belang. "Ya, kau memang tampan, apa kau puas." Ucapnya dengan malas.
Stevan terkekeh, setidaknya ia tahu jika saat ini Rea sudah baik-baik saja, lihat saja wajah cemberut wanita ini, tidak seperti orang yang sudah mengalami kecelakaan. "Kamu sangat cantik, meskipun cemberut seperti itu. Aku jadi semakin tertarik sama kamu." Kata Stevan dengan tampangnya yang serius.
"Apa kamu sudah selesai berbicara? Kalau sudah selesai, kamu boleh pergi!" Usir Rea yang mulai malas ketika ia mendengar gombalan Stevan. Sepertinya laki-laki ini sangat pandai menggoda wanita, lihat saja cara bicaranya, benar-benar seperti pemain. Namun, Rea belum tahu saja, jika ini adalah kali pertamanya Stevan berkata seperti itu. Karena selama ini, Stevan sama sekali tidak pernah menggoda wanita manapun, kecuali dirinya.
"Kamu mengusirku?" Stevan mengernyitkan keningnya, ia menatap Rea dengan lekat. "Baiklah, aku akan pergi, tapi nanti aku akan datang lagi ke sini. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat masalalumu, karena itu akan menyakiti dirimu sendiri. Mengerti." Ucap Stevan seraya mengusap puncak kepala Rea dengan lembut. Setelah itu ia pun berbalik dan berjalan melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Rea sendirian.
__ADS_1
Bersambung.