
"Apa? Cahaya Mentari? Maksudnya, Cahaya yang ada di luar itu?" tanya Darsih tak percaya.
"Iya, Bu, dialah anak dari korban pembunuhan dua puluh dua tahun yang lalu." Davin mengangguk pelan.
Darsih menutup mulutnya tak percaya. Rupanya, gadis kecil yang imut dan lucu bernama Mentari itu tak lain adalah Cahaya.
"Kasihan sekali dia."
"Ya, Bu, makanya, saya mohon kepada ibu dan juga Reno, tolong ikhlaskan Cahaya pergi bersama saya. Biarlah saya yang membahagiakannya dengan cara saya sendiri. Saya sangat berterima kasih karena Ibu mau menceritakan tentang rahasia yang selama ini Ibu tutupi."
"Iya, maafkan saya juga yang seperti sulit melepaskan Cahaya pergi dari sini. Tapi, jika itu yang terbaik untuknya, saya tidak akan menghalangi. Saya akan memberi pengertian kepada Reno agar mengikhlaskan Cahaya. Tapi, saya minta tolong agar nama saya tidak disebut. Saya sudah berusaha mati-matian agar kami tidak terlibat di dalamnya." Darsih menatap penuh harap. Terlihat raut wajah penuh kekhawatiran. Takut jika mereka ikut terbawa-bawa dalam kasus pembunuhan yang belum selesai itu.
__ADS_1
"Ibu tenang saja, saya tidak akan pernah menyebutkan nama ibu. Makanya, saya akan segera membawa Cahaya pulang agar tidak ada yang menemukannya di sini."
Darsih pun mengingat tentang pria berjas yang menanyakan tentang Cahaya.
"Oh ya, saat Cahaya baru pindah ke tempat ini, ada beberapa orang berpakaian rapi seperti mu datang kemari. Apakah itu adalah orang-orang suruhan mu?"
Davin mengernyitkan dahinya. Dia dan para anak buahnya baru kali ini datang ke kampung ini. 'Pasti yang datang adalah orang yang mengirimiku foto Cahaya,' batinnya.
Dia pun segera pamit dari rumah itu. Begitu juga dengan Cahaya yang berpelukan dengannya sambil menangis.
"Terima kasih, ya, Bu, selama ini telah baik sama saya. Maafkan saya karena belum bisa mewujudkan keinginan ibu."
__ADS_1
'Belum bisa? Kenapa dia tidak mengatakan 'tidak bisa' saja? Kalau belum bisa, berarti dia sedang menunggu aku menjadi almarhum, begitu?' batin Davin dengan perasaan kesal.
Padahal, yang dimaksud Cahaya dengan ucapan belum bisa mewujudkan keinginan Darsih adalah rencana mereka yang ingin melakukan pengusiran roh di rumah kontrakan yang ditempati Cahaya. Karena saat Cahaya baru beberapa hari tinggal di sana, dia sering mendengar wanita yang menangis tengah malam dan juga langkah kaki di dapur di jam yang sama. Dan hal itu masih terjadi sampai sekarang. Karena itu, Cahaya berencana mencari dukun yang akan membantu mereka melakukan pengusiran roh di rumah itu.
Kalau Cahaya sendiri yang memang berani, dia tidak masalah tinggal bersama roh itu asalkan dia tidak diganggu dengan wujud yang menyeramkan. Belasan tahun tinggal di dalam gudang rumah bibinya membuatnya sudah terbiasa mendengar hal-hal mistis. Bahkan beberapa kali dia pernah melihat wanita bergaun putih terbang di langit-langit gudang itu.
Mereka pun segera mengendarai mobil untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Davin terlihat hanya diam saja. Cahaya hanya berpikir bahwa sang suami sedang lelah sehingga tidak memperdulikan diamnya Davin.
Sedangkan di sisi lain, Darsih sedang menghibur Reno yang patah hati dikarenakan Cahaya tidak bisa dimiliki olehnya.
Dan bertepatan dengan itu, Silvi pun datang dan membawakan kue pesanan Reno untuk Cahaya. Namun, kesedihan Reno membuatnya tidak jadi pulang begitu saja. Dia memaki Reno habis-habisan karena tidak mencari tahu asal-usul Cahaya. Namun, dia juga bersedih karena sahabatnya patah hati malam ini. Dia pun mencoba untuk menghiburnya hingga Darsih pun menyadari bahwa yang dibutuhkan anaknya bukanlah Cahaya, melainkan Silvi yang jelas mengetahui segalanya tentang Reno.
__ADS_1